
Suara gumaman seorang wanita membuyarkan ingatan Steven mengenai masa lalunya dengan Livia.
"Mengapa aku ada disini?" gumamnya pelan melangkah mengikuti wangi masakan yang tercium Indra penciumannya.
Setibanya di dapur, Livia terdiam lama menatap dalam punggung lebar Steven yang lagi membelakanginya.
Dengan wajah cerita, Ia melangkah mendekati pria itu. Livia lalu melingkarkan tangannya di pinggang Steven.
Grep
Steven cukup terkejut dengan tingkah tiba-tiba wanita itu.
"Apa kau sudah bangun?" tanya Steven menormalkan keterkejutannya.
"Hem...."
Ia bergumam pelan menjawab pertanyaan Steven, karena Ia merasa nyaman berada di pelukan pria itu.
"Lepaskan pelukanmu...."
"Aku mau menyajikan makanan ini diatas meja." ujar Steven membungkukkan sedikit tubuhnya mengangkat dua piring pasta seafood yang sudah matang.
"Tidak mau...."
"Bukankah kau suamiku?"
"Aku sering melihat sepasang suami-istri akan melakukan hal seperti ini." ujar Livia mengeratkan pelukannya.
Steven tentu saja bingung mendengar perkataan Livia. "Mengapa sifat wanita ini menjadi lebih agresif dan bertingkah seperti anak kecil?" batinnya.
Steven menghela napas panjang lalu berkata. "Baiklah...."
"Lepaskan dulu tanganmu dari pinggangku. Setelah ini kita akan melakukan hal yang sama! apa perut mu tidak lapar?" tanya Steven lembut.
Livia lalu menuruti perkataan Steven melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang pria itu.
Steven lalu membawa pasta seafood menuju meja makan. Pria itu juga menyajikan segelas jus buah segar di atas meja.
"Ayo duduklah di kursi mu." ujar Steven menunjukkan kursi di seberang mejanya.
Bukannya melangkah ke seberang mejanya, Livia malah melangkah ke arah Steven. Ia mendudukkan bokongnya di pangkuan pria itu.
Deg
"Apa yang kau lakukan?" dengus Steven menormalkan degup jantungnya.
"Aku mau di suapi!" ujar Livia melingkarkan tangannya di leher Steven. Wanita itu meletakkan kepalanya di dada bidang pria itu.
"Makanlah." ujar Steven mengarahkan garpu berisi pasta ke mulut Livia.
Livia dengan senang hati menerima suapan Steven yang Ia yakini sebagai suaminya.
"Selesai makan, mandi dan berganti-lah! kita akan pergi ke rumah sakit." ujar Steven. Pria itu ingin memeriksa kondisi keseluruhan mental dan fisik Livia.
Tiba-tiba suasana hati Livia berubah mendengar perkataan Steven. Ia langsung menurunkan tubuhnya dari pangkuan Steven. Livia menatap Steven dengan tatapan kemarahan dan kebencian.
"Apa kau berniat mengurungkan disana!!!" teriak Livia. Wanita itu lalu melangkah mendekati piring berisi pasta seafood buatan Steven. Ia tiba-tiba membanting piring kaca itu ke lantai.
Pyarrrrrrrrrr
"Hahaha...." Livia tiba-tiba tertawa cekikikan sembari melangkah mendekati pecahan piring kaca itu.
Tiba-tiba tatapannya berubah menjadi kosong dan terlihat tidak ada kehidupan di dalamnya.
Steven cukup terkejut dengan respon Livia. Padahal pria itu hanya ingin memastikan sejauh mana kesehatan psikis wanita itu. Steven menatap dalam tingkah laku berubah-ubah Livia.
"Arghhh!!" erang kesakitan Livia saat menginjak pecahan piring itu.
"Tidak! ini tidak sakit!!" sambungnya tersenyum tipis.
Jejak darah membentuk telapak kaki terlihat kontras di penglihatan Steven. Pria itu langsung berdiri dari duduknya melangkah menghentikan tingkat gila Livia.
"Berhenti!!"
"Apa yang kau lakukan!!" bentak Steven menarik kasar tangan Livia hingga menubruk dada bidangnya.
"Aku ingin mati!"
"Hahaha"
"Saat dia hadir...."
"Pria itu menghilang...." ucap Livia menatap kosong ke depan.
Tiba-tiba wanita itu menepuk-nepuk dadanya seperti orang kehabisan napas.
"Apa kau memiliki penyakit asma?" tanya Steven cemas melihat wajah pucat Livia.
Steven semakin khawatir melihat Livia tiba-tiba pingsang di pelukannya.
...***Bersambung***...