
Malam hari
Suara musik DJ terdengar menggema di dalam Club Nusa Indah. Club tersebut merupakan Club milik keluarga Brian Bernard salah satu pebisnis sukses dunia.
"Gion, Albi!" panggil seorang wanita melihat kedatangan Gion dan Albiano.
"Hai... apa kau bahagia melihat hadiah apa yang kubawa untukmu?" tanya Albiano tersenyum hangat menatap wanita itu.
"Selamat ulang tahun, Ge."
"Terima kasih, Al. Aku sangat senang melihat kedatangan Gion."jawab wanita itu tersenyum hangat. Gadis itu baru saja menginjak usia 17 tahun. Namun, untuk mendapatkan hati pujaan hatinya. Ia bersikap dan berpenampilan seperti gadis dewasa pada umumnya. Bermake-up, berpakaian seksi dan juga bertingkat bebas.
"Apa Uncle tahu kau ada disini?" tanya Gion dengan wajah malas duduk di sofa.
"Tak usah kau jawab. Karena aku sudah tahu jawabannya."
Wanita itu dengan cepat duduk di samping Gion dan bergelayut manja di sampingnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu." ujar Albiano berniat keluar dari Club.
"Tunggu! Apa kau akan meninggalkan ku disini setelah menuruti permintaan mu?" tukas Gion menghentikan langkah Albiano.
"Aku hanya ijin ke toilet saja, Bang."jawab Albiano cengengesan.
Gion menganggukkan kepalanya mendengar perkataan sang adik.
Setelah kepergian Albiano. Gion akhirnya duduk tegap dan bersikap serius menatap lurus ke depan.
"Berhentilah bersandiwara. Albiano tidak akan melihatnya." bisik Gion menatap wajah gadis itu dengan datar.
"Gefanny Harvest..."
"Apa kau sangat betah bersandiwara? Berpenampilan dewasa seperti ini agar pria yang kau cintai mau melirik mu?" tanya Gion meneliti penampilan Gefanny.
"Berhentilah bersandiwara. Aku akan segera memutuskan perjodohan kita. Dan aku sudah memiliki rencana."
"Katakan padanya tentang perasaan mu. Dan jadilah diri sendiri. Kau tidak perlu bertingkat dan berpenampilan menyenangkan hati orang lain. Karena kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri untuk membahagiakan dirimu sendiri."
"Saat kau sudah bisa membahagiakan diri mu sendiri. Maka aku sangat yakin, kau juga bisa membahagiakan orang lain."
"Aku tidak pernah berbicara sebanyak ini kepada orang lain. Tapi, aku sungguh lelah dengan sandiwara mu."
"Happy birthday, Ge. Aku pulang dulu. Kalian bisa menghabiskan waktu kalian bersama."
"Tapi, dia hanya menganggap ku adik. Dia selalu memperlakukan ku seperti saudaranya." ujar Gefanny menghentikan langkah Gion.
"Dia sedang berusaha menutupi perasaannya, Ge. open you eyes and open your heart. Jika kau benar-benar mencintainya, kau tentu tahu bagaimana perasaannya.
Gefanny tiba-tiba memeluk Gion saat melihat kedatangan Albiano dari kejauhan.
"Gion.... thanks..." bisik Gefanny dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan berkata jujur padanya." sambungnya sebelum melepaskan pelukannya.
Albiano langsung berlalu dari sana ketika melihat Gion dan Gefanny berpelukan. "Kenapa aku merasa sakit melihat kedekatan mereka?" gumam Gion dengan wajah masam.
"Albi!" panggil Gefanny
Albiano terus melanjutkan langkahnya menuju parkiran.
"Albi, berhenti!" teriak Gefanny dengan napas ngos-ngosan.
Albiano akhirnya menghentikan langkahnya.
"Maukah kau membahagiakan ku sebelum hari ini berlalu?" tanya Gefanny penuh harapan.
"Kita masih memiliki waktu selama 3 jam sebelum hari ini usai." lanjut Gefanny.
"Pergilah dengan Gion. Bukankah kau sangat ingin bertemu dengannya?" jawab Albiano menautkan kedua alisnya bingung dengan keinginan Gefanny.
"Hah... entah mengapa kali ini aku mengharapkan sesuatu yang berbeda." jawab wanita itu melangkah mendekati Albiano.
"Ayo..." Wanita itu menarik tangan Albiano menuju mobilnya.
Di Club
Setelah kepergian Albiano dan Gefanny, Gion duduk menikmati wine yang tersaji di atas meja. Tak beberapa lama Hans datang dengan satu map coklat di tangannya.
"Tuan muda. Saya sudah mendapatkan informasi yang Anda inginkan." ujar Hans menyerahkan map itu kepada Gion.
Setelah membaca isi map itu, Gion langsung berdiri dari duduknya. Saat ingin keluar dari Club, tanpa sengaja Gion melihat Arabella sedang membawa minuman ke sebuah ruangan VIP.
"Mengapa wanita itu ada disini? Apakah gaji sebagai sekertaris CEO hotel Royal tidak cukup membiayai kebutuhannya?" gumam Gion menatap punggung Arabella yang semakin lama kecil di penglihatannya.
"Cari tahu kenapa sekertaris baru itu bisa ada disini?" ujar Gion tanpa mengalihkan pandangannya dari kamar VIP yang dimasuki oleh Arabella.
Tak beberapa lama Hans kembali dengan beberapa informasi.
"Arabella merupakan karyawan baru yang bekerja part time di Club ini, Tuan."
"Cih.... murahan."
Hanya kata itu yang terucap dari bibir Gion setelah mendengar informasi dari asistennya.