IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Part 8



Di ruangan Dokter kandungan


Sherin membaringkan tubuhnya di atas ranjang rumah sakit. Dokter kemudian mengoleskan gel di atas perutnya. Gelombang transducer akan menampilkan gambar pada layar monitor USG. Tak beberapa lama muncul sebuah gambar di layar monitor USG.


Sementara Stevenson dejavu melihat gambar yang muncul layar monitor USG. Jujur saja pria itu tidak tahu apa arti gambar itu. Kecuali Ia bisa melihat ada dua titik kecil di rahim istrinya.


"Kabar bahagia untuk kalian Tuan dan Nyonya. Anda bisa melihat dua titik ini. Ini menandakan jika kalian akan memiliki dua calon bayi. Tidak menutup kemungkinan titik ini bisa bertambah." ujar dokter itu tersenyum manis.


Sepasang pengantin baru itu tersenyum bahagia mendengar ucapan dokter itu. Mereka tentu saja bahagia akan menjadi orang tua di usia muda.


Stevenson menatap wajah bahagia istrinya. Pria itu melangkah mendekati ranjang. Ia mengecup seluruh wajah istrinya penuh mesra.


"Sayang.... Terima kasih." ujar Stevenson menatap sorot mata bahagia istrinya.


Sementara Dokter itu memaklumi adegan mesra sepasang suami-istri di depannya. Setiap orang yang mengetahui kabar bahagia seperti itu, tentu saja mereka akan merasa bahagia.


"Hem...." Dokter itu membuyarkan adegan mesra sepasang suami istri itu.


"Namun kehamilan kembar ini sangat beresiko di usia seperti Anda Nyonya. Apa lagi kadar hemoglobin Anda rendah. Ini sangat berbahaya untuk pertumbuhan janin Anda...."


"Jadi.... Saya sarankan kalian terlebih dahulu melakukan tes darah di kehamilan pertama ini." sambung Dokter itu.


"Jaga pola makan Anda! jangan stres! dan perbanyak mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi dan vitamin C." ujarnya lagi.


"Terima kasih untuk sarannya dokter." ujar Stevenson.


Pria itu mengelus lembut kepala istrinya. "Ingat apa yang dikatakan oleh dokter." ujar Stevenson menatap istrinya.


Mereka lalu keluar dari ruangan dokter menuju lab tes darah. Setelah melakukan tes darah, mereka melangkah menuju parkiran. Jenny ikut mengekor mereka dari belakang.


"Jenny masuklah. Kami akan mengantar mu terlebih dahulu." ujar Stevenson. Pria itu membukakan pintu di samping pengemudi untuk Istrinya.


"Sayang ayo masuk." ujar Stevenson. Pria itu meletakkan telapak tangannya di atas kepala istrinya agar tidak terbentur.


#


#


Setibanya di kediaman Jenny, Stevenson melajukan mobil yang mereka tumpangi menuju apartemennya. Pria itu merasa heran sedari tadi Ia melihat istrinya hanya diam dan termenung menatap keluar jendela mobil. Diajak bicara pun hanya menjawab seadanya.


"Sayang.... Kamu kenapa?" tanya Stevenson lembut. Ia melirik sekilas Istrinya. Setelah menikah pria itu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Istrinya. Pria itu selalu menuruti keinginan istrinya. Bahkan terkadang pria itu tidak sungkan memasak ataupun membersihkan apertemen yang mereka tinggali. Disaat mood istrinya sedang berubah-ubah.


"Apa kamu sedang ngidam? kamu mau apa? hem...." tanya Stevenson membujuk istrinya.


"Maaf deh tadi lupa ngabarin kamu, kalau aku akan sedikit telat menjemput kamu."


"Tadi itu...."


"Aku udah nyampe di tengah perjalanan. Baru tiba-tiba aku mendapatkan panggilan dari nomor Richard. Orang yang bersamanya berkata kalau Richard itu keracunan alkohol." ujar Stevenson sembari memperhatikan jalan.


"Terus...."


"Kenapa Rachel bisa ada disana juga?" tanya Sherin sesenggukan. Air mata sudah menetes dari kedua sudut matanya.


"Karena rumah sakit itu milik orang tuanya." sahut Stevenson.


"Benarkah?" tanya Sherin menyakinkan pendengarannya.


"Iya sayang...."


"Jangan nangis lagi dong. Kan sebentar lagi udah mau jadi Mommy. Masak masih cengeng begini." rayu Stevenson. Pria itu tidak mau istrinya berpikir tidak-tidak. Sehingga berdampak pada kandungannya. Tentu saja pria itu bahagia mendengar kehamilan istrinya. Apa lagi bayi yang di kandung istrinya merupakan bayi kembar seperti dirinya.


"Ingat apa yang aku ucapkan saat kita dinner dua bulan lalu. Ingat makna dari mawar putih yang aku berikan untuk kamu. Semuanya akan bermakna sama. Jadi selalu berpikir positif dan jangan stress." ujar Stevenson.


"Apa kamu mau makan sesuatu?" tanya Stevenson lagi. Pria itu menghentikan mobil pribadinya di parkiran supermarket.


"Buah apa? apa kamu mau ikut aku masuk atau menunggu aku di dalam mobil?" tanya Stevenson menatap istrinya. Pria itu menghapus jejak air mata di kedua pipi cabi istrinya.


"Buah naga.... Buah kiwi.... Baru...."


"Daging sapi. Aku ingin kamu membuatkan pie daging sapi untukku." ucap Sherin berbinar.


"Aku akan menunggu kamu di dalam mobil." sambung Sherin.


"Baiklah.... Jangan keluar dari mobil." tegas Stevenson.


Pria itu lalu masuk ke dalam supermarket membeli buah dan daging pesanan istrinya. Pria itu tidak lupa membeli beberapa sayur hijau seperti brokoli, bayam dan kangkung kesukaannya.


Tak beberapa lama Stevenson keluar dari supermarket menenteng dua kantong belanjaan.


"Apa kamu tidak mau makan sesuatu dari luar?" tanya Stevenson sebelum melajukan kendaraannya.


"Ney.... Aku mau kamu memasak pie sapi untukku." ujar Sherina penuh harapan.


"Baiklah.... Aku akan membuatkannya untuk istriku." ujar Stevenson.


Kendaraan yang mereka tumpangi melaju meninggalkan parkiran supermarket.


#


#


Di Apertemen


Stevenson membuatkan pie daging sapi untuk memenuhi rasa ngidam istrinya. Sementara Sherin dengan sabar duduk di samping meja makan menunggu pie kesukaannya matang.


1 jam kemudian pie yang dimasak Stevenson matang. Ia meletakkan dua piring pie di atas meja tanpa lupa menambahkan beberapa potong brokoli di piring istrinya.


"Sayang makanlah. Supaya zat besi kamu terpenuhi. bayi-bayi kita juga sehat sampai lahir." ujar Stevenson.


Ia juga membuatkan dua gelas jus buah naga. Satu untuk istrinya dan satu untuk dirinya.


Sherin memasukkan sepotong demi sepotong pie daging yang suaminya buatkan. Ia meresapi kenikmatan rasa masakan suaminya sembari memejamkan mata.


"Terima kasih suamiku untuk makanannya." ujar Sherin tersenyum hangat. Ia menghabiskan makanan yang disajikan suaminya di piringnya.


"Sama-sama." ujar Stevenson menatap hangat wajah bahagia Istrinya.


#


#


2 bulan kemudian


Perut Sherin sudah terlihat lebih buncit dari sebelum-sebelumnya. Ia juga seringkali merasa lelah dan pusing. Seringkali suaminya mengingatkannya agar mengambil cuti kuliah dan istirahat di rumah saja sampai bayi mereka lahir. Tapi sifat keras kepala istrinya membuat Stevenson terkadang malas. Pria itu tetap melakukan yang terbaik untuk istrinya dan kandungannya.


"Sayang hari ini istirahat saja. Kamu tidak usah ke kampus ataupun ke cafe. Aku juga hari ini mau mengerjakan tugas kuliah. Kalau ada apa-apa telpon aku secepatnya." ujar Stevenson mengingatkan istrinya. Pria itu mengecup lama kening istrinya.


"Daddy pergi dulu. Jangan nakal di dalam perut Mommy!" ujar Stevenson mengecup lama perut buncit istrinya.


"Ingat pesan Daddy." ujar Stevenson lagi mengingatkan istrinya.


"Siap pangeran kutub!" ujar Sherin memberikan hormat kepada suaminya.


Cup Cup Cup


"Mengemaskan." ujar Stevenson mengecup berulangkali bibir merah Istrinya.


.......***Bersambung***.......