
Di pulau terpencil
Steven, Livia, Jesica dan juga Robert sedang menyiapkan dinner malam romantis di pinggir pantai. Robert dan Steven bertugas memindahkan barang-barang berat seperti kursi,meja dan juga tenda yang akan mereka pasang di pinggir pantai. Sementara Livia dan Jesica bertugas mendekor dan memasak untuk dinner. Mereka bergelut dengan tugas masing-masing.
Livia dan Jesica tersenyum puas melihat hasil kinerja mereka.
"Bukankah dekorasi ini terlihat sangat indah?" tanya Livia kepada Jesica
"Ya Anda benar nona! saya juga cukup kagum dengan dekorasi ini!" sahut Jesica ikut tersenyum puas melihat dekorasi
"Jangan panggil nona! panggil aku Livia!" dengus Livia mengalihkan pandangannya ke arah suaminya.
Steven dan Robert sedang mengipas-ngipas arang batok kelapa yang baru saja mereka bakar. Steven berniat membakar ikan dan juga membuat beef steak daging untuk istrinya. Ia sudah tahu kalau Livia alegri dengan seafood.
"Sayang! kemari-lah!" panggil Steven mengucek-ngucek matanya.
Livia dengan cepat melangkah mendekati suaminya. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Livia setibanya di depan suaminya.
"Sayang mataku perih! bolehkah kamu membantuku meniupnya."mohon Steven memejamkan matanya.
"Apa kepulan asap pembakaran ini masuk ke dalam matamu?" tanya Livia dengan polos.
Padahal sudah jelas asap bekas pembakaran batok kelapa itu menggumpal tebal di sekitar mereka.
Sementara Steven berusaha sabar mendengar pertanyaan istrinya. Steven lalu memejamkan matanya sebentar setelah menjauh dari tempat pembakaran. Terlihat jelas mata Steven memerah dan berair setelah terkena asap tebal pembakaran.
Sementara Livia meras bersalah karena kurang peka dengan keadaan suaminya. Livia lalu melangkah mendekati Steven setelah melihat pria itu mengerjapkan matanya berulangkali.
"Sini biarkan aku yang meniupnya!" ujar Livia menarik leher Steven agar sedikit menunduk. Ia lalu meniup mata suaminya berulangkali.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Livia mengamati wajah tampan Steven.
"Mungkin dengan kecupan manis kedua mataku jadi tidak pedih lagi!" celetuk Steven modus.
"Ih! disini ada orang! udah ayo kesana lagi!"
Steven tidak bergeming sama sekali sebelum mendapatkan apa yang Ia inginkan. Ia masih berdiri seperti orang yang sedang di strap.
Livia menghela napas panjang melihat tingkah keras kepala suaminya. Ia lalu melirik sekilas ke arah tempat pembakaran memastikan arah mata Robert dan juga Jesica.
Cup
"Udah ayok!"
Livia menarik pergelangan tangan suaminya setelah memberikan sebuah kecupan manis di bibir tipisnya.
Sementara Steven tersenyum puas mendapatkan apa yang Ia inginkan. Pria itu mengenggam tangan Livia dan mengikuti langkahnya.
#
#
"Apa ikan bakarnya sudah matang?" tanya Steven tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.
"Sebenar lagi bos." sahut Robert membalikkan ikan yang sedang Ia bakar.
Sementara Jesica meracik bumbu untuk beef steak daging. Ia tahu dari Steven kalau Livia tidak bisa makan makanan laut.
"Bukankah malam ini terlihat sangat menyenangkan? dinner dan bakar ikan di tepi pantai. Bukankah kita berempat terlihat seperti pasangan sungguhan?" ujar Livia menatap wajah tampan Steven.
Steven tersenyum kecil mendengar perkataan istrinya. Sementara Robert dan Jesica tersenyum kikuk mendengar perkataan Livia.
"Apa lagi kalau seandainya tahun depan kita sudah memiliki bayi. Aku rasa tahun depan kita harus kembali ke sini lagi!" sambung Livia menatap wajah Robert dan Jesica bergantian. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah suaminya.
"Bagaimana?" tanya nya lagi melihat Steven, Robert dan Jesica terdiam.
"Anything for you honey." ujar Steven mengiyakan permintaan istrinya.
...***Bersambung***...