
"Makanlah terlebih dahulu, Papa mau mengangkat telepon sebentar." ujar Meyer berdiri dari duduknya.
"Hallo?" sahut Meyer mengangkat panggilan teleponnya.
[Tuan Nona Rachel ada di rumah sakit! kami menemukan Nona Rachel tidak sadarkan diri saat mengecek kondisinya seharian tidak keluar dari apartemen.] ujar anak buah Meyer.
"Baru bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Meyer
[Sebentar tuan, dokter terlihat sudah keluar dari ruangan nona Rachel. Anda bisa mendengarkan penjelasan dokter itu melalui panggilan ini.] ujar anak buah Meyer.
[Dokter bagaimana keadaan nona kami?]
[Nona muda kalian tidak apa-apa. Hanya saja perhatikan pola makannya agar janin yang tumbuh di rahimnya sehat sampai lahir.]
[Ap-apa dokter tidak salah pasien?] tanya anak buah Meyer dengan perasaan gusar.
[Tidak tuan, nona kalian sedang mengandung trimester pertama.] ujar dokter itu penuh keyakinan.
[Kalau begitu terima kasih dokter.] ujar anak buah Meyer
[Tu-tuan?] panggil anak buah Meyer terbata-bata.
"Kami akan berangkat langsung malam ini ke California. Jaga putriku baik-baik!" perintah Meyer lalu mematikan panggilan dari anak buahnya.
#
#
Di pulau terpencil
"Bereskan sekarang juga barang-barang kita dan siapkan helikopter. Hari ini juga kita harus kembali ke mansion klan king!" tegas Steven kepada Robert dan Jesica.
Robert dan Jesica tentu saja terkejut mendengar perkataan tiba-tiba Steven. Tanpa membuang-buang waktu, mereka langsung bergegas melaksanakan perintah Steven.
Steven langsung melangkah menuju kamar yang Ia dan Livia tempati. Ia tersenyum kecil melihat kegiatan istrinya di balkon kamar mereka.
"Sayang apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Steven melangkah mendekati istrinya.
"Aku sedang olahraga yoga."sahut Livia singkat tanpa menghentikan kegiatannya.
"Sayang--"
"Sepertinya kita harus pulang hari ini, Daddy dan Mommy memintaku membawa mu ke mansion kami." ujar Steven mengamati ekspresi wajah istrinya.
"Masak aku bohong!"
"Baiklah! kita masih bisa liburan di lain waktu." sahut Livia berdiri. Ia lalu melipat karpet lantai ukuran 90 x 60 yang baru saja Ia gunakan sebagai alas olahraga yoga"
Livia lalu berjalan ke kamar mandi melewati Steven
"Aku mau mandi terlebih dahulu." ujar Livia sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Steven terdiam lama menatap pintu kamar mandi. Perasaan pria itu sedikit cemas sekaligus gusar mendengar perintah tegas Daddynya.
"Apa nasib kami akan sama dengan Uncle Kim dan Aunty Gabi?" monolognya pelan melangkah kesana kemari menghilangkan perasaan gelisah nya.
#
#
Di Madrid Spanyol
Haykal terdiam lama mendengar penjelasan kedua perawat yang bertugas menjaga Albina. Sudah 3 jam lebih pria itu menggali informasi mengenai menghilangnya Albina.
"Apa mungkin ada sihir halusinasi di dunia ini? mengapa di rekaman itu kalian terlihat sedang menyapa seseorang? sementara tidak ada orang yang lewat di depan kalian!" tanya Haykal menyeritkan dahinya.
"Kami tidak tahu tuan! yang kamu tahu saat kami sadar, kamu sudah tidak menemukan keberadaan nona muda lagi." jawab salah satu dari perawat itu.
Haykal hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan perawat itu. Ia lalu merogoh kantong celananya mengambil ponselnya.
Haykal menghubungi detektif swasta mencari keberadaan Albina.
"Hallo?"
"Aku ingin kau mencarikan keberadaan seorang wanita. Aku akan mengirimkan foto wanita itu."
[Baiklah!] ucap seorang pria dari seberang sana.
Haykal lalu keluar dari rumah sakit menuju parkiran mobilnya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia takut Albiano menangis karena tidak menemukan keberadaannya.
Haykal menghentikan mobilnya saat melihat lampu lalu lintas menyalah menjadi warna merah. Tanpa sengaja pandangannya melihat sekilas wajah wanita yang membuatnya khawatir dan cemas. Wanita itu terlihat tertawa bahagia di pelukan seorang pria. Kedua pasutri itu melangkah masuk ke dalam penthouse yang sangat mirip dengan lokasi penthouse pria yang menghamili Albina lima tahun lalu.
...***Bersambung***...