
Di Hotel Royal California
Tak.... Tak....Tak....
Seorang gadis cantik masuk ke sebuah ruangan mengenakan pakaian yang cukup modis dan fashionable. Gadis itu tersenyum hangat melihat pria yang dicintainya sedang sibuk dengan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya.
Sementara asisten pria itu sedang berdiri di sebrang meja kerja pria itu mendengar penjelasan atasannya.
Stevenson dan asistennya Richard mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu masuk. Ketika mereka mendengar suara ketukan sepatu high heels milik seorang wanita melangkah mendekati meja kerja Stevenson.
"Stevenson." panggil wanita itu tersenyum hangat menatap Stevenson.
Tanpa dipersilahkan duduk, wanita itu langsung duduk di sebrang meja kerja Stevenson.
"Rachel?" seru Stevenson menatap datar wanita di depannya.
Stevenson melirik sekilas kearah Richard, lalu menatap Rachel kembali "Rachel, Mengapa kau tiba-tiba datang ke sini tanpa memberitahu asistenku terlebih dahulu?"
Perkataan Stevenson menghentikan gerakan gadis itu. Gadis itu menghela napas pelan mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Stevenson.
"Richard. Apa kau lupa memberikan informasi kepadaku. Kalau Rachel akan berkunjung ke perusahaan...."
"Mengapa kau membiarkan Rachel datang kesini sendirian?" sambung Stevenson mengalihkan ucapan-nya sebelumnya.
Pria itu lalu mengedipkan sebelah matanya agar asistennya keluar dari ruangannya.
Gadis itu terdiam sebentar meresapi ucapan Stevenson. Terkadang gadis itu merasa Stevenson benar-benar pria yang kaku dan tidak bisa menghargai kesungguhan seorang wanita. Gadis itu kemudian memperlihatkan senyum hangatnya saat tatapan Stevenson mengarah padanya.
"Rachel...."
"Ada kepentingan apa kau datang ke perusahaan? hari ini aku cukup sibuk bekerja di perusahaan dan tidak memiliki waktu kemana-mana." sambung Greyson menatap datar Gadis yang duduk di hadapannya.
"Tidak masalah...."
"Aku akan menunggu mu hingga selesai bekerja." Kekeuh Gadis itu tidak mau menyerah mendengar usiran halus Stevenson.
"Baiklah, kalau begitu tunggu sampai aku selesai bekerja." pasrah Stevenson.
Gadis itu lalu melangkah menuju sofa ruang santai milik Stevenson. Ia mengamati foto-foto yang terpasang di ruangan kerja Stevenson. Gadis itu tersenyum kecil ketika menatap foto mengemaskan masa kecil Stevenson.
#
#
Tok...tok...tok
"Stevenson. Apa kau masih lama selesai bekerja?" tanya gadis itu dengan sabar.
"Astaga.... Aku sampai lupa kalau kau masih ada di ruangan ku...."
"Apa kau merasa bosan? kau bisa membaca beberapa buku di sofa ruangan sana" sambung Stevenson menunjukkan ruangan santai yang tidak jauh dari meja kerjanya.
"Atau apa kau mau keluar menghirup udara segar?" tawar Stevenson lagi melihat wajah sendu gadis di hadapannya.
"Richard...." panggil Stevenson. Pria itu kemudian melanjutkan pekerjaannya sembari menunggu kedatangan asistennya.
Gadis itu mencoba menahan mulutnya untuk tidak menggerutu mendengar panggilan Stevenson.
"Lagi-lagi aku harus pergi bersama asistennya." kesalnya dalam hati.
"Saya, Bos." ujar Richard berjalan tergesa-gesa
"Hantarkan Rachel menghirup udara segar di taman perusahaan atau ke Cafe di depan perusahaan." ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang ada ditangannya. Pria itu bertingkat seakan-akan dia sedang sibuk.
"Nona Rachel silahkan ikut saya." ujar Richard mempersilahkan Rachel untuk beranjak dari duduknya
Rachel hanya bisa sabar dan menatap sedih dengan perlakuan Stevenson.
"Kalau gitu aku pergi dulu." ujar Rachel menatap sedih kearah pria yang dicintainya. Sudah lebih dari empat tahun gadis itu menunggu sampai Stevenson sadar bahwa Rachel mencintainya dengan tulus. Namun lagi-lagi pria itu mengabaikannya, dan selalu berpura-pura sibuk dengan bisnis dan dunianya.
"Sampai jumpa di lain waktu." sambung gadis itu lagi. Rachel kemudian melangkah keluar dari ruangan Stevenson dengan muka muram, diikuti oleh Richard.
Sementara Stevenson hanya menatap datar kepergian gadis itu dan asistennya yang tidak terlihat lagi.
Ingatan Stevenson kembali ke dua hari yang lalu. Aura kemarahan dan kecemburuan terlihat jelas di wajahnya.
"Aku akan mengabulkan permintaan mu dulu." batinnya
......***Bersambung***......