
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan keberadaan saudarimu?" tanya Stevenson kepada putranya.
"Sampai hari ini aku belum menemukan kabar mengenai keberadaan Xaviera, Dad. Tapi aku akan terus mengerahkan anggota klan king menemukan keberadaan Xaviera." ujar Gion kepada Stevenson.
Setelah mengobrol mengenai perusahaan yang sedang dikelola Gion. Stevenson keluar dari ruangan kerjanya dan melangkah menuju halaman belakang. Tak beberapa saat Gion juga melangkah keluar dari ruangan kerja Daddy-nya.
Gion melangkah menuju parkiran dan meninggalkan kediamannya.
"Sayang, dimana putra kita? Apa dia sudah pergi lagi sebelum menyapaku?"tanya Sherina menatap kedatangan suaminya.
"Gion akhir-akhir ini sedang sibuk mengerjakan tesisnya, Sayang. Apa lagi putra kita sudah mulai sibuk mengelola perusahaan warisan Daddy."balas Stevenson mengelus kepala Sherina.
Sherina langsung cemberut mendengar perkataan suaminya. Ucapan itu tentu saja tidak bisa di bantah oleh ibu satu anak itu. Sherina tidak bisa lagi melahirkan seorang anak setelah keguguran beberapa kali.
"Aku merasa kesepian. Hanya Gion yang kita punya." curhat Sherina dengan wajah sendu.
Stevenson dengan cepat memeluk istrinya. Ia sampai hari ini belum mengatakan kalimat terakhir yang diucapkan Stevi. Ia tidak mau memberikan harapan palsu kepada istrinya. Apa lagi sampai hari ini, Stevenson belum menemukan keberadaan putrinya.
Di perusahaan
Gion menatap data para calon karyawan baru di perusahaan yang dipimpinnya. Data seorang karyawan baru menarik perhatiannya.
"Wanita ini...."
"Hans!" panggil Gion dengan suara nyaring.
"Iya, Tuan muda." sahut seorang pemuda tampan masuk ke dalam ruangan Gion.
"Aku mau wanita ini yang menjadi sekertaris ku." seru Gion dengan tegas.
Pemuda itu langsung mengambil data wanita yang dimaksud Gion.
"Ternyata Tuan muda memiliki selera yang bagus." ujar pemuda itu membatin.
"Baik, Tuan muda. Saya akan meminta wanita ini datang bekerja mulai besok pagi." ujar Hans ingin meninggalkan ruangan Gion, namun dihentikan oleh ucapan tegas Gion.
"Baik, Tuan muda. Saya unduh diri." jawab Hans keluar dari ruangan Gion.
"Ternyata wanita itu sudah Noona-Noona." gumam Gion mengingat-ingat data wanita yang akan pemuda itu jadikan sebagai sekertaris-nya.
Dan benar saja, Hans langsung menghubungi wanita itu secara khusus. Baru kali ini Gion mau menerima sekertaris wanita dengan tangan terbuka. Hans tentu saja tidak akan menolak kesempatan ini. Karena dengan adanya sekertaris baru, maka pekerjaan Hans akan semakin berkurang.
"Selamat siang, Nona. CEO hotel Royal meminta Anda mulai masuk bekerja hari ini." ujar Hans singkat dan padat.
Sementara seorang wanita yang ada di seberang sana termenung lama setelah mendengar perkataan Hans.
[Mak-maksud Tuan, saya diterima bekerja sebagai sekertaris CEO?] tanya wanita itu memastikan pendengarannya.
"Ya, Anda benar. CEO hotel Royal sedang menunggu kinerja Anda. Saya berharap dihari pertama Anda bekerja, Anda mampu memberikan kesan terbaik untuk menyenangkan hatinya." ujar Hans tersenyum tipis.
[Ba-baik, Tuan. Saya akan segera bersiap-siap. Terima kasih.] balas wanita itu mematikan panggilan dari Hans.
"Cih! dasar! tidak sopan." omel Hans karena wanita itu mematikan panggilannya terlebih dahulu.
"Bagaimana?" tanya Gion tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer yang ada di atas meja kerjanya.
"Karyawan baru itu akan segera datang, Tuan." jawab Hans sedikit bingung dengan ekspresi aneh di wajah Gion.
"Tumben tuan muda bisa tersenyum seperti itu." gumam Hans dalam hati.
Sementara disisi lain
Seorang wanita dengan cepat mengakhiri panggilan telepon dari seseorang. Ia tidak mau membuang-buang waktu lagi. Karena kabar yang diterimanya hari ini merupakan kesempatan emas untuknya. Bekerja di hotel Royal merupakan idaman semua wanita.
"Kakak! Kakak mau kemana?" tanya seorang gadis berusia 20 tahun melangkah mendekati wanita itu.
"Amore...." Cicit wanita itu tersenyum hangat menatap gadis muda itu.