
Di Starbucks
Ekspresi Haykal berubah menjadi cemas sekembalinya dari kamar mandi.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya ayahnya menatapnya ekspresi khawatir putranya.
"Sepertinya malam ini kami harus terbang ke Spanyol Yah. Albina tiba-tiba menghilang dari rumah sakit. Perbedaan jam antara dua negara membuat perawat yang menjaganya baru saja mengabari Haykal mengenai hilangnya Albina." ujar Haykal mejelaskan apa yang dijelaskan perawat tadi
"Sayang apa es krim yang kamu makan sudah habis? kita harus segera pulang." ujar Haykal menghapus bekas es krim di sudut bibir putranya.
"Sudah ayok." ujar Albiano berdiri dari duduknya.
Albiano sedari tadi merasa tidak nyaman dengan area dadanya. Kepalanya juga sedari tadi berkunang-kunang.
Tiba-tiba Albiano pingsan dan jatuh ke lantai saat akan melangkah melewati Alexa. Karena memiliki insting yang kuat, gadis itu langsung membalikkan tubuhnya saat mendengar sesuatu jatuh dibelakang nya. Belum lagi suara langkah Haykal terdengar jelas di telinganya. Ia melihat anak kecil yang tadi tersenyum kepadanya terjatuh di hadapannya.
Alexa dengan cepat mengangkat tubuh Albiano ke pangkuannya. Ia melihat darah segar mengalir dari hidung pria kecil itu.
Tangannya Alexa gemetar melihat wajah pucat Albiano. Ia merasa ada ikatan batin antara dirinya dan anak kecil itu.
"Terima kasih sudah menolong putra saya nona." ujar Haykal tanpa mengalihkan pandangannya dari putranya.
"Biarkan saya yang menggendong putra saya." sambungnya mengambil Albiano dari pangkuan Alexa.
Pria itu cukup khawatir dengan wajah pucat putranya. Apa lagi Ia merupakan dokter penyakit bedah yang cukup berpengalaman dengan penyakit dalam. Tentu saja Haykal khawatir melihat darah segar mengalir dari hidung putranya.
Sementara orang tua Haykal juga tersenyum kecil mengucapkan terima kasih kepada Alexa sebelum keluar dari Starbucks. Alexa masih gemetaran melihat darah tadi. Ia benar-benar takut melihat keadaan wajah pucat Albiano.
Haykal mengemudikan kendaraan roda empatnya menuju rumah sakit dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia harus menunda keberangkatan mereka ke Spanyol sampai tubuh Albiano kembali sehat.
#
#
Haykal dengan cepat melangkah ke ruangan dokter anak sembari mengendong putranya. Sementara kedua orangtuanya tertinggal jauh di belakangnya. Pria itu terlalu menghawatirkan kondisi Albiano sehingga tidak lagi sempat memerhatikan kedua orangtuanya.
"Tolong periksa putra saya." ujarnya kepada dokter sebayanya.
"Baik dokter. Tunggu sebentar." ujar dokter wanita itu memeriksa keadaan Albiano.
"Sepertinya putra anda mengalami kelelahan. Ia harus rawat inap sampai tubuhnya benar-benar sembuh." ujar dokter itu membersihkan darah yang sudah mulai mengering di hidung Albiano.
Haykal menyesal mendengar perkataan dokter itu. Andaikan Ia tidak membiarkan putranya menghabiskan waktunya di bawah terik matahari. Kemungkinan mereka sudah terbangun ke Spanyol malam ini.
"Secepatnya Ia akan sadar dari pingsannya. Dan sebentar lagi perawat akan memasangkan infus di tangan putra anda."
Tak beberapa lama seorang perawat masuk membawa infus kemudian memasangkannya di punggung tangan Albiano.
"Terima kasih." ujar Haykal menatap dokter dan perawat yang memeriksa keadaan Albiano.
"Sama-sama dokter." sahut mereka bersamaan sebelum keluar dari kamar rawat putra Haykal.
Haykal membawa Albiano ke rumah sakit tempatnya bekerja sehingga dokter dan perawat tadi bisa mengenalnya.
"Sayang cepat lah sembuh...."
"Bukankah kamu rindu dengan Mommy?"
Cup
Haykal mengecup lama kening Albiano, Anak yang selama ini Ia besarkan penuh dengan kasih sayang. Pria itu lalu mendudukkan bokongnya di atas kursi di samping ranjang putranya. Tak beberapa lama terdengar suara pintu terbuka
Cklek
...***Bersambung***...