
Seluruh keluarga besar Greyson dan sang istri satu persatu mulai datang ke mansion klan king. Mulai dari Gabi dan keluarganya serta Silvia dan keluarganya. Meyer dan Dena juga tidak lupa hadir di acara itu. Setibanya di California, mereka tiba-tiba menerima undangan dari Greyson. Mau tidak mau mereka juga harus datang. Rachel juga ikut serta bersama mereka berkat bujukan sang istri.
Suara canda tawa terdengar menggema di mansion megah itu. Sementara pelayan dan anggota klan king tetap melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
Sementara Albiano dan Gionino sudah mulai akrab. Mereka bermain di kamar yang sudah disiapkan Greyson dan Stevi.
"Albi, apa kau tahu. Gadis, oh salah maksudnya anak kecil perempuan yang kau lihat tadi adalah saudari kembarku. Dia memang sangat jahil dan sedikit menyebalkan." bisik Gion menghentikan kegiatannya.
"Benarkah?" tanya Albi mulai nyaman dengan sifat ramah Gion. Sifat itu mengingatkannya kepada Haykal.
"Tentu saja benar. Namun, meskipun kami kembar, tapi kami memiliki nasib yang berbeda." ujar Gion dengan suara bergetar.
Ia kembali mengubah raut wajahnya, ketika melihat raut bingung di wajah Albiano. "Sudahlah.... lupakan, apa yang aku katakan tadi. Yang penting kau jangan takut padanya. Dia pasti semakin senang melihatmu juga bisa melihatnya. Jadi, bukan cuma aku yang bisa melihatnya, tapi kau juga bisa melihatnya." terang Gion lagi.
"Hem, Albiano.... apa kau tidak ingin tahu seperti apa wajah Daddy mu? aku juga baru beberapa hari yang lalu bertemu Daddy dan Mommy ku, setelah lima tahun tidak bertemu." curhat Gion membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar mereka.
"Benarkah? tapi Albi hanya dirawat oleh Papi, Grandma dan Grandpa." ujar Albi mengikuti langkah Gion membaringkan tubuhnya.
"Itu karena mereka tidak tahu kau ada dimana. Bisa saja kau diculik atau sengaja dijauhkan dari orang tua kandungmu." celetuk Gion tiba-tiba.
Membuat Albiano terdiam
"Sudahlah.... tidak usah dipikirkan. Sebentar lagi kau akan melihat wajah Daddy dan Mommy mu. Wajahmu pasti sangat mirip dengan Daddy mu. Sama seperti wajahku dan wajah Daddy ku." sambung Gion melihat Albiano terdiam.
"Apa kau mau mendengar ceritaku?" tanya Gion mencairkan suasana.
"Cerita apa?" tanya Albiano penasaran.
"Apa kau tahu, aku pernah mengompol saat pertama kali melihat arwah saudari kembarku." ujar Gion membuka aibnya, hingga membuat Albiano tertawaan cekikikan.
"Apa itu benar?"
"Aku tidak membual sama sekali. Aku benar-benar mengompol saat itu." ucap Gion dengan wajah serius. Ia tidak malu sama sekali menceritakan aibnya kepada saudaranya itu.
"Aku merasa bangga padamu. Karena kau tidak ngompol saat melihat saudari kembarku." timpal Gion.
"Seperti hari ini aku sangat cerewet. Lalu bagaimana denganmu? apa kau tidak mau mengenal kedua orangtuamu?" tanya Gion penasaran.
"Aku hanya punya Papi, Gion...." ucap Albiano dengan lirih.
"No, kau harus memanggilku Kakak atau Abang. Karena aku lebih tua setahun dari usiamu." sela Gion.
"Baik Abang Gion." ucap Albiano. Wajah anak kecil itu langsung berubah merah merona. Ia merasa malu sekaligus senang mendengar panggilan Albiano.
"Ya bagus, panggil aku Abang. Karena panggilan itu terdengar bagus telingaku." ujar Gion tersenyum lebar.
"Kita masih terlalu kecil mengerti dengan urusan orang dewasa, Albi. Tapi, mulai dari nanti malam, kau akan lihat sebaik apa Daddy dan Mommy mu."
"Sama halnya dengan Daddy dan Mommy ku. Mereka menuruti semua yang aku pinta dan melakukan yang terbaik untukku." terang Gion mendudukkan tubuhnya.
"Menurutmu apa yang bisa kita lakukan di kamar sebesar ini?" tanya Gion turun dari kasur.
"Membuat kamar ini berantakan, mungkin." ujar Albiano ikut turun dari kasur.
"Ya, kau benar. Tapi, Oma pasti kecewa melihat hasil dekorasi buatan tangannya dihancurkan dalam dua jam." ucap Gion ragu-ragu.
Namun suara tembakan dari luar mansion tertangkap pendengaran mereka.
Dor
Dor
Dor
"Aku tahu apa yang harus kita lakukan." ujar Gion menarik tangan Albiano keluar dari kamar.
...***Bersambung***...