
Lain halnya dengan Stevenson yang sibuk menenangkan istrinya. Maka Gion masih sibuk dengan pikirannya setelah mendengar perkataan Sherina.
Suasana di ruangan itu sedikit hening hingga Gion beranjak menuju kursi kebesarannya. Gion tidak sanggup melihat kesedihan di wajah ibu yang sangat Gion cintai. Mengingat cerita masa lalu mengenai kelahirannya dan kembarannya. Membuat hati Gion tidak nyaman. Apa lagi melihat luka dalam di kedua bola mata Sherina.
Gion menghela napas panjang saat mendengar ketukan pintu dari luar ruangannya. Ia bisa menebak jika yang mengetuk pintunya adalah Arabella.
Tok
Tok
Tok
Tak beberapa lama tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.
"Masuk!" sahut Gion dengan wajah datar.
Dengan wajah berkeringat dan rambut sedikit kusut. Arabella masuk ke dalam ruangan Gion. Ia belum menyadari keberadaan kedua orang Gion.
"Apa Anda berniat mengerjai saya dengan meninggalkan saya sendiri di restoran itu!" ketus Arabella dengan berani.
"Apa Anda tahu, saya harus mengeluarkan biaya besar untuk sampai di perusahaan tepat waktu. Sementara saya harus berhemat untuk mengirit pengeluaran pribadi saya bulan ini!"
"Apa Tuan tidak lelah menyulitkan saya! Saya hanya ingin bekerja dan membiayai hidup saya dan adik saya! Saya juga harus menabung untuk mencicil hutang-hutang saya kepada Anda!" ketus Arabella tanpa takut sedikit pun. Ia benar-benar kesal dengan tingkah Gion.
"Anda hanya perlu membiarkan saya bekerja dengan tenang dan lihat bagaimana mana kinerja saya! Jika kinerja saya buruk...." Arabella menghentikan perkataannya dan menghembuskan nafas panjang.
"Anda bisa memecat saya." lanjutnya dengan tegas. Harapannya bekerja di perusahaan besar itu untuk menghasilkan uang. Bukan malah dipersulit seperti itu. Apa lagi dalam satu hari Arabella bisa menghabiskan uang tabungannya sebesar $100 untuk biaya transportasi saja.
"Apa kau sudah selesai berbicara?" tanya Gion dengan wajah datar. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya Gion benar-benar tidak menyangka kalau Arabella akan seberani itu berbicara ketus padanya.
"Sudah, Tuan!" jawab Arabella dengan raut wajah acuh tak acuh.
"Baiklah! Aku akan memberikan mu kesempatan untuk bekerja di perusahaan ku!" ucap Gion dengan wajah datar. Ia tidak mau memperpanjang perdebatan mereka di depan kedua orangtuanya.
"Benarkan Tuan?" tanya Arabella merubah raut wajahnya menjadi berbinar. Ia pikir Gion akan meminta bagian keamanan menyeretnya keluar dari perusahaan karena sudah berani berbicara lancang kepada Atasannya yang terkenal kejam dan arogan itu. Namun, Arabella tidak menyangka kalau Gion akan berbaik hati memberikannya kesempatan menjadi sekertaris nya.
"Benar. Selain itu sebagai atasan mu di perusahaan ini, aku memiliki tugas tambahan untuk mu...." Gion menghentikan ucapannya saat tanpa sadar melihat raut wajah penasaran kedua orangtuanya.
"Kau harus menjadi asisten pribadiku! Kau juga harus menyiapkan keperluan pribadiku! Dan jangan lupa menu makan yang harus aku makan setiap hari!" lanjut Gion dengan senyum kemenangan. Ia yakin Arabella akan menolak tugas tambahan darinya.
"Jika kau tidak bersedia... kau bisa angkat kaki dari perusahaan ini sekarang juga!" tegas Gion kembali dengan wajah datar.
Sementara Arabella langsung menyetujui perkataan Gion. Ia tidak mungkin menolak tugas tambahan yang diberikan pria itu.
"Baik. Saya setuju dengan tugas tambahan yang Tuan berikan!" jawab Arabella tanpa ragu sedikitpun.
"Ckckck! Dasar perempuan matre!" gerutu Gion dengan suara pelan.
"Apa Anda setuju, Tuan?" tanya Arabella dengan wajah tenang.
"Okey, deal! Sekarang kau bisa keluar dari ruanganku. Aku akan memberikan waktu selama 1 bulan untuk menilai kinerja mu!"
Arabella langsung membalikkan tubuhnya setelah mendengar perkataan Gion. Ia keluar dari ruangan Gion dengan wajah berseri-seri.
"Aku akan membuat Anda mengakui kinerja saya, Tuan angkuh!" gumam Arabella melanjutkan pekerjaannya.
Sementara di dalam ruangan CEO. Sherina senyum-senyum sendiri melihat tingkah Arabella. Gadis itu benar-benar berbeda dari beberapa karyawan yang bekerja di perusahaan Royal. Gadis itu sama sekali tidak takut dengan kekejaman putranya. Malahan gadis itu dengan berani menantang putranya.
"Benar-benar gadis langka." gumam Sherina masih bisa di dengar oleh Stevenson.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh sayang." kata Stevenson mengingatkan istrinya. Ia tahu Arabella telah memberikan kesan yang istimewa di hati Sherina. Apa lagi tingkah Arabella mengingatkannya kepada sang sahabat. Tak lain dan tak bukan adalah Alexa pada saat mereka masih remaja dan akan beranjak dewasa. Gadis Barbar dan suka berkata ketus dengan orang asing.
Sherina berdehem pelan sembari menatap putranya. "Jangan terlalu kejam kepadanya. Bagaimanapun gadis itu merupakan tulang punggung keluarganya." nasehat Sherina sembari beranjak dari sofa ruangan tamu yang ada di ruangan kerja Gion.
"Dan juga jangan lupa dengan perjodohan itu. Jika kamu ingin menolak perjodohan itu. Lebih baik segera cari gadis baik-baik yang akan menjadi pendamping hidupmu. Ingat! Daddy tidak mau ada kata perceraian!" tambah Stevenson merangkul pinggang istrinya keluar dari ruangan Gion.
Gion merasa kepalanya tiba-tiba pening setelah mendengar perkataan ayahnya. Pria itu benar-benar belum siap menikah dalam waktu dekat.
Ceklek
Arabella langsung berdiri dari duduknya saat mendengar pintu ruangan CEO terbuka. Saat gadis itu mengangkat wajahnya. Ia terkejut melihat Sherina dan Stevenson keluar dari ruangan Gion.
"Sejak kapan kedua orang tua Tuan Gion ada di ruangan CEO?" gumam Arabella dengan wajah pucat.
"Apa mereka sedari awal sudah mendengar perkataan ku yang terdengar sangat tidak sopan kepada putra tunggal mereka yang sudah menjabat sebagai CEO di perusahaan mereka?"
"Gawat-gawat! Bagaimana jika aku dipecat secara tidak hormat hari ini juga!" monolog Arabella dalam hati bergelut dengan pikirannya.
"Tidak perlu cemas.Aku tidak akan memecat mu. Karena aku lebih tenang putraku di dampingi oleh sekertaris tegas dan tidak mudah ditindas seperti mu!" kata Sherina tersenyum lembut menatap wajah pucat Arabella.
Sementara Stevenson hanya menatap datar ke arah Arabella. Ia tidak suka menunjukkan sifat ramahnya di depan orang lain selain keluarganya.
Sherina dan Stevenson lalu masuk ke dalam lift dan berlalu dari meja kerja Arabella.
Arabella tentu saja langsung bernafas lega mendengar perkataan ibu dari atasannya.
"Syukurlah..." lirih Arabella menatap kepergian sepasang suami-isteri itu. Setelah mereka menghilang Arabella lalu melanjutkan pekerjaannya.