
"Sayang.... apa kamu baik-baik saja?" seru Steven mengetuk pintu kamar mandi berulangkali.
"Aku tidak apa-apa. Bayi kita sepertinya mau dekat-dekat dengan Daddynya." ujar Livia dengan suara serak dari dalam kamar mandi.
"Buka pintunya, aku mau melihat keadaan kamu secara langsung." pinta Steven. Entah mengapa ada sedikit rasa cemas di lubuk hati Steven.
Cklek
Livia langsung membuka pintu dari dalam mendengar nada khawatir dari suaminya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Steven dengan cepat memperhatikan tubuh istrinya dari kepala hingga ujung kaki.
"Hem, peluk...." seru Livia dengan suara serak.
"Apa kamu habis menangis?"
Steven mengamati mata sembab istrinya dengan teliti.
"Apa ada yang mengganjal di hatimu? atau ada yang kamu inginkan?" tanya Steven lagi.
"Aku tiba-tiba merindukan Papa dan Mama." gumam Livia dengan suara serak.
"Apa kamu ingin bertemu dengan mereka? aku pasti menemani kamu menemui mereka." ujar Steven mendekap tubuh bergetar istrinya.
"Jangan sedih.... apa kamu tidak kasihan dengan calon anak kita. Dia pasti sedih melihat Mommynya sedih."timpal Steven mengelus perut rata istrinya.
"Jangan takut mengutarakan isi hatimu. Aku akan menuruti semua kemauan kamu, selama aku masih mampu mengabulkannya."
"Ayo kita tidur siang, sepertinya Albiano juga sudah mengantuk." ajak Steven menarik lembut tangan istrinya. Steven tersenyum hangat melihat apa yang dilakukan putranya diatas tempat tidur.
Ternyata Albiano sudah tidur lelap di atas tempat tidur. Gaya tidur berantakan putranya membuat Steven sangat gemas.
Sementara disisi lain
Greyson dan Gionino terlihat masih berada di kandang cheetah.
"Sepertinya mereka menyukaimu. Apa kau mau menjadi tuannya di masa depan?" tanya Greyson kepada cucunya.
"Hem.... sepertinya aku tertarik dengan ucapan Opa, aku akan memikirkan ucapan Opa terlebih dahulu." sahut Gionino masih asik dengan kegiatannya.
Sifat Gion terasa sangat berbeda dari anak seusianya. Biasanya anak seusianya akan merengek ingin bertemu orang tuanya saat berjauhan. Namun anehnya anak itu tidak merengek sama sekali ketika berjauhan dengan Stevenson dan Sherina.
"Apa kau tidak merindukan Mommy dan Daddy mu?" tanya Greyson menatap cucunya.
"Bukankah dulu mereka juga meninggalkan bersama Grandma dan Grandpa di Kolombia. Dan sepertinya mereka juga ingin menambah anggota baru lagi."
"Aku sudah besar sekarang, Opa. Aku bukan anak berusia satu tahun yang masih minta susu." terang Gion tiba-tiba terlihat seperti pria dewasa.
"Wow! perkataan mu terasa seperti perkataan seorang pria yang dewasa. Opa tidak sabar melihatmu tumbuh dewasa."ujar Greyson berjongkok di depan kedua cheetah kesayangannya.
"Apa kau mau berlatih bersama anggota klan king?" tanya Greyson tanpa mengalihkan pandangannya dari cheetah kesayangannya.
"Apa mereka memiliki kemampuan sehebat Daddy, Aunty, dan Uncle?" tanya Gionino.
"Tidak, Tapi kemampuan mereka pastinya melebihi seorang pemula." sahut Greyson membuat Gion langsung tersenyum lebar.
Mereka melangkah menuju lapangan tempat latihan para anggota klan king. Greyson sangat yakin kalau Gionino memiliki kemampuan yang hebat. Namun, ia juga belum tahu kemampuan apa yang akan dimiliki Albiano saat dewasa nanti.
...***Bersambung***...