
"Apa kalian sedang menggosip ku?" tanya Greyson mencebikkan bibirnya keluar dari lantai bawah.
"Kami lupa, kalau kau memiliki pendengaran yang tajam, Sayang." kelakar Nyonya Douglas menjahili putranya.
"Apa kabar Mom, Ma." sapa Greyson menyalami kedua wanita paruh baya itu.
"Baik, Nak." sahut mereka bersama.
"Apa sekarang kau mulai melupakan kedua pria paruh baya ini?" tanya Tuan Douglas mencibir putranya.
"Eh, kalian juga ternyata sudah sampai." ucap Greyson cengengesan.
"Cih! bilang saja kau melupakan kami." dengus Tuan Douglas.
"Maaf Dad, Pa." ujar Greyson tersenyum tipis.
"Apa kalian tidak lelah berdiri sedari tadi?" tanya Greyson menatap kedua pasangan paruh baya itu.
"Kami merasa capek duduk di pesawat. Kamu juga tiba-tiba nyuruh anggota klan king jemput kami." ujar Nyonya Douglas.
"Padahal kami sedang liburan di Korea." sambung Nyonya Douglas sedikit kesal.
"Kalian tidak mungkin melewatkan hari bahagia ini. Kalian juga akan bahagia dengan apa yang sudah Greyson rencanakan." ucap Greyson membela diri.
"Emang apa yang sedang kamu rencanakan, Sayang?" tanya Nyonya Douglas sedikit kepo.
"Tunggu saja, Mom. Mommy, Daddy, Mama, Papa dan yang lainnya pasti bakalan ikut bahagia dengan rencana Greyson." jawab Greyson tidak mau memberitahu rencananya.
Namun tangisan seorang anak kecil menghentikan obrolan mereka.
"Hua!!"
"Papi.... Albi mau pulang...."
"Hiks, hiks, hiks, hiks."
Albiano tiba-tiba menangis terisak-isak di atas sofa. Grace cukup heran mendengar anak itu tiba-tiba menangis. Dan Grace juga belum tahu anak kecil itu siapa. Ia hanya diam tanpa memenangkan anak kecil itu.
Greyson langsung melangkah mendekati cucunya, saat mendengar cucunya menangis terisak-isak. Begitu juga Stevi, wanita setengah baya itu juga melangkah kearah sofa memenangkan sang cucu.
"Sayang.... kamu kenapa? Hem?" tanya Stevi duduk di samping Albiano.
"Papi.... Albi mau papi....." ujar anak itu sesenggukan.
"Papi itu bukan ayah kandung kamu, Albi. Ayah kandung kamu ada disini. Sebentar malam kamu akan bertemu dengan ayah kandungmu. Panggil dia, Daddy..." ucap Greyson tiba-tiba. Ia tidak suka cucunya masih mencari-cari keluarga penghianat itu.
"Albi enggak punya Daddy! Albi hanya punya Papi!" ketus Albiano menatap kesal kearah Greyson.
"Apa pria itu mengajarkanmu berbicara seperti itu kepada orang yang lebih tua?" tanya Greyson dengan dingin. Membuat suasana di ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi hening.
Albi diam tak bergeming mendengar suara dingin dan ekspresi datar Greyson. Raut wajah pria itu tidak seperti pertama kali mereka bertemu. Albi merasa sedikit takut melihat raut wajah Greyson, sehingga suara tangisan mulai terdengar lagi. Albiano tiba-tiba menangis lagi.
"Albi mau pulang! Albi enggak mau disini! Albi mau ketemu Papi!"
"Hua!!!"
"Albi mau pulang!"
Stevi langsung memeluk cucunya dan memenangkan anak kecil itu.
"Sayang....Ssss.... udah jangan nangis. Sebentar malam kamu akan bertemu dengan Mommy dan Daddy kamu. Sepertinya yang Opa katakan tadi."
"Apa kamu tidak mau berkenalan dengan Aunty? dan keempat buyut kamu?" bujuk Stevi mengelus punggung bergetar sang cucu.
"Mom, Ma, Dad, Pa. Kemari duduk disini. Stevi mau memperkenalkan seseorang kepada kalian." panggil Stevi kepada kedua wanita berusia senja itu.
Kedua pasangan suami-istri itu melangkah kearah sofa. Mereka kemudian duduk di sofa yang masih kosong.
Mereka menatap Stevi dan Albiano bergantian. Mereka bertanya-tanya anak siapa kira-kira yang ada di samping anak dan menantunya.
"Nah, perkenalkan nama kamu sayang. Mereka pasti merasa senang bisa bertemu denganmu." tukas Stevi menghapus sisa-sisa air mata di pipi cucunya.
"Albiano...." ucap anak itu dengan lirih.
"Anak siapa ini, Sayang?" tanya Lorens merasa penasaran.
"Putra Stev, Mom, Ma, Pa ,Dad." ucap Stevi menatap mereka bergantian.
Grace sudah tidak terkejut lagi mendengar perkataan ibunya. Karena beberapa waktu lalu, ia sudah mendengarnya dari sang ayah. Walaupun Grace tidak tahu bagaimana rupa sesungguhnya dari putra Steven. Karena Ia hanya mendengar cerita dari Daddynya tanpa melihat anak itu secara langsung.
"Apa!!" teriak kedua pasangan suami istri itu. Mereka belum tahu, kalau Steven dan Stevenson diam-diam sudah memiliki anak. Stevi dan Greyson tidak pernah menceritakan masalah apapun yang terjadi di keluarga mereka. Mereka tidak mau masalah itu mempengaruhi kesehatan mereka.
"Benar Mom, Dad, Ma, Pa. Ini putra Steven. Putra pertama kami melakukan sebuah kesalahan lima tahun lalu, sebelum Steven melanjutkan pendidikannya ke Inggris." ucap Greyson menjelaskan semuanya. Walaupun sebenarnya istrinya diam-diam memata-matai gerak-gerik putra-putri mereka. Tapi hasil dari laporan itu tidak pernah sampai ke Greyson.
"Aaa! kita sudah punya cicit Via! diusia yang masih strong ini, kita sudah punya cucu sebesar ini. Betapa bahagianya hatiku." ujar Nyonya Douglas tersenyum lebar.
"Kamu benar Rachel. Aku juga tidak menyangka, kalau kita sudah memiliki cicit." ucap Nyonya Lorens berbinar bahagia.
Sementara Tuan Douglas dan Tuan Lorens ikut bahagia mendengar penjelasan Greyson dan Stevi. Mereka merasa baru kemaren putra-putri mereka menikah dan memiliki anak. Namun sekarang putra dan putri sudah menjadi Opa dan Oma. Mereka cukup terharu mendengar berita membahagiakan itu. Mereka berharap, mereka juga bisa melihat cicit-cicit mereka tumbuh dewasa. Itu pun kalau Tuhan menghendakinya.
"Kalian akan lebih terkejut lagi dengan putra keduaku."celetuk Greyson membuat semua orang terdiam. Mereka penasaran apa kira-kira maksud dari ucapan Greyson.
Namun tidak dengan Grace dan Stevi, mereka sudah tahu apa maksud perkataan Greyson.
"Apa maksudmu, Son? bukankah Stevenson masih di California mengurus bisnis keluarga kita?" tanya Tuan Douglas menyeritkan keningnya. Kejutan apa lagi yang akan mereka terima setelah ini, pikir mereka.
"Apa kalian sedang membicarakan tentangku?" tanya seseorang menyela pertanyaan Tuan Douglas.
Mata mereka membulat melihat orang yang menyela pembicaraan mereka. Bukan orang itu yang menjadi pusat perhatian mereka. Tapi seorang akan kecil yang ada di gendongan pria itu.
...***Bersambung***...