
Di Lab Penelitian Klan King
Dean yang sudah melihat Greyson berlalu dari lab itu langsung melangkah ke-arah dokter muda itu. Dia menunggu para ilmuwan kembali ke aktivitas masing-masing. Dia mencengkram kuat tangan kanan dokter itu untuk menahan langkah-nya “Kau tahu apa yang aku lihat saat aku memasuki mesin waktu itu” ujar Dean menatap dingin dokter muda itu.
“Aku merasa… Jika aku tidak menghentikan rencana-mu dari sekarang, kurasa kau akan menjadi malapetaka bagi Klan King” serunya lagi menatap tajam dokter muda itu
“Denada Wilims….” Semirik-nya menatap tajam dokter muda itu
“Apa kau tidak tahu selama ini aku tahu penyamaran-mu..” serunya dingin membuat jantung Dena berdetak dua kali lipat dari biasa-nya. Dena merasa khawatir dan takut dengan apa yang akan Dean lakukan pada-nya. Bagaimanapun dia harus tetap melanjutkan rencana-nya, dia harus mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Apa maksud-mu? Kau bisa bertanya kepada yang lain, namaku bukan Denada Wilims tapi Olivia Raulse” ujarnya menatap angkuh Dean. Dia berusaha menyembunyikan rasa gelisahnya. Tatapan Dean yang sangat menusuk membuat tubuhnya merinding. Dia merasa heran dan bertanya-tanya memang apa yang di lihat Dean di dalam sana pikirnya.
“Udah bagus-bagus orangtuaku memberi nama-ku. Kau ganti-ganti pula dengan nama jelek itu” ujarnya jutek untuk lebih menyakinkan Dean
“Cih.. Kau pikir aku bisa dibohongi! Aku tahu seseorang menyelundupkan-mu ikut masuk ke dalam mansion Klan King. Kau bukanlah Olivia Raulse yang sebenarnya. Aku akan membuktikan itu. Ketika itu terbukti aku sendiri yang akan menghancurkan-mu” serunya kemudian berlalu dari sana menahan emosi-nya.
“Sial.. Mengapa dia bisa tahu… Aku harus secepatnya memuluskan rencana-ku” serunya sembari melangkah menuju ruangan-nya. Hati-nya bergemuruh mendengar ucapan pedas Dean.
#
#
Di ruangan Senjata
Greyson mengamati keris yang ada di tangan-nya, sudah lama sekali dia tidak menggunakan keris itu. Dia lalu meneteskan setitik darah di gagang tajam keris itu. Tak beberapa lama keris itu langsung bersinar terang. Keris itu langsung berubah menjadi burung phoenix emas. Warna emas bercahaya itu sangat memikat bila di pandang dengan teliti..
“Lama tidak bertemu, mengapa kau membuat putra-ku terpikat pada-mu” seru-nya menatap tajam kearah phoenix emas.
“Karena dia adalah bayi-mu, keturunan-mu dan darah Douglas mengalir di dalam tubuh-nya. Kau tidak bisa mengubah kenyataan dan takdir itu. Kau akan mendapatkan dua orang yang lebih kejam lagi Prince”terang phoenix emas, kemudian berubah lagi menjadi keris.
“What?” Greyson tertegun mendengar ucapan phoenix emas. Dengan cepat Greyson meletakkan keris itu di sebuah kotak besi. Dia melangkah keluar dari ruangan itu untuk menemui istri-nya. Dia sangat penasaran dengan apa yang di ucapkan phoenix emas.
#
#
“Sayang…” seru Greyson mencari-cari keberadaan istri-nya. Dia tidak melihat keberadaan istri-nya di kamar. Lalu pandanganya beralih ke-arah balkon, dia melihat sekilas tubuh istri-nya sedang berdiri di luar, mengamati senja sore yang sudah mulai perlahan tengelam di balik bukit bagian barat Cruel Ghost Forest.
“Sayang apa putra kita sudah mandi” ucap-nya basa basi melihat putra-nya sudah berganti pakaian
“Ehm.. Apa kamu mau menemani putra kita sebentar? Aku mau mandi dulu” serunya menatap hangat kedatangan suami-nya.
“Benarkah? Bagaimana kalau kita mandi bersama saja?” saran Greyson berbinar. Seketika otak mesum-nya aktif kembali, bukan hanya itu, dia juga ingin memastikan sesuatu.
“Cih.. Jangan terus berpikir mesum, sekarang jaga putra kita” tegas-nya melotot menyerahkan Steven ke dalam dekapan Greyson, Stevi kemudian melangkah ke dalam kamar mandi sembari membawa satu daster tipis untuk dikenakan-nya.
...***Bersambung****...