
Di parkiran
Stevenson melepas rangkulannya di pundak Rachel.
"Sorry Ra. Jangan salah paham. Aku hanya ingin keluar dari ruangan kelas secepatnya." ujar Stevenson melanjutkan langkahnya meninggalkan Rachel.
Rachel mengejar langkah Stevenson. "Apa kau mengenal gadis itu?" tanya Rachel pemasaran.
"Kami teman sekelas." ujar Stevenson
Rachel mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Stevenson. "Apa kau punya waktu luang hari ini?" tanya Rachel menghentikan langkah Stevenson.
"Hari ini aku mau memeriksa kinerja hotel Royal." ujar Stevenson melanjutkan langkahnya.
"Cih.... Pria kaku itu selalu seperti itu!" kesal Rachel menatap kepergian mobil yang di kendarai Stevenson.
#
Di restoran
Sherin bekerja seperti biasanya, gadis itu kesana kemari mengantarkan pesanan para pelanggan. Gadis itu berusaha menyembunyikan rasa lelah dan patah hati yang melingkupi hatinya.
Sementara Stevenson menatap wajah lelah Sherin dari luar cafe. Pria itu sedari tadi sudah ada di luar cafe SM miliki Sherina. Berjam-jam pria itu memarkirkan mobilnya di parkiran cafe SM hanya untuk melihat aktivitas Sherina. Pria itu terlalu gengsi menunjukkan wajah ataupun perasaannya.
Pria itu sebenarnya merindukan Sherina, karena setelah kepindahan mereka. Keluarga Sherina juga sudah tidak tinggal lagi di rumah itu.
#
#
Malam hari
"Ah...."
Sherina menghela napas mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya. Ia menatap catatan keuangan cafe miliknya di atas meja kerjanya.
"Lumayan juga pemasukan hari ini." ujarnya tersenyum senang.
Sherina cukup bangga dengan pencapaiannya tanpa campuran tangan keluarganya lagi. Gadis itu kemudian membereskan barang-barangnya setelah memeriksa stok persediaan dapur cafe miliknya.
"Jenny...." panggil Sherina kepada asisten kepercayaannya.
"Iya Nona?" sahut Jenny menghampiri Sherina
"Kau pulang dengan siapa?" tanya Sherin menatap asistennya.
"Saya pulang sendirian dengan berjalan kaki Nona." Ucap Jenny pelan
"Ayo pulang sama-sama. Aku akan mengantarmu sampai depan rumahmu." ujar Sherin
"Baik Nona." sahut Jenny mengambil catatan dan uang belanja persediaan yang di serahkan atasannya.
#
#
Di luar Cafe
Stevenson melihat lampu cafe SM sudah mulai di padamkan. Ia menghidupkan mobilnya dan keluar dari parkiran. Tak beberapa lama Sherin dan Jenny keluar dari cafe dan berjalan menuju parkiran.
Stevenson mengehentikan mobilnya di pinggir jalan menunggu mobil yang di kemudikan Sherin melintas. Tak beberapa lama mobil Sherin melintas di samping mobilnya. Pria itu bergegas mengikuti mobil Sherin dari jarak 3 meter.
Berbulan-bulan Stevenson melakukan hal yang sama tanpa ada niat sedikitpun menyapa ataupun berinteraksi dengan Sherin.
Pada bulan Desember, saat Sherina merayakan hari Natal di cafenya bersama pegawai lainnya. Ia menatap keluar cafe hingga pandangannya terpaku dengan keberadaan Stevenson. Gadis itu melihat Stevenson berdiri di pinggir jalan dan menatap ke dalam cafe SM.
"Kalian nikmati saja makanan yang sudah tersedia di atas meja. Saya mau keluar sebentar menemui seorang teman." ujar Sherin bergegas keluar dari cafe.
Gadis itu mengejar langkah Stevenson saat pria itu berniat melangkah menuju mobilnya.
"Apa kau memiliki waktu luang?" tanya Sherin menetralkan degup jantungnya.
Stevenson diam tidak bergeming mendengar pertanyaan Sherin.
Sherin melangkah mendekati Stevenson dan menarik tangan pria itu masuk ke dalam cafe miliknya. Sementara Stevenson hanya pasrah dan mengikuti Sherina.
Pegawai wanita menatap Stevenson dengan tatapan penuh dambaan.
"Sherina, siapa pria ini? apa dia kekasihmu?" tanya Emily salah satu pegawai Sherin.
Sherin hanya membalas pertanyaan Emily dengan senyuman tipis.
"Duduklah Ney. Apa kau sudah makan?" tanya Sherin menatap wajah tampan Stevenson.
"Diammu ku anggap belum." sambung Sherin. Gadis itu lalu menyajikan spaghetti toping keju mozzarella di depan Stevenson. Tak hanya itu Sherin juga menyajikan Lancashire hot pot yang dibuatnya sendiri.
"Makanlah Ney." ujar Sherin mendudukan bokongnya di kursi samping Stevenson.
"Kata beberapa pegawai cafe ini Lancashire hot pot merupakan salah satu menu natal yang biasa orang-orang Inggris sajikan." sambung Sherin.
Gadis itu menatap wajah Stevenson penuh cinta. Meskipun gadis itu sering melihat Stevenson dan Rachel jalan bersama. Entah mengapa hatinya tetap luluh saat melihat Stevenson ada di dekatnya.
Stevenson menikmati makanan yang di berikan Sherina. Sebenarnya pria itu juga berniat mengajak Sherin keluar malam ini. Namun saat melihat gadis itu juga sedang merayakan malam Natal bersama karyawannya. Stevenson memutuskan kembali ke Apertemennya. Namun pertanyaan dan tawaran Sherina membuatnya mengurungkan niatnya.
......***Bersambung***......