
Steven mengangkat tubuh istrinya dan melingkarkan kaki Livia di pinggangnya. Pria itu menautkan bibir mereka dan mencium rakus bibir merah muda Livia.
"Perasaan ini tetap sama."
"Perasaan ini tidak bisa berbohong." gumam Steven dalam hati sembari menikmati ciuman mereka. Meskipun ciuman istrinya terasa kaku namun Steven tidak bisa menutup mata, hati dan perasaannya. Bahwa hanya ciuman dan sentuhan wanita itulah yang bisa menggetarkan hatinya.
Sementara Robert dan Jesica mengambil beberapa gambar dari adegan mesra itu, lalu mengirimkannya ke nomor seseorang yang sudah terdaftar di kontak mereka.
Mereka tersenyum kecil menatap adegan mesra sepasang suami-istri itu.
Saat Robert membalikkan tubuhnya, tanpa sengaja pandangannya dan dr Jesica bertemu sehingga membuat wajah mereka berubah menjadi merah merona. Mereka sama-sama malu karena sama-sama ketahuan mengintip adegan mesra Steven dan Livia.
Jesica langsung berlalu masuk ke dalam rumah menyembunyikan wajah dan perasaan anehnya. Sementara Robert menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah malu-malu kucing putri seniornya itu.
Robert merupakan salah satu anggota klan king yang dijadikan sebagai asisten kepercayaan Steven. Mereka sedari kecil tumbuh bersama dengan didikan keras Greyson. Robert hanyalah keturunan anggota klan king yang tewas beberapa puluh tahun silam.
Robert lalu melangkah kearah pohon kelapa mencari tempat berteduh. Ia tidak mungkin masuk ke dalam rumah tanpa mengawasi lokasi sekitar. Ia juga harus memantau tuan dan nona mudanya dari jarak beberapa meter.
#
#
Steven semakin memperdalam ciuman mereka sembari melangkah menuju air laut. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya ciuman di dalam air laut. Namun saat Steven merasakan istrinya terbawah suasana dengan ciuman mereka. Dengan pelan Steven melemparkan tubuh istrinya ke dalam air. Apa lagi tangan Livia sudah tidak melingkar di lehernya sehingga mempermudah rencananya.
Tiba-tiba....
Byur
Steven melemparkan tubuh Livia ke dalam air.
"Hahahaha!!"
Steven tertawa terbahak-bahak melihat wajah kusut istrinya sehabis kena air laut.
Dengan sekuat tenaga Livia menarik pergelangan tangan Steven sehingga pria itu juga ikut terjatuh ke dalam air laut.
"Hahahaha!!"
Steven tersenyum kecil melihat wajah ceria istrinya. Wajah wanita itu terlihat lebih hidup dibandingkan sebelumnya.
Steven berdiri dari air laut setinggi pinggangnya, lalu pria itu melangkah mendekati Istrinya.
"Apa kamu bahagia?" tanya Steven tiba-tiba menatap dalam bola mata istrinya.
"Tentu.... Ketimbang sebelumnya saat di helikopter." dengus Livia masih terngiang-ngiang dengan kejadian tadi.
"Apa istriku sedang cemburu?" tanya Steven tersenyum kecil menatap wajah kesal istrinya.
Livia langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, saat mendengar pertanyaan Steven. Ia malu mengakui seberapa cemburunya wanita itu dengan kejadian tadi di helikopter.
"Hahaha!!"
Steven lagi-lagi tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi malu-malu kucing istrinya.
Steven menarik tubuh basah istrinya ke dalam dekapannya. Ia merasa hidupnya sedikit lebih berwarna dari sebelumnya.
Steven berharap ingatan istrinya tidak usah kembali untuk selamanya. Karena Ia berharap bisa menikmati moment seperti ini setiap hari. Bolehkah Ia egois untuk kali ini.
Livia merasa nyaman berada di dekapan Steven, dekapan ternyata yang pernah Ia rasakan selain Daddynya mungkin.
"Mengapa aku merasa dekapan ini sangat familiar?" batin Livia memejamkan matanya menikmati dekapan ternyaman dari tubuh Steven.
"Aku mencintaimu Steven...." lirih Livia tiba-tiba membuka matanya.
"Mengapa perkataan itu keluar spontan dari mulutku?" batinnya menyeritkan keningnya.
...***Bersambung***...