
"Semuanya akan baik-baik saja selama kau tidak pergi jauh dari ku."
"Ayo...."
.
"Hari ini kita harus bersenang-senang merayakan pernikahan kita." sambung Steven menarik tangan Livia. Mereka melangkah menuju parkiran. Banyak pasang mata yang menatap kagum paras sepasang suami istri itu
"Serasi" batin mereka
#
#
Di bandara
Livia menatap bingung apa yang Ia lihat di atas atap hotel Royal. Sebuah helikopter tulisan Douglas terlihat nyata di hadapannya.
"Helikopter!!" teriaknya nyaring berbinar berlari mendekat helikopter itu. Livia bertingkat seperti itu karena Ia belum pernah menaiki helikopter sebelumya. Meskipun Ia melupakan sebagian ingatannya namun batinnya merasakan hal yang sama.
Genggaman tangan Steven menghentikan langkahnya. "Jangan mendekat dulu kalau tidak mau terluka." ujar Steven menghentikan langkah Livia.
"Apa kita akan terbang menggunakan helikopter ini?" tanya Livia.
"Tentu saja. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang sebelumnya udah aku siapkan." ujar Steven mengenggam tangan Livia melangkah ke dalam helikopter. Robert langsung membukakan pintu untuk tuannya. Steven yang akan menerbangkan helikopter itu.
"Apa kau yang akan menerbangkan helikopter ini?" tanya Livia penasaran melihat Steven duduk di depannya.
"Aku akan membawa istriku terbang mengelilingi kota Madrid dan mendarat di pulau tujuan kita." sahut Steven menjawab pertanyaan Istrinya.
Tak beberapa lama datang seorang wanita masuk ke dalam pesawat duduk di samping Steven.
Steven tersenyum tipis melihat wajah cemberut wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
Steven lalu menerbangkan helikopter itu menuju pulau kecil daerah tujuan mereka. Pria itu berencana akan mengobati trauma Livia disana. Wanita yang duduk di sampingnya merupakan anggota klan king sekaligus seorang dokter psikiater.
Bukannya bahagia, wajah Livia terlihat murung sambil menatap keluar jendela. Ia tidak menyahuti pertanyaannya yang sedari tadi ditanyakan Steven.
"Apa kamu menyukai pemandangan diluar sana?" tanya Steven lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari bangku kemudi.
Livia menghiraukan pertanyaan Steven, wanita itu masih kesal dengan sikap tidak peka Steven.
Setelah sejam mengudara, helikopter mendarat di atas bangunan megah. Bangunan itu juga di keliling pepohonan rindang. Namun pemandangan di depan bangunan itu menarik perhatian Livia. Ia tersenyum manis melihat pemandangan pantai di depan sana. Ia cukup familiar dengan pemandangan pantai seperti itu.
Sementara Steven tersenyum lega melihat ekspresi wajah Livin. Pria itu sudah mencari tahu tentang masa lalu Livia. Ia tahu Livia juga menyukai suasana pantai. Itulah mengapa Steven mengajak Livia berlibur beberapa hari disana sampai Ia sembuh.
#
#
"Apa kamu menyukai pemandangan disini?" tanya Steven keluar dari helikopter. Pria itu dengan gentleman membukakan pintu sebelah istrinya. Ia mengulurkan tangannya sebagai pegangan Livia turun dari helikopter.
Livia dengan senang hati menerima perilaku romantis pria itu. Ia terlihat seperti wanita yang sedang jatuh cinta. Dengan malu-malu Livia mengulurkan tangannya ke telapak tangan Steven.
Steven geleng-geleng kepala melihat wajah malu-malu istrinya. Tapi dibalik itu semua, pria itu merasa lega melihat perubahan sikap istrinya.
Livia dan Steven melangkah melewati lift turun ke bawah. Livia menatap tajam kearah wanita yang tadi duduk di depan bersama Steven. Ia memincingkan matanya melirik sinis kearah wanita itu.
Sementara wanita itu berusaha menahan tawanya agar tidak keluar melihat wajah cemburu nona mudanya. Mana mungkin Ia berani menyukai Steven sang ketua klan king.
...***Bersambung***...