
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan!" ucap Steven mendekap tubuh istrinya.
"Aku sendiri yang akan mencari tahu dimana keberadaan putra kita." sambung Steven meletakkan dagunya di atas kepala istrinya.
10 menit kemudian
Steven sudah tidak lagi mendengar suara istrinya. Ia kemudian melonggarkan pelukannya memperhatikan wajah istrinya.
"Ternyata dia sudah tidur...." lirih Steven mengangkat tubuh istrinya ala bridal style. Dengan hati-hati pria itu meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang, dan menyelimutinya.
Steven lalu keluar dari kamar
"Robert!" panggil Steven pelan namun tidak ada sahutan sama sekali.
"Jes!" panggil Steven lagi memanggil dokter psikiater istrinya. Lagi-lagi Ia tidak mendapatkan sahutan dari kedua Adam dan Hawa itu.
Setibanya di ruangan tamu, Steven tidak menemukan keberadaan Robert maupun Jesica.
"Kemana mereka?" monolog Steven dalam hati.
Suara pesan masuk ke ponselnya menghentikan lamunan Steven.
Ting Ting
[Tuan! ratusan anggota klan king terlihat mengepung penthouse Anda]
[Tuan marah, Anda mengacuhkan panggilan telepon darinya.]
"Sial!!" maki Steven mendapatkan informasi mendadak seperti itu.
"Bagaimana ini? aku tidak memiliki persiapan sama sekali!" monolog Steven melangkah kesana kemari memikirkan hukuman apa yang sudah Daddynya siapkan.
Tit Tit Tit
Cklek
Steven menatap datar wajah beberapa pria berpakaian hitam masuk ke penthouse miliknya.
"Tuan! kami datang atas perintah Daddy Anda!"
"Anda mau kami bawa secara baik-baik? atau secara paksa?" tanya anggota kepercayaan klan king.
"Aku akan ikut bersama kalian! tolong bawa barang-barang itu sekalian!" perintah Steven menunjukkan oleh-oleh yang tadi di beli Robert dan Jesica.
Steven lalu kembali ke kamar membangunkan istrinya.
"Sayang...."
"Ayo bangun! anak buah Daddy sudah menjemput kita!" ucap Steven membangunkan Livia. Bukannya bangun Livia malah membelakangi Steven. Dengan terpaksa pria itu mengendong tubuh istrinya ala bridal style keluar dari penthouse.
#
#
Sekembalinya dari penthouse Steven, pria itu langsung melajukan mobilnya menuju kediaman kedua orangtuanya. Haykal lalu memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya.
Haykal bisa mendengar suara tangisan Albiano dari luar kediaman orangtuanya. Pria itu dengan cepat melangkah masuk ke dalam rumah.
"Huaaaa!!!"
"Papi!! Albi mau Papi!!!" teriak Albiano menangis kencang.
"Sebentar lagi Papi Anda akan kembali Tuan muda. Jangan menangis lagi!" nasehat pelayan itu.
"Papi Anda sedang membeli makanan kesukaan Anda Tuan muda." bujuk pelayan memenangkan Albiano.
"Benarkah?" tanya Albiano menghentikan tangisnya.
"Benar sayang! Papi sekarang sudah pulang dan membawa cemilan kesukaan putra Papi ini!" ujar Haykal tiba-tiba sudah berdiri di belakang Albiano.
"Papi!!" teriak Albi mengalihkan pandangannya kearah asal suara. Anak itu mengulurkan tangannya minta di gendong.
Haykal dengan sigap menganggkat tubuh putranya dan menggendongnya setelah menyerahkan dua kantong belanjaan kepada pelayannya.
"Mengapa putra Papi hari ini tiba-tiba berubah menjadi cengeng begini?" tanya Haykal lembut sembari menghapus jejak air mata di kedua pipi cabi Albiano.
"Tadi Albiano bermimpi kalau Albiano akan jauh dari Papi."
"Papi meninggalkan Albiano sendirian!" celetuk Albiano membuat Haykal terdiam lama.
"Tenanglah--"
"Itu hanya bunga tidur."
"Albiano kan putra Papi, mana mungkin Albiano Papi tinggalkan sendirian." ucap Haykal memenangkan putranya.
Albiano tersenyum kecil mendengar perkataan Papinya. Anak itu lalu melingkarkan tangannya di leher Haykal.
"Apa Papi membeli kukis kesukaan Albi?" tanya anak itu menyenderkan kepalanya di leher Haykal.
"Tentu saja! ayo kita ke dapur mengambilnya!" ucap Haykal.
"Let's go!!" teriak Albiano kegirangan. Anak kecil itu bertingkat seperti anak kecil pada umumnya.
...***Bersambung***...