
Sepertinya suamimu minta di manja-manja Kakak ipar." bisik Alexa membuat wajah Livia berubah merah.
"Baiklah... kami berangkat dulu.... jaga diri kalian baik-baik." kata Alexa setelah melepas rindu memeluk kedua orangtuanya.
"Kami pergi dulu, Papa dan Mama mertua." sambung Alexa memeluk Theresia.
"Jaga diri kalian disana, Nak. Kalau ada masalah diselesaikan dengan kepala dingin."nasehat Theresia mengelus kepala menantunya.
Sementara Rain tersenyum hangat menatap Alexa dan putranya secara bergantian. Ia merasa putranya beruntung mendapatkan Alexa menjadi pendamping hidupnya. Rain berharap rumah tangga putra dan menantunya langgeng sampai akhir hayat mereka.
Alexa dan Paskal kemudian masuk ke dalam jet pribadi setelah berpamitan kepada semua keluarga mereka.
"Bye.... see you next time..." teriak Alexa melambaikan tangannya dari kaca pesawat.
Semua keluarganya membalas lambaian tangan Alexa dengan pipi dibanjiri air mata.
"Kami pasti merindukan mu, sayang...."
Greyson merangkul bahu istrinya dari samping, saat mendengar sekilas ucapan lirih Stevi.
Mereka seakan tidak rela melepaskan kepergian Alexa dan Paskal.
Mereka menatap jet pribadi keluarga Douglas yang mulai lepas landas. Sementara Steven, Livia, Stevi, Greyson, Rain, Theresia, Jack dan ribuan anggota klan king menatap jet pribadi itu mulai menjauh dari penglihatan mereka.
Theresia tidak mampu membendung air matanya melihat kepergian putranya. Untuk pertama kalinya mereka melepaskan Paskal pergi jauh dari rumah demi masa depan putra dan menantunya. Ia berharap Paskal mampu menjadi kepala rumah tangga untuk keluarga barunya di masa depannya.
"Sudahlah.... doakan keluarga putra dan menantu kita selalu diberkati Tuhan." ujar Rain menenangkan Theresia.
"Son, bawa istrimu masuk ke dalam. Jangan sampai menantuku kenapa-napa."seru Greyson menatap putranya.
"Ingat istrimu sedang hamil, jangan membuatnya terus begadang." timpal Greyson menatap tajam kearah putranya.
"Kemana kedua putramu?" tanya Greyson lalu mencari-cari keberadaan Gion dan Albiano.
Steven dan Livia mengitari halaman tapi tidak menemukan keberadaan Gion dan Albiano.
"Sepertinya mereka ada di kamar." seru Steven tidak mau berpikir yang aneh-aneh.
Mereka kemudian masuk ke dalam mansion, sekaligus memastikan keberadaan Gion dan Albiano. Diikuti oleh Greyson dan Stevi. Sementara Rain, Theresia dan Jack berlalu ke mansion belakang.
#
#
Di Kandang Cheetah
Gionino tersenyum lebar melihat cheetah kesayangan Greyson. Ia merasa cheetah itu menyuruhnya mendekat kearah kandangnya. Dengan cepat Gion melangkah mendekati kandang Cheetah itu. Sementara penjaga kandang cheetah kesayangan Greyson masih ada di tempat penyimpanan daging.
Penjaga itu belum menyadari keberadaan Albiano dan Gionino. Karena terlalu serius memilah-milah daging mentah yang baru saja di masukkan ke dalam freezer.
Penjaga itu terkejut, ketika melihat Albiano dan Gionino sudah masuk ke dalam kandang cheetah kesayangan Greyson.
"Tuan kecil! mengapa kalian masuk ke sini? nanti saya bisa di marahi tuan besar. Sekarang kalian keluar dari sana. Cheetah itu bisa marah dan menerkam kalian." ujar penjaga itu melangkah cepat-cepat mendekati Gion dan Albiano.
"Stop! kami hanya mau bermain dengan cheetah itu! bukankah cheetah itu terlihat mengemaskan." seru Gion penuh percaya diri.
"Apa kau sependapat denganku?" tanya Gion menatap Albiano.
"Itu menurutmu bang. Tapi menurutku tatapan cheetah itu sedikit menyeramkan." jawab Albiano sedikit menjaga jarak dari kandang cheetah.
"Apa kalian tidak takut tuan besar marah kepada kalian. Cheetah itu tidak senang kalau orang asing menyentuhnya."kata penjaga itu penuh peringatan.
...***Bersambung***...