
Jesica lalu menyerahkan Albiano ke gendongan Greyson, ketika melihat keraguan di wajah Albiano.
"Maaf, Tuan." ucapnya sedikit segan berdekatan dengan Greyson. Meskipun sebenarnya Greyson sudah menganggapnya sebagai keponakannya.
"Apa kamu mau bertemu dengan Oma?" tanya Greyson mendekap hangat tubuh kecil sang cucu.
Ada desiran aneh dihatinya saat menggendong tubuh cucunya. Ia tidak percaya kalau sudah memiliki cucu sebesar Albiano. Melihat Albiano sebesar itu, membuat Greyson juga penasaran dengan cucu pertamanya.
"Oma?" tanya Albiano menatap Greyson.
"Mommy dari Daddy mu. Oma sedang memasak di dapur. Membuat makanan spesial untukmu dan sepupumu." jawab Greyson.
"Oh iya. Nanti malam jangan lupa datang ke mansion utama. Kita akan makan malam bersama." timpal Greyson menatap Jesica dan Robert bergantian.
"Baik, Tuan." sahut mereka bersama. Mereka lalu keluar dari mansion utama.
Sementara Greyson melangkah menuju dapur menemui istrinya.
Digendong Greyson, Albiano cukup takjub melihat mansion besar klan king. Anak kecil itu belum pernah melihat mansion semegah itu. Namun Albi langsung mengubah raut wajahnya seperti semula saat tiba di dapur. Meskipun Albiano masih kecil, namun ada sedikit rasa gengsi di hatinya. Apa lagi mengekspresikan wajahnya di depan orang asing.
Beberapa orang pelayan cukup terkejut melihat wajah familiar Albiano. Karena wajah anak kecil itu terlihat sangat mirip dengan Steven kecil. Mereka langsung mengalihkan pandangan mereka, saat melihat Greyson akan melintas di depan mereka.
"Sayang...." panggil Greyson menatap kearah istrinya.
Sementara Stevi masih sibuk membuat kukis, untuk para tamu spesial yang akan tiba di mansion klan king.
"Iya sayang...."
"Aku masih sibuk membuat kukis untuk kedua cucu kita." jawab Stevi tanpa mengalihkan pandangannya dari cetakan kukis tersebut.
Kedua mata Albiano berbinar cerah mendengar kata kukis, terucap dari bibir Stevi. Greyson melirik sekilas raut wajah cucunya. Seketika melintas ide brilian di otak encernya.
"Apa kamu menyukai kukis?" tanya Greyson menatap intens raut wajah cucunya.
"Kalau kamu menyukai kukis itu, kamu harus mau bekerja sama dengan Opa." bisik Greyson tersenyum menyeringai.
"Kerja sama?" tanya Albiano. Anak kecil itu lagi-lagi bingung dengan perkataan Greyson. Dihatinya juga sedikit bingung, sebenarnya dia ada dimana. Dan siapa orang-orang asing yang Ia lihat dan temui sedari tadi.
"Nanti Opa akan kasih tahu." jawab Greyson.
"Sayang, apa kue itu lebih berharga ketimbang melihat wajah tampanku?" tanya Greyson mencebikkan bibirnya pura-pura kesal.
"Sayang.... kue nya masih banyak yang belum dicetak. Dari pada melihat wajah keriputmu, lebih baik kamu membantuku mencetak kukis ini." pinta Stevi melanjutkan aktivitasnya.
"Apa kamu tahu. Dari California ke mansion klan king menggunakan private jet sangat cepat. Sementara untuk membuat satu kilogram kukis kering, kita benar-benar membutuhkan waktu yang cukup lama. Belum lagi kue bolu kesukaan Steven." sambungnya memasukkan satu loyang kue bolu ke open.
"Kamu bisa minta tolong kepada pelayan untuk membantumu sayang...." saran Greyson.
"Aku lebih suka membuat kue ini dari tanganku langsung. Apa lagi ini untuk kedua menantu dan cucu kita." jawab Stevi.
Stevi belum tahu sama sekali, kalau Steven dan Livia sudah tiba sedari tadi.
"Kamu akan menyesal, kalau tidak meluangkan waktumu melihat hadiah apa yang sedang aku bawa." ancam Greyson sedikit kesal dengan sikap keras kepala istrinya.
"Hadiah?"tanya Stevi lirih.
Akhirnya Stevi menghentikan aktivitasnya menatap kearah suaminya. Ia terdiam lama menatap Albiano yang juga sedang menatapnya. Mata kedua anak kecil itu terlihat berbinar menatap kearah Stevi. Lebih tepatnya kearah loyang kue yang baru saja dicetak Stevi.
"Say-sayang...." panggil Stevi terbata-bata.
"Me-mengapa wajah anak itu sangat mirip dengan wajahmu?" sambung Stevi masih terkejut.
Asumsi-asumsi negatif sudah mulai menghantui pikirannya. Wajah wanita setengah baya itu tiba-tiba berubah menjadi pucat.
...***Bersambung***...