
Pria itu melangkah ke kamar mandi membersihkan dirinya. 30 menit kemudian Ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh setengah telanjangnya. Setelah berganti, pria itu lalu membangunkan istrinya.
"Sayang bangun. Ini sudah malam." ujar Stevenson mengelus lembut rambut panjang istrinya.
"Engh.... Ini sudah jam berapa?" tanya Sherin tanpa membuka matanya.
"Jam 9 malam. Apa kamu tidak lapar?" tanya Stevenson lagi.
"Tubuhku terasa lelah." lirih Sherin membuka matanya. Ia memicingkan matanya menatap wajah segar suaminya.
"Kamu sudah mandi?" tanya Sherin menatap suaminya.
"Sudah. Apa kamu mau mandi juga?" tanya Stevenson.
"Tentu. Aku merasa tubuhku sedikit lengket. Tapi aku tidak sanggup berjalan." ujar Sherin menahan ngilu sekaligus perih di bawah sana.
"Kamu cukup diam saja. Aku yang akan memandikanmu." ujar Stevenson menyibakkan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Pria itu lalu menganggkat tubuh istrinya lalu membawanya masuk ke kamar mandi.
Stevenson meletakkan tubuh istrinya di dalam bathtub yang sudah Ia isi penuh dengan air hangat aroma terapi.
Dengan telaten Stevenson memijat kepala istrinya dengan lembut. Pria itu juga menggosok punggung putih istrinya. Sementara Sherin berusaha menahan rasa geli di tubuhnya akibat sentuhan suaminya.
"Sayang.... Apa kau merasa nyaman dengan pijatan ku?" tanya Stevenson membilas rambut istrinya.
"Hem.... Ini cukup nyaman Ney...." ujar Sherin menikmati pijatan suaminya. Stevenson mengecup sekilas dahi istrinya.
Cup
"Setelah selesai mandi. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita." ujar Stevenson membilas tubuh istrinya.
Tak beberapa lama tubuh istrinya sudah terlihat lebih bersih dan segar. Pria itu lalu memakaikan kimono ke tubuh istrinya.
Stevenson menggendong Sherin keluar dari kamar mandi. Pria itu lalu meletakkan tubuh istrinya di atas kasur lalu berlalu menuju lemari pakaian.
Tak beberapa lama, Stevenson kembali dengan dress selutut di tangannya.
"Pakailah ini." ujarnya menyerahkan dress itu.
Sherina menatap lama dress yang di berikan suaminya.
"Untuk apa aku mengenakan dress di dalam apertemen?" tanya Sherin mengerutkan dahinya.
"Apa hanya dress? Pakaian dalamnya mana?" tanya Sherin menatap suaminya.
"Sayang.... Apa kau tidak risih mengenakannya saat itu mu masih perih?" tanya Stevenson menaik-turunkan alisnya menatap mesum ke arah istrinya.
"Apa kau akan memintanya lagi setelah ini?" tanya Sherin polos.
"Enggak...." sahut Stevenson.
"Syukurlah." lega Sherin menghela napas.
"Enggak nolak maksudnya sayang...." ujar Stevenson berlari keluar kamar.
Pria itu akan menyiapkan dinner romantis untuk pertama kalinya. Dari pada honeymoon keluar kota atau luar negeri. Bukankah lebih baik honeymoon di rumah saja. Rasanya juga tidak akan jauh beda pikirnya.
Sementara Sherina melotot mendengar perkataan suaminya.
"Dasar suami enggak sayang istri." ujar Sherin cemberut.
Gadis itu lalu mengenakan pakaian yang di berikan suaminya. Ia cukup penasaran dengan maksud perkataan suaminya.
#
#
Di Dapur
Stevenson dengan telaten menyiapkan beberapa menu untuk mereka nikmati dinner malam ini. Pria itu ingin membuat kesan makan malam romantis khusus untuk istrinya.
Stevenson membuatkan dua piring pasta dan juga hidangan penutup potong buah anggur. Pria itu juga menghidangkan daging sapi lada hitam dengan potongan brokoli. Tak lupa sebotol wine dan dua gelas kecil kosong.
Ting tong
Tak beberapa lama terdengar suara bel dari luar apertemennya. Dengan cepat Stevenson melangkah menuju pintu keluar.
Cklek
...***Bersambung***...