
Di Madrid Spanyol
Steven terbangun pagi-pagi menyiapkan sarapan untuk Livia dan dirinya. Livia masih tidur nyenyak di dalam kamar tamu. Untuk kesekian kalinya Steven merasa nyaman tidur di samping wanita itu.
Sebenarnya Steven pertama kali tahu mengenai Livia saat wanita itu digosipkan pacaran dengan seseorang yang sangat Steven benci. Pria itu kuliah di Spanyol karena memiliki tujuan tersembunyi. Namun sentuhan pertama Livia membuat hatinya bergetar. Pria itu tidak mampu mengalihkan dunianya dari Livia. Wanita cerdas, cantik dan memiliki tubuh memikat.
Diam-diam pria itu mengawasi kegiatan dan aktivitas Livia setiap hari. Namun lama kelamaan Steven tidak mampu lagi menahan dirinya untuk tidak terpikat dengan wanita itu.
Tanpa Steven ketahui, Livia sebentarnya juga diam-diam mencintai pria itu. Namun karena ketidakpekaan Steven membuat Livia beralih menjalan kasih dengan pria lain.
Setiap kali Livia mendekati Steven, pria itu akan menghindar dan melewati Livia begitu saja. Livia tentu saja marah sekaligus sedih dengan tindakan Steven.
Di malam Minggu
Kekasih Livia mengajaknya keluar jalan-jalan sekaligus makan malam diluar. Mereka pacaran semakin hari semakin intens tanpa malu mengumbar kemesraan mereka di depan umum termasuk di kampus mereka. Kekasihnya terkandang meninggalkan kecupan kasih sayang di kening Livia. Livia tentu saja menerima kecupan itu, karena gadis itu tahu kekasihnya merupakan pria yang baik.
Livia terkadang merasa bersalah sudah mengkhianati hubungan mereka. Ia salah mencintai pria lain saat sedang menjalin hubungan dengan kekasih yang tulus menyayangi dan mencintainya.
Mulai sejak saat itu, Livia tidak pernah lagi memperdulikan Steven. Gadis itu malahan semakin menjauh dari kehidupan Steven.
Bukannya senang, Steven malah semakin ketar-ketir melihat Livia menjauh dari jangkauan nya. Livia selalu berusaha menghindar saat bertemu dengannya.
Steven emosi dan marah melihat gadis yang membuatnya terpikat lebih memilih pria lain. Bukan hanya itu Livia juga berani berciuman intens dengan kekasihnya saat ada di hadapannya.
Dengan emosi dan marah, Steven merencanakan penculikan Livia. Ia memerintahkan anak buahnya menculik Livia dan membawanya ke apartemennya.
#
#
Dan hal diluar batas itu pun terjadi. Dimana Steven menghancurkan hidup wanita yang selama ini diam-diam dicintainya.
Steven menyeret tubuh Livia dan menghempaskannya keatas ranjang. Livia berusaha melarikan diri dari kemarahan Steven namun kegesitan dan kecepatan gerakan Steven membuat usaha Livia tidak berhasil.
"Pergi!!!"
"Lepaskan!!"
"Aku mohon lepaskan!"
"Aku mohon jangan!!"teriaknya nyaring.
Teriakan Livia terdengar sangat nyaring di pendengaran Steven. Pria itu langsung sadar dari kegilaannya. Ia lalu melepaskan kungkungannya tanpa beranjak dari atas tubuh Livia.
"Cih...."
"Apa kau lebih memilih pria itu yang melakukanya ketimbang aku?" tanya Steven menatap sinis Livia.
"Aku lebih baik memberikannya kepada pria yang tulus mencintaiku dari pada memberikannya kepada pria seperti mu!!" teriak Livia menatap tajam kearah Steven. Gadis itu membalas tatapan sinis Steven dengan tatapan tajamnya.
"Hahaha...."
Steven tertawa cekikikan sampai terbahak-bahak mendengar perkataan Livia.
Sementara Livia merasa merinding mendengar suara tawa cekikikan dan terbahak-bahak Steven. Bukannya merasa lebih baik, Livia malah merasa semakin takut melihat mata bercahaya Steven.
Steven dengan agresif dan penuh napsu mencium leher jenjang Livia. Pria itu semakin merasa terangsang saat mendapatkan penolakan dari Livia. Namun tanpa sengaja lutut Livia mengenai aset berharga milik Steven.
"Akh...." lirih Steven merasa asetnya berdenyut nyeri.
"Awas kau!" ancam Steven mencengkeram pipi Livia. Pria itu lalu turun dari atas ranjang dan keluar dari kamar meninggalkan Livia.
Sementara Livia menghela napas melihat kepergian Steven. Ia mengigit pelan bibirnya saat mengingat perkataan menyakitkan yang keluar dari mulutnya.
...***Bersambung***...