
Sementara Livia tidak bergeming sama sekali. Ibu satu anak itu malah ketakutan melihat kedatangan mereka.
"Sepertinya Mommy mau beristirahat. Lebih baik kita keluar saja." ujar Haykal mengangkat tubuh kecil putra Livia.
"Tundu dulu, Pi! Abi mau tulun. Abi mau tama Mami!" teriak Albiano berusaha turun dari gendongan Haykal.
Teriakan Albiano tiba-tiba menarik perhatian Livia menatap kearah Haykal dan Albiano. Ibu satu anak itu memperhatikan wajah Albiano dengan teliti. Hingga pandangannya terhenti saat melihat warna bola mata Albiano.
Albiano tersenyum lebar melihat ibunya akhirnya menatapnya. Ia mengulurkan tangannya minta di gendong Livia. Alih-alih menerima uluran tangan Albi. Livia malah membuang muka kesampaian, menghiraukan keberadaan Albiano dan Haykal.
"Hua!!"
"Mami tahat! Abi kecel!"
"Hiks hiks hiks...."
"Abi mau puang!" teriak Albiano menangis kencang.
"Abi ndak mau kec ini agi! Abi ndak mau ketemu mami agi!" teriak Albiano menenggelamkan wajahnya di dada bidang Haykal.
"Ayo tita puang, Pi." ajak Albiano sesenggukan di dada Haykal.
"Sayang.... Tenanglah, sepertinya Mommy sedang banyak pikiran." bujuk Haykal mengelus lembut punggung Albiano.
"Lihat lah Livia! Albi sangat ingin digendong oleh mu! tapi apa yang kau lakukan dan kau pikirkan! di pikiranmu hanya ada pria itu dan pria itu! ini alasanku tidak membawa Albi selama ini menjenguk mu! karena pada akhirnya, kau tidak akan memperdulikan putramu sendiri!!"" bentak Haykal menatap sinis Livia.
"Kau juga tidak pernah memberikan putra mu ASI sedari bayi! dan sekarang kau malah menolak keberadaannya!" sindir Haykal menatap tajam kearah Livia.
"Berhentilah mengharapkan pria itu! dia tidak akan kembali! bisa saja dia sudah menikah dengan gadis lain!" sindir Haykal sebelum keluar dari kamar itu.
Sudah 3 tahun berlalu, tapi tidak ada perubahan sama sekali dengan kondisi psikis Livia. Padahal dokter mengatakan kalau kondisi Livia sudah lebih baik. Itulah mengapa Haykal datang bersama Albiano. Ia berharap putranya akan senang melihat ibu kandungnya. Namun tingkah Livia membuat Albiano merajuk, dan tidak mau menemui Livia lagi.
Setelah hari itu Haykal tidak pernah lagi membawa Albiano menemui Livia. Paling Haykal hanya akan menunjukkan selembar foto masa muda Livia saat dulu bersamanya. Kalaupun Haykal menjenguk Livia, pria itu hanya akan berdiri berjam-jam diluar kamar.
#
#
Kembali ke ruang komputer
"Aku---"
"Aku merasa jiwaku mati dan kosong saat itu." lirih Livia dengan mata berkaca-kaca.
"Ragaku disana, Ta-tapi jiwaku entah pergi kemana." sambung Livia terbata-bata menutup wajahnya.
"Ah! benarkah?" tanya Greyson dengan suara bergetar. Ia mengepalkan kedua tangannya mendengar cerita menantunya.
"Aku merasa nyaman dan tenang saat berada di dekapan-nya. Namun---"
"Ingatanku tidak bisa melupakan perbuatannya. Selama bertahun-tahun, aku tidak bisa mengobati luka di hatiku. Ta-tapi aku tidak bisa membiarkannya pergi lagi. Anda tidak boleh menyakitinya! Anda harus melepaskannya. Anda tidak boleh menghukumnya."ujar Livia menggebu-gebu.
"Betapa malangnya nasib cucuku memiliki orang tua yang masih labil seperti kalian...." gumam Greyson pelan. Pria setengah baya itu benar-benar merasa gagal mendidik putranya.
"Aku tidak bisa kalau tidak menghukumnya. Karena perbuatannya sudah kelewatan batas. Menurutmu hukuman apa yang tepat diberikan kepada putraku?" tanya Greyson menatap dalam wajah menantunya.
"Apa kau tidak berniat membalasnya? atau melakukan hal yang mungkin bisa memuaskan dan mengobati rasa sakit di hatimu sekaligus?" tanya Greyson dengan wajah kembali datar seperti semula.
"Meskipun kau sudah mengatakan bagaimana perasaan saat itu. Namun pria itu harus tetap diberi hukuman. Apa kau tidak tahu, kalau kami berasal dari keluarga mafia? jadi, hukuman yang pria itu dapatkan harus sesuai dengan aturan hukum klan mafia." terang Greyson menatap wajah pucat Livia.
"Dibunuh atau membunuh! menyiksa atau disiksa! atau--"
...***Bersambung***...