
Dua pasang suami istri masih tertidur pulas sembari bersandar di kepala ranjang. Kedua pria itu belum berganti pakaian sama sekali. Namun tidak dengan dua orang wanita yang sudah di tempatkan di kamar sebelahnya lagi. Kamar itu memiliki satu pintu yang dapat menghubungkan dua kamar yang bersebelahan.
Kedua wanita itu sudah di rias dengan begitu cantik dan elegan. Mereka terlihat mengenakan gaun mewah berwarna putih. Wajah mereka juga sudah di poles dengan make up. Untuk mempercantik penampilan mereka.
Tak beberapa lama kedua wanita itu mengerjapkan mata mereka berulangkali. Mereka merasa leher mereka sedikit pegal. Karena posis tidur mereka tidak seperti biasanya. Berjam-jam para pelayan melakukan perawatan ke seluruh kulit tubuh Livia dan Sherina. Agar kulit mereka terlihat lebih bersih, putih, lembut dan kencang.
Setelah mereka melakukan perawatan tubuh, beberapa orang perias mulai merias wajah mereka dengan posisi duduk. Karena efek obat bius masih belum hilang. Mereka tidak mungkin menunggu Sherina dan Livia bangun baru dirias. Karena waktu yang di berikan Greyson sangat mepet.
"Aw..."
"Kenapa leherku sangat sakit...." lirih Sherina menyentuh tengkukan-nya. Ia merasa kepalanya juga sedikit pusing.
Sementara Livia tidak memperdulikan rasa pegal di tubuhnya. Karena sedari tadi matanya terpaku pada penampilan Sherina. Ia sangat kagum melihat make up tipis yang dipoles di wajah Sherina. Bukan hanya itu, gaun pengantin berwarna putih juga ikut membalut tubuhnya. Ia belum menyadari penampilannya.
"Kamu sangat cantik...." gumam Livia memuji penampilan Sherina.
Sherina langsung mengalihkan pandangannya ke arah depannya. Ia juga ikut terpaku ketika melihat penampilan Livia.
"Cantik...." gumam Sherina tersenyum tipis.
"Kamu juga sangat cantik." puji Sherina tersenyum tulus.
"Kamu siapa? mengapa kamu bisa ada disini?" tanya Sherina. Karena Ia belum pernah bertemu dengan Livia sama sekali.
"Livia...." gumam Livia dengan sedikit pelan. Ia merasa sedikit canggung ketika mendengar pertanyaan Sherina.
"Perkenalkan namaku Sherina Lendsky." seru Sherina tersenyum manis. Ia mengulurkan tangannya menjabat tangan Livia.
Tiba-tiba Sherina menepuk dahinya pelan, ketika Livia berniat membalas jabatan tangannya. Sherina sebenarnya tidak menyadari gerakan tangan Livia.
"Aish...."
"Douglas...." gumam Livia menatap wajah Sherina dengan teliti.
"Ya! kau benar. Dulu aku memakai nama belakang Papaku. Namun sekarang aku menggunakan nama belakang suamiku." jelas Sherina.
"By the way.... mengapa kita menggunakan gaun pengantin seperti ini?" sambung Sherina sedikit risih dengan gaun kembang yang membalut tubuhnya.
"Seperti pengantin baru saja. Padahal aku sudah menikah lima tahun lalu." ujar Sherina lagi membuat jantung Livia ketar-ketir.
"Apa kau juga mengenal Steven?" tanya Livia memberanikan diri.
"Ya, aku mengenalnya sangat dalam. Kami sedari bayi tinggal bersama. Aku menyukainya sedari kami kecil. Dan dia adalah cinta pertamaku selain Papaku." seru Sherina dengan mata berbinar. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Karena pada kenyataannya, Sherina benar-benar mencintai suaminya.
Air mata mengalir dari kedua sudut mata Livia. Sedari awal Ia tidak mau berpikir yang tidak-tidak. Namun mendengar perkataan Sherina membuatnya yakin jika pria yang dimaksud Sherina adalah Steven.
"Kami juga sudah memiliki seorang putra berusia 5 tahun. Putra kami sangat baik dan pengertian." sambung Sherina tersenyum tipis. Ia tidak tahu kesimpulan seperti apa yang mengalir di pikiran Livia.
"Oh iya. Mengapa kamu dirias seperti ini?" tanya Sherina menatap wajah penata rias yang berdiri di sampingnya.
"Ini semua kami lakukan atas perintah Tuan Greyson, Nona muda." sela kepala pelayan menghampiri Sherina. Ia memang ditugaskan Greyson mengawasi dan memeriksa kinerja para pelayan dan penata rias. Karena Ia ingin rencananya berjalan dengan maksimal.
"Papa mertua?" tanya Sherina lagi memastikan pendengarannya.
"Iya, Nona muda." sahut kepala pelayan itu.
BRAK
...***Bersambung***...