
Gion tertunduk diam mendengar pertanyaan Daddynya.
"Baiklah...."
"Daddy tidak akan menanyakan pertanyaan itu lagi. Lebih baik kita mandi saja sebelum turun ke bawah." ucap Stevenson menatap wajah termenung istrinya.
"Sayang turunlah kebawah! jangan melamun! hari masih siang!" nasihat Stevenson dengan tegas. Ia lalu menggendong putranya berlalu masuk ke kamar mandi.
Sherina terdiam lama mendengar nasihat suaminya. Ia mengalihkan pandangannya ke sebelahnya, dan berkata pelan. "Apa kau benar-benar datang kesini?Mommy dan Daddy akan memakamkan mu di mansion klan king. Agar kau merasa tenang." ucap Sherina berdiri dari duduknya. Ia lalu melangkah keluar kamar setelah menyiapkan pakaian baru untuk suami dan putranya.
#
#
Di meja makan
Beberapa menu makanan sudah tersaji di atas meja makan. Beberapa pelayan juga siap siaga berjaga-jaga 2 meter dari meja makan.
"Siang Ma, Pa" sapa Sherina mendudukan bokongnya di atas kursi.
"Siang sayang...." sahut Meyer dan Dena bersamaan. Wanita paruh baya itu dengan telaten meletakkan beberapa menu makanan kesukaan suaminya di hadapannya.
"Dimana suami dan putra mu?" tanya Meyer memperhatikan sekilas ke arah putrinya.
"Mereka masih mandi Pa." jawab Sherina menatap lama pie daging yang di sajikan ibunya.
"Ma, Pa, sepertinya kami minta ijin kembali ke California. Mama dan Papa mertua menyuruh kami berkumpul di mansion klan king." ujar Sherina menatap kedua orangtuanya secara bergantian.
Meyer menyeritkan dahinya mendengar perkataan putrinya. "Bukankah dari California ke mansion klan king jauh? mengapa kalian kembali ke California dulu?" tanya Meyer menatap wajah putrinya.
"Kami ingin memakamkan tanah kembaran Gion. Agar Ia bisa tenang di alam sana." lirih Sherina menundukkan kepalanya.
"Yeah.... Sherina baik-baik saja Ma, Pa." sahut Sherina.
"Baiklah Mama dan Papa tidak akan menghalang-halangi rencana kalian. Bagaimanapun ayah dan ibu mertuamu Lebih berhak atas kamu dan Gion. Apa lagi kalian sudah lima tahun menikah, dan belum pernah sama sekali datang berkunjung kesana." ujar Dena tersenyum hangat menatap kearah putrinya.
Tak beberapa lama Stevenson dan Gion melangkah menuju meja makan. Wajah keduanya sudah terlihat lebih fresh.
"Maaf kamu lama...." ujar Stevenson mengecup kepala istrinya, lalu mendudukkan bokongnya di atas kursi. Sementara Gion duduk di pangkuannya.
"Yes!!! makanan kesukaan Gion ada!!" ucapnya nyaring. Saat Gion mengulurkan tangannya ingin mengambil pie daging sapi itu, tiba-tiba tangan mungil seseorang menepuk tangannya.
"Huss! jorok!" tegur anak kecil itu menatap angkuh wajah Gion.
Gion terdiam lama menatap pie daging itu, lalu mengalihkan pandangannya menatap wajah gadis mungil di depannya. Sekarang sudah ada Oma, Opa, Daddy dan Mommynya pikirnya. Untuk apa lagi Ia takut melihat sosok itu pikirnya.
"Cih!" kesalnya menghiraukan perkataan anak kecil itu. Gion mengambil langsung pie sapi kesukaannya. Perkataan Sherina menghentikan gerakan tangannya saat Gion ingin memasukkan pie itu ke dalam mulutnya.
"Sayang jangan lupa berdoa dulu sebelum makan...." nasehat Sherina menatap wajah tampan putranya.
Gion cemberut mendengar teguran Mommy dan anak kecil itu. Tanpa menolak nasihat Mommynya, Gion lalu berdoa sebelum memasukkan pie itu ke dalam mulutnya.
Dena, Meyer dan juga Stevenson tersenyum kecil melihat tingkah Gion.
Drettt drettt drettt
Dering panggilan masuk ke ponsel Meyer mengalihkan pandangan mereka. Meyer terdiam lama melihat nama si pemanggil.
...***Bersambung***...