
4 bulan setelah pernikahan mereka
Meyer dan istrinya mendapatkan kabar jika putrinya masuk ke rumah sakit. Mereka juga sudah tahu kalau putrinya sedang mengandung.
Setibanya di rumah sakit, Meyer menyuruh istrinya duluan masuk ke dalam kamar inap putrinya. Pria itu beralasan menemui dokter untuk menghilangkan kecurigaan istrinya.
Pria itu lalu melangkah mengikuti seorang wanita yang sangat pria itu kenal. Tak beberapa lama mereka tiba di parkiran mobil.
"Apa kau tinggal menetap di negara ini?" tanya Meyer menghentikan langkah wanita itu.
Wanita itu lalu membalikkan tubuhnya menatap siapa gerangan yang berbicara kepadanya.
"Oh my God.... Aku baru sadar ternyata kau ada disini juga." sahut gadis itu menatap remeh kearah Meyer.
"Bagaimana? apa anak kesayanganmu itu sudah mati?" sambung wanita itu sinis.
Meyer tertegun melihat sorot mata kebencian di kedua mata putrinya. Bukan hanya itu ucapan putrinya juga membuatnya tambah terkejut.
Namun "Rachel!!" bentak Stevenson tiba-tiba mengalihkan dunia mereka masing-masing.
Stevenson tiba-tiba sudah muncul di samping mereka. Rachel dan Meyer sangat terkejut mendengar bentakan Stevenson.
"Apa kau berniat mencelakai istriku? apa kau juga yang menyewa seseorang mengirim pesan ini...." tanya Stevenson memperlihatkan sebuah foto di layar retak ponsel istrinya.
"Apa kau akan diam saja ******!!" teriak Stevenson.
Pria itu sangat murka menerima hasil penyelidikan dari anak buahnya.
"Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu Stevenson. Aku selalu melakukan yang terbaik untuk menarik perhatianmu. Namun.... Kau malah diam-diam menikah dengannya!!" bentak Rachel menatap sendu Stevenson.
"Jika kau memang Papaku. Tolong bantu aku menyakinkan pria ini. Ka-kalau aku sangat mencintainya." lirih Rachel mengeluarkan air matanya. Ia menatap penuh harapan kepada Meyer.
"Papa sangat yakin...."
"Akan hadir seorang pria yang benar-benar tulus mencintaimu." bujuk Meyer lagi menepuk-nepuk bahu putrinya lembut.
Rachel menepis tepukan itu saat mendengar respon Papanya.
"Apa hanya karena aku anak yang tidak diharapkan sehingga kau meninggalkan ku bersama wanita itu?" tanya Rachel menatap sinis kearah Meyer.
"Itu tidak seperti yang kau pikirkan sayang. Mama mu lah yang membawa mu pergi tanpa sepengetahuan Papa." terang Meyer menatap lembut putrinya.
"Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan mu!!" ujar Stevenson memotong pembicaraan ayah dan anak itu.
Stevenson mencengkeram kasar pergelangan tangan Rachel. Pria itu tidak mampu mengendalikan amarahnya di depan Papa mertuanya.
"Stevenson Stop!!!" teriak Rachel berusaha melepaskan cengkraman tangan Stevenson.
"Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan mu di kantor polisi. Aku tidak mau mendengar teriakkan mu ******. Aku tidak akan mentolerir perbuatan mu walaupun kau adalah saudara kandung istriku!!" bentak Stevenson. Pria itu semakin mencengkram pergelangan tangan Rachel.
"Apa kau akan diam saja melihat anak mu di perlakukan seperti ini?" ujar Rachel menatap tajam Meyer.
Deg
Meyer menatap lama mata sembab putrinya.
"Apa kau akan mendengarkan perkataan Papa jika Stevenson melepaskan tangan mu dan tidak menjebloskan mu ke penjara?" tanya Meyer.
"Iya.... Aku akan mendengarkan perkataan mu." ujar Rachel menahan air matanya agar tidak terjatuh lagi. Gadis itu merasa pergelangannya perih akibat tusukan kuku jemari Stevenson.
......***Bersambung***.......