
Sementara di luar ruangan beberapa anggota CIA mulai mengepung mansion yang di jadikan Mr Park sebagai markasnya.
[Hati-hati jangan sampai kalian terkena jebakan.] ujar seorang komando anggota CIA melalui Intercom yang terpasang di telinganya.
[Cepat selamatkan Davin dan Sherin terlebih dahulu!] tegas Alexa. Entah mengapa sedari tadi perasaan cemas melingkupi hati Alexa.
"Semoga kalian baik-baik saja." gumam Alexa dalam hati.
#
#
Stevenson melangkah menelusuri ruang bawah tanah mansion Mr Park. Pria itu menghipnotis setiap penjaga yang Ia lewati,sehingga saat Stevenson lewat, orang-orang akan melihatnya sebagai Mr Park.
"Bos." ujar anak buah Mr Park membungkukkan sedikit tubuhnya.
Stevenson tidak menanggapi sapaan ank buah Mr Park. Pria itu melanjutkan langkahnya melewati lorong yang cukup minim penerangannya.
Setibanya di depan pintu sebuah ruangan. Stevenson mendengar suara tamparan yang cukup keras dan menggema. Entah mengapa saat mendengar suara tamparan itu, darah di tubuhnya tiba-tiba mendidih.
Perkataan selanjutnya pria itu menghentikan langkah Stevenson. Pria itu terdiam cukup lama lalu menendang kuat pintu yang ada di hadapannya berulangkali.
BRAK BRAK BRAK
DUG
Darah Stevenson semakin mendidih melihat Mr Park berada diatas tubuh telanjang Sherin.
"Ney...." lirih Sherin menutup tubuhnya dengan dress yang sebelumnya Ia gunakan.
Dengan cepat Stevenson menarik tubuh berotot Mr Park dan menghajarnya berulangkali.
"Beraninya kau menyentuhnya!!" teriaknya mengeluarkan mata merahnya. Dengan brutal Stevenson membenturkan kepala Mr Park berulangkali ke tembok.
Mr Park dengan kuat mendorong tubuh tinggi Stevenson. Pria itu melakukan perlawanan dengan membalikkan keadaan. Ia mengungkung tubuh tinggi Stevenson.
"Apa kau mau menjadi pahlawan kesiangan menyelamatkan wanita malam sepertinya."
"OPS salah...."
"Dia bukanlah gadis lagi, ternyata dia sudah menjadi wanita. Apa kau juga pernah memakai jasanya?" ucap Mr Park menyeringai.
"Saat pertama kau menyentuhnya di Club, aku masih bisa menahan diri untuk tidak membunuhmu. Tapi tidak untuk kali ini." ujar Stevenson melangkah mendekati Mr Park.
Namun perkataan Sherin menghentikan langkah Stevenson saat berniat membunuh Mr Park.
"Ney.... Jangan membunuhnya dulu. Biarkan agen CIA yang menanganinya." lirih Sherin dengan suara serak. Air matanya tak kunjung berhenti mengalir. Hatinya sangat sakit mendapatkan pelecehan sekaligus penghinaan dari Mr Park.
Tak beberapa lama Alexa masuk ke dalam ruangan itu. Alexa cukup terkejut melihat keberadaan saudara kembarnya ada di sana. Di tambah lagi gadis itu melihat tubuh tanpa busana sahabatnya dan keadaan mengenaskan targetnya.
"Nanti kita bicara. Tolong bantu Sherin keluar dari sini. Kami yang akan mengurus sisanya." ujar Alexa lirih.
Stevenson lalu melangkah mendekati Sherin. Tanpa mengatakan apa pun, pria itu melepaskan jas nya, lalu memakaikannya di tubuh telanjang Sherin.
"Alexa.... Davin ada di ruangan sebelahnya" lirih Sherin sebelum keluar dari ruangan itu.
"Kembalilah bersama kembaran ku. Maaf sudah datang terlambat." lirih Alexa menahan air matanya. Gadis itu mulai berpikir yang tidak-tidak saat melihat tubuh tanpa busana Sherin.
Sementara Stevenson melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu sembari mengendong tubuh langsing Sherin.
#
#
"Tuan...." lirih Richard melihat seorang wanita berada di gendong tuannya.
Richard kemudian membukakan pintu penumpang untuk Stevenson.
"Rich kembali ke Apertemen." perintah Stevenson datar tanpa ekspresi. Pria itu mendudukan tubuh Sherina di pangkuannya dan mendekap tubuhnya.
"Ney...." lirih Sherina memanggil Stevenson
"Istirahatlah. Nanti aku akan membangunkan mu saat kita tiba di kota." ujar Stevenson tanpa menatap wajah pucat Sherin.
Sherin menatap kosong ke arah wajah datar dan dingin Stevenson.
"Lagi-lagi kau bersikap dingin kepadaku Ney." monolognya dalam hati. Sherin berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Cukup sudah rasa sakit dan perih di hatinya.
......***Bersambung***......