
"Apa maksud mu?" tanya Steven menyeritkan keningnya.
"Apa kau pura-pura amnesia sehingga dengan mudahnya kau melupakan perkataan mu lima tahun lalu?" sinis Livia
"Aku akan mengulangi perkataan mu lima tahun lalu!!"
"Aku hanya ingin membalaskan dendam ku pada keturunan penghianat itu! agar dia tahu bagaimana rasanya dikhianati. Apa yang akan pria itu lakukan saat melihat kekasihnya sudah tidur dengan pria lain."
"Apa karena alasan itu kau mendekati ku lima tahun yang lalu?"
"Membalas dendam kepada keluarga Haykal dengan cara mendekatiku dan mengambil hatiku?"
Deg
Jantung Steven berdetak kencang mendengar perkataan istrinya.
"Apa kau jadi datang dan masuk ke bangunan penthouse ku lima tahun yang lalu?" tanya Steven dengan suara pelan.
Livia berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar dari sudut matanya.
"Ya! lima tahun lalu aku langsung datang setelah kau menghubungi ku!" jujur Livia dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi aku hanya wanita yang kau jadikan sebagai jalur balas dendam mu?"
"Livia itu tidak seperti yang--"
"Stop!! aku tidak mau mendengar penjelasan apapun dari mulut mu!! aku mau kau menjauh dari hidupku! go away!!" teriak Livia dengan tubuh gemetaran.
Steven menahan pergelangan tangan Livia saat istrinya mau melangkah keluar dari penthouse miliknya.
"Ma-maafkan aku! tidak bisakah kita memulai semua dari awal?" tanya Steven merendah. Ia belum pernah memohon kepada siapapun selain kepada Livia.
Di kepala Livia masih terngiang-ngiang perkataan menyakitkan yang keluar dari mulut pria yang diam-diam Ia cintai di masa lalu.
"Apa dengan melihat ke masa lalu semuanya akan berubah menjadi lebih baik?"
"Setidaknya aku bersyukur dengan kejadian masa lalu, aku bisa memiliki mu seutuhnya." ucap Steven mengenggam lembut pergelangan tangan Livia.
Livia menghempaskan tangan Steven
"Tapi rasa sakit yang kau torehkan di hatiku tidak akan sembuh semudah itu! luka yang terbuka lebar ini--" tunjuk Livia ke hatinya
"Dan ingatan ini--" tunjuk Livia lagi ke pelipisnya sebelum kanan.
"Apa kau tahu apa yang ku alami selama lima tahun ini?"
"Apa kau tahu seberapa tertekannya aku mengandung benih haram milikmu?"
Deg
Steven terkejut mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Livia.
"Apa maksud mu?" tanya Steven menatap tajam sorotan kebencian di kedua mata istrinya.
"Saat itu aku sedang mengandung! aku hamil! pada awalnya aku sangat bahagia, kau menyuruhku datang ke penthouse mu. Meskipun ketakutan itu masih dapat kurasakan. Aku memberanikan diri datang ke sana agar kau mau bertanggung jawab atas kehamilanku. Ta-tapi--"
"Perkataan mu dihari itu membuatku mengurungkan niatku!"
"Livia, ma-maafkan aku! aku benar-benar tidak tahu mengenai kehamilan mu! aku--"
"Kalaupun kau tahu! kau tidak akan mau bertanggung jawab! karena aku hanyalah wanita yang kau jadikan sebagai jalur balas dendam mu kepada Haykal!"
"Betapa menyedihkannya putraku memiliki ayah memuakkan seperti mu!!"
Livia menatap Steven dengan sorotan mata penuh kebencian.
"Apa kau juga tidak merasa bersalah? aku melihat mu dipeluk Haykal saat berada di jalan trotoar di dekat penthouse milikku. Kejadian itu aku lihat sebelum berangkat ke bandara melanjutkan studiku di Inggris."
"Mengapa kau tidak memberitahu ku mengenai kehamilanmu!!" sambung Steven berteriak sembari mencengkeram kedua bahu istrinya.
"Dimana putraku sekarang? apa benar aku sudah memiliki seorang putra?" sambung Steven menatap dalam kedua mata istrinya mencari-cari kebohongan di dalam sana.
Livia langsung melepaskan tangan Steven dari bahunya.
"Aku sudah menjualnya!" sinis Livia
"Apa!!!"
Plak
"Apa kau serius dengan perkataan mu!!" teriak Steven emosi tanpa sengaja menampar pipi Livia di sebelah kiri.
...***Bersambung***...