IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Extra Part 23



"Apa kau memang benar-benar seorang penguntit! Mengapa kau terus-menerus mengikuti ku!"ketus Amore berdecak kesal. Amore berusaha menyembunyikannya ketakutannya. Ia mengira bayangan yang sedari tadi mengikutinya adalah hantu. Ternyata oh ternyata penguntit yang selama ini mengikutinya lagi-lagi mengikutinya.


"Anda terlalu percaya diri, Nona. Saya hanya ingin kembali ke rumah saya!" tandas pria itu dengan tegas melewati Amore begitu saja.


Amore pada akhirnya melanjutkan langkahnya dari jarak 3 meter dari pria itu. Ia ingin memastikan apakah perkataan pria itu benar atau hanya bualan semata.


Pria itu terlihat melangkah membelok ke arah sebuah rumah yang ada di seberang kediamannya. Dan itu menandakan bahwa mereka merupakan tetangga. Amore benar-benar tidak menyangka jika pria itu tetangganya. Amore jadi malu memfitnah pria itu sebagai penguntit.


"Amoreeee! Kau terlalu percaya diri menuduh pria itu sedang mengikuti mu!" jerit Amore dalam hati.


Amore mempercepat langkahnya hingga tiba di rumah. Ia malu membalikkan tubuhnya menatap kearah kediaman tetangganya. Syukur saja Amore tidak jadi melaporkan pria itu ke polisi. Jika tidak, bisa-bisa pria itu menjebloskannya ke penjara atas pasal pencemaran nama baik.


Saat masuk ke dalam rumah. Amore belum melihat keberadaan kakaknya. Hingga membuat gadis itu bernapas lega. Ia dengan cepat melangkah ke kamar dan membersihkan tubuhnya yang sudah sangat berkeringat.


Sementara disisi lain, seorang pemuda tersenyum lebar setelah bertemu dengan pujaan hatinya. Meskipun sang pujaan hati tidak mengingatnya. Maka pria itu yang akan membuat wanitanya mengingatnya.


Terutama mengingatkan gadis itu akan perasaan cintanya yang sudah lama tumbuh subur di hati mereka.


Di Hotel Royal


Arabella masih bekerja menyiapkan segala keperluan atasannya. Atasannya memutuskan menginap di hotel selama beberapa hari ke depan setelah tadi makan malam bersama kedua orang tuanya.


"Ara! Apa kau membawa dokumen yang aku minta?" tanya Gion sembari menanggalkan jas yang membungkus tubuhnya.


"Bawa, Tuan." jawab Arabella menyerahkan sebuah dokumen berwarna coklat kepada Gion.


Gion membuka dokumen itu dan mengeluarkan sebuah proposal. Ia terlihat membaca proposal itu hingga beberapa menit.


Sementara Arabella masih berdiri di posisinya sembari menunggu instruksi dari atasannya. Meskipun sedari tadi siang Arabella harus menahan keram di perutnya karena datang bulan.


"Baik, Tuan. Saya pamit undur diri."


Arabella lalu membalikkan tubuhnya melangkah keluar dari ruangan tamu kamar hotel yang di ditinggali Gion.


Tak beberapa lama setelah kepergian Gion seorang pria masuk ke dalam kamarnya.


"Tuan, saya sudah mendapatkan beberapa helai dari rambut gadis itu." kata pria itu dengan cepat.


"Apa benar kau yang mengambilnya? Atau kau disogok seseorang untuk menggantikan misi yang kuberikan padamu!" sahut Gion dengan suara datar dan mata tajam menatap pria itu yang gemetaran.


"Bukan hanya itu, hanya untuk mendapatkan beberapa helai rambut kau harus menghabiskan waktu selama dua Minggu!" lanjut Gion semakin mempertajam tatapannya hingga membuat tubuh pria itu langsung berlutut di lantai.


"Tuan, saya tidak bisa menolak keinginan Tuan G."


"Cih! Bagaimana jika pria itu mencoba memanipulasi mu! Termasuk memanipulasi helai rambut yang kau terima!" ujar Gion lagi berdecak kesal.


"Tidak mungkin Tuan muda! Tuan G sangat merindukan kekasih masa remajanya. Mana mungkin dia melakukan hal kotor dan menghancurkan harapan keluarga besar Anda." ucap pria itu penuh keyakinan.


"Ckckck! Aku suka perkataan mu!"


Gion lalu mencabut beberapa helai rambutnya dan memasukkan nya ke dalam plastik klip kecil. Pria itu lalu menyerahkannya kepada bawahannya.


"Segera lakukan tes DNA ke rumah sakit dokter keluarga ku! Aku hanya memberikan mu waktu beberapa hari ke depan. Jangan sampai ada yang mengetahuinya kecuali kau dan aku!" ucap Gion dengan tegas dan penuh peringatan.


"Cih aku sampai kecolongan tindakan pria brengsek itu." gumam Gion berdecak kesal.


"Baik Tuan muda." jawab pria itu. Ia cukup tahu mengapa tuannya begitu tidak menyukai Tuan G.