
"Dengan tuan Lorens" tanya seorang kurir buket.
"Iya benar. Saya sendiri." ujar Stevenson.
"Buket pesanan anda Tuan." ujar kurir itu menyerahkan buket besar berisi beberapa tangkai bunga mawar putih.
Stevenson lalu menandatangani kertas sebagai tanda pria itu sudah menerima buket yang Ia order sebelumnya. Ia kemudian menutup kembali pintu apartemennya. Pria itu meletakkan buket itu di samping kursi yang akan di tempati istrinya.
Stevenson meletakkan beberapa lilin di lantai dan di atas meja membentuk simbol cinta. Pria itu mematikan semua lampu penerangan di sekitar meja makan.
"Mengapa jantungku berdebar seperti ini." gumamnya menetralkan degup jantung.
"Hah...." Stevenson menghela napas pelan sebelum melangkah kembali ke kamar yang Ia dan isterinya tempati.
"Apa kamu sudah mengenakan pakaian yang aku berikan?" tanya Stevenson melangkah mendekati ranjang.
"Sudah.... Lihatlah...." ujar Sherin menyibakkan selimut yang menutup tubuhnya.
Stevenson tersenyum puas melihat pakaian yang dikenakan istrinya.
"Dia terlihat seperti istri pengoda." monolognya dalam hati.
"Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk mu." seru Stevenson mengangkat tubuh istrinya.
"Benarkah? aku cukup penasaran dengan apa yang sudah disiapkan pria kaku dan dingin seperti pangeran kutub ini." ujar Sherin tersenyum manis menatap wajah berseri-seri suaminya.
"Mengapa ruangan ini gelap?" tanya Sherin mengerjapkan beberapa kali matanya.
"Sabarlah.... Buka matamu saat aku sudah menurunkan mu." ujar Stevenson
Tak beberapa lama mereka sampai di ruangan yang tidak terlalu jauh dari ruang makan. Pria itu lalu menurunkan tubuh istrinya.
"Saat aku bilang buka. Baru kamu buka matamu." ujar Stevenson.
Pria itu kemudian melangkah menuju meja mengambil buket bunga mawar putih yang sudah Ia beli tadi.
Stevenson berdiri di depan Stevi sembari mengulurkan buket bunga ke hadapan istriknya.
"Sekarang kamu boleh membuka mata." bisik Stevenson di telinga istrinya.
"Ini...." lirih Sherin mengalihkan pandangannya ke wajah suaminya.
"Apa kau menyukainya?" tanya Stevenson menatap mata berkaca-kaca istrinya.
"Aku juga menyiapkan buket ini untukmu." ujar Stevenson menyerahkan buket bunga mawar putih kepada Sherin.
"Ney...." lirih Sherin menghapus air matanya yang mulai mengalir deras.
"Aku memberikan warna bunga ini sebagai simbol pernikahan kita. Aku berharap lambang warna bunga mawar ini akan selalu melekat di hatimu dan pernikahan kita." ujar Stevenson menghapus air mata yang mengalir dari mata isterinya.
Pria itu menarik tubuh istrinya masuk ke dalam dekapannya.
"Ney.... Aku sangat mencintaimu" ujar Sherin mendekap erat tubuh kekar Stevenson. Gadis itu memejamkan matanya menyalurkan rasa cintanya. Ia juga bisa mendengar degup jantung suaminya.
Stevenson mengecup lama pucuk kepala istrinya. "Apa kau sangat nyaman berada di pelukanku? apa kau tidak ingin menikmati makanan yang sudah aku hidangkan di atas meja?" tanya Stevenson pelan.
Sherin melepaskan pelukan mereka saat mendengar ucapan suaminya. Ia menggeser sedikit tubuhnya kesamping menatap hiasan lilin yang di buat suaminya.
Jujur saja Sherin cukup terkejut dengan tingkah suaminya. Karena setahunya Stevenson merupakan sosok pria kaku dan dingin. Tersenyum saja jarang apalagi melakukan hal romantis seperti yang sekarang Ia alami. Bagaimana mungkin pria dingin dan kaku seperti Stevenson melakukan semua ini pikirnya.
"Apa kamu yakin. Kamu yang membuat semua ini?" tanya Sherin menatap intens suaminya.
"Apa kamu tidak percaya kalau aku yang melakukan semua ini." tanya Stevenson menaikan sebelah alisnya.
"Baiklah.... Aku memercayai mu pangeran kutub." ujar Sherin mengandeng tangan suaminya. Mereka melangkah menuju meja makan.
Stevenson dengan gentle menarik kursi untuk istrinya. "Silahkan nyonya Lorens." ujar Stevenson tersenyum manis menatap wajah bahagia istrinya.
"Terima kasih suamiku." ujar Sherin mendudukan bokongnya di atas kursi.
Stevenson kemudian duduk di seberang meja istrinya. Stevenson menuangkan segelas wine di depan istrinya.
"Enak juga." batin Sherin menyuapkan satu sendok pasta ke dalam mulutnya. Ia menatap hangat suaminya.
Raut wajah bahagia terlihat jelas di wajah sepasang suami istri itu.
......***Bersambung***......