
Haykal mengacak-acak rambutnya menjernihkan pikirannya. Saat akan membalikkan langkahnya tanpa sengaja Haykal menyenggol tubuh seseorang.
"Maafkan saya Tuan."ujar Haykal membungkukkan sedikit tubuhnya menatap sekilas kearah seorang pria setengah baya dan seorang pemuda.
Namun perhatian Haykal beralih kearah seorang perawat yang tadi membantu dokter dalam proses persalinan Livia. Perawat itu bejalan tergesa-gesa keluar dari ruangan UGD.
"Suster!" panggil Haykal meninggalkan kedua pria yang sedari tadi memperhatikan wajah khawatir Haykal.
Mereka kemudian melanjutkan langkah mereka keluar dari rumah sakit. Namun obrolan Haykal dan seorang perawat menghentikan langkah mereka.
"Suster apa kalian sudah mendapatkan kantong darah dari bank darah rumah sakit lain untuk golongan darah AB- menyelamatkan ibu dari putra saya?" tanya Haykal mengejar langkah perawat itu.
"Belum Tuan. Denyut nadi pasien tiba-tiba berhenti berdetak. Saya harus menemui dokter senior." ujar perawat itu berlalu meninggalkan Haykal.
Haykal langsung bergegas melangkah menuju ruangan UGD memastikan keadaan Livia. Namun langkahnya harus terhenti ketika mendengar tawaran seseorang.
"Biarkan saya mendonorkan darah saya. Kebetulan saya juga memiliki darah yang sama dengan istri Anda." tawar pria setengah baya yang tidak sengaja Haykal senggol tadi.
"Pa. Kondisi kesehatan Papa lagi menurun. Lebih baik aku yang menggantikan Papa mendonorkan darah kepada istri Tuan ini." sela remaja laki-laki itu menghentikan langkah ayahnya.
Setetes air mata menetes dari sudut kelopak mata Haykal mendengar perkataan kedua pria itu.
"Terima kasih Tuhan." ucap Haykal dalam hati.
"Terima kasih Tuan mari ikut saya menemui suster tadi." ujar Haykal
Satu jam kemudian Haykal melangkah menghampiri remaja yang sudah bersedia mendonorkan darahnya untuk Livia.
"Terima kasih sudah menolong ibu dari putra saya." ucap Haykal tersenyum tipis berterima kasih kepada remaja itu.
"Tidak apa-apa. Mungkin hari ini adalah keberuntungan bagi istri Anda Tuan." ucap remaja itu sedikit sungkan.
"Kalau begitu saya pamit Tuan. Semoga istri Anda lekas sembuh." pamit remaja itu berlalu dari sana.
"Terima kasih Tuan." ucap Haykal melihat pria setengah baya itu tersenyum menatapnya.
"Tidak apa-apa Nak. Semoga istrimu lekas sembuh." ucap pria setengah baya itu berlalu dari sana.
Haykal menatap punggung kedua pria itu semakin menjauh dari pandangannya.
Suara pintu dibuka mengalihkan atensi Haykal dari kedua pria beda usia itu. Dokter senior yang tadi dipanggil perawat keluar dari UGD.
Haykal langsung menghampiri dokter itu, untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana kondisi Livia.
"Dokter bagaimana keadaan ibu dari putra saya?" ujar Haykal berdiri di hadapan dokter setengah baya itu.
"Kami memiliki kabar baik dan kabar buruk untuk Anda Tuan." ujar dokter itu
"Kabar baiknya, pasien sudah melewati masa kritisnya. Tunggu saja hingga pasien sadar." tutur dokter itu bisa menangkap kekhawatiran dari wajah tampan pemuda itu.
"Syukurlah." ucap Haykal sedikit lega mendengar kabar baik dari dokter itu.
"Namun kabar buruknya, pasien kemungkinan akan mengalami baby blues atau amnesia disosiatif. Menurut diagnosa saya, beberapa menit setelah melahirkan sang ibu sepertinya mengalami tekanan." tutur dokter itu lagi melanjutkan ucapannya.
Deg
"Sebaiknya Anda meluangkan waktu Anda memeriksa kondisi istri Anda ke dokter psikiater setelah beliau sadar. Dan saya juga menyarankan Anda mengontrol keadaan pasien setelah sadar. Saya takut sewaktu-waktu pasien menyakiti bayinya." sambung dokter itu.
"Anda adalah suaminya. Support dan dukungan dari Anda akan membantu istri Anda melewati semua ini." nasehat dokter itu menepuk pundak Haykal.
Haykal tidak tahu harus berkata apa, karena pria itu cukup terkejut mendengar penuturan sang dokter.
...***Bersambung***...