
Di Bandara
Alexa menyeret koper kecilnya masuk ke dalam pesawat terbang yang Ia tumpangi. Ia menghela nafas lega setelah mendudukkan bokongnya.
"Butuh beberapa puluh jam tiba di mansion klan king!" batinnya menatap keluar jendela pesawat. Alexa kemudian memasang handset ke telinganya setelah mengaktifkan mode pesawat di ponselnya. Alexa lalu memejamkan kedua matanya saat pesawat mulai lepas landas meninggalkan bandara San Fransisco California.
#
#
Di Pulau terpencil
Tut Tut Tut
[Hallo Tuan]
"Carikan informasi lebih detail mengenai lima tahun yang lalu setelah kepergiaan ku ke Inggris!"perintah Steven kepada Derik Robert. Steven lalu mengakhiri panggilannya tanpa menunggu jawaban Robert. Ia kemudian turun dari ranjang dan meletakkan ponselnya di atas nakas.
Steven melangkah mendekati istrinya setelah dua jam lebih Livia duduk termenung di balkon.
"Apa berada di dekatku terasa membosankan sehingga kau lebih nyaman duduk melamun diluar selama berjam-jam?" ujar Steven mendudukkan bokongnya di samping kursi yang di duduki istrinya.
Ia sedari tadi terus-menerus mengamati ekspresi wajah berubah-ubah istrinya. Terkadang Livia terlihat sedih, terkadang ekspresinya berubah seperti seseorang yang sedang mencoba mengingat-ingat sesuatu.
Livia lalu menatap dalam wajah tampan Steven. Ia termenung lama mencoba mengingat-ingat sesuatu mengenai masa lalu.
"Apa kita dulu menikah muda?" tanya Livia menatap dalam wajah Steven. Ia ingin mencari tahu apakah suaminya menyembunyikan sesuatu atau tidak darinya.
"Hem...."
"Ya.... Kita menikah setelah kita sama-sama jatuh cinta saat kita kuliah di kampus yang sama." ucap Steven menyembunyikan kenyataan sebenarnya dari Livia.
"Cukup satu kali aku melakukan kesalahan dimasa lalu. Tidak untuk kali ini!" monolognya di dalam hati menatap dalam wajah putih bersih istrinya.
Steven lalu mengenggam kedua tangan Livia dan menata dalam mata hitam wanita itu.
"Disini!" sambung Steven meletakkan telapak tangan Livia di dadanya.
"Namamu tertulis jelas sejak lima tahun yang lalu." ujar Steven tersenyum tipis menatap wajah merona Livia.
Livia bisa merasakan detak jantung suaminya berdetak dua kali lipat lebih cepat dibandingkan detak jantung orang normal biasanya.
"Ta-tapi aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari ingatanku! aku merasa nyaman dan tenang bersamamu! ta-tapi aku merasa masih ada yang kurang! aku merasa tidak lengkap. A-ku merasa kita melupakan sesuatu." lirih Livia menekan rasa sesak di dadanya. Livia lalu melepaskan genggaman suaminya. Ia meletakkan telapak tangannya di dadanya. Livia berusaha mengembalikan ingatannya yang hilang.
"Disini...."
"Disini terasa sesak!" ucapnya meneteskan air matanya.
"Ap-apa aku pernah mengandung? aku merasa aku pernah melahirkan sebelumnya!"
"Ap-apa kita dulu memiliki bayi?" tanya Livia mengenggam kedua tangan Steven memastikan rasa penasarannya.
Sementara Steven terkejut mendengar pertanyaan Livia. Pria itu juga tidak tahu harus menjawab apa, karena selama ini mereka tinggal berjauhan dan lost contact selamat lima tahun.
"Sepertinya aku benar-benar melewatkan sesuatu!" monolog Steven dalam hati.
Livia melepaskan genggamannya saat melihat wajah bingung dan sekaligus terkejut suaminya.
"Apa aku yang terlalu berpikir kejauhan?" lirihnya menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
"Ta-tapi mengapa aku merasa masih ada yang hilang dan kurang di hidupku!"
"At-atau kita selama ini tidak pernah menikah? ta-tapi kemungkinan kita hanya menjalin kasih? atau bahkan kita tidak pernah pacaran dan hanya kebetulan kita kuliah di kampus yang sama?" tanya Livia beruntun berdiri dari duduknya.
Deg
...***Bersambung***...