IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Mansion Lendsky



Siang harinya di California


Stevenson dan Sherina naik ke pesawat jet pribadi milik keluarga Douglas. Setelah semalam mengantar Steven berangkat menuju Madrid Spanyol. Pesawat itu kembali lagi ke California mengantar Stevenson dan Sherina. Karena hanya pesawat itu yang memiliki sistem keamanan cukup canggih dan dapat menjamin keamanan mereka.


Sepanjang mengudara Sherina duduk di atas pangkuan suaminya. Ia cukup merasa nyaman berada di pelukan suaminya selama berjam-jam.


Stevenson dengan lembut mendekap tubuh langsing istrinya. Pria itu juga merasa senang dengan sikap manja istrinya. Istrinya juga masih tidur terlelap di pangkuannya.


"Tuan 15 menit lagi kita akan mendarat di lapangan luas mansion keluarga Lendsky." bisik asistennya pelan.


"Baiklah. Jangan lupa bawa hadiah yang sudah kita persiapkan untuk putraku." ujar Stevenson mengelus wajah bantal istrinya.


"Siap Tuan." ujar asistennya berlalu dari sana.


"Sayang bangun yuk. Pesawat udah mau mendarat di lapangan mansion keluarga kamu." ujar Stevenson mencubit gemas pipi cabi istrinya.


Ngeh...


"Hah...." Sherina menghela napas mengembalikan kesadarannya. Ia menatap keluar jendela pesawat. Sherina bisa melihat 2 jet pribadi, 5 pesawat tempur dan 3 helikopter terparkir rapi di lapangan mansion Lendsky.


Matanya berkaca-kaca melihat keadaan dibawah sana. Tempat itu mengingatkannya mengenai putranya. Sekarang putranya sudah berusia 5 tahun. Bukankah itu menandakan bahwa putranya sudah tumbuh besar dan cerdas. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan pria kecil itu.


Sherina yakin suaminya akan terkejut melihat rupa tampan dan wajah datar putra mereka. Ia lalu mengalihkan pandangannya kearah wajah rupawan suaminya.


"Ney.... Kau pasti tidak akan percaya melihat wajah tampan dan datar putra kita.


"Aku sudah pernah melihat rupanya dari foto yang dikirim papa mertua." ujar Stevenson cepat.


"Bukankah Putra kita terlihat seperti mu waktu kecil? Wajahnya datar dan tidak memiliki ekspresi. Kuharap sekarang pria kecil kita itu sudah berubah menjadi pria yang lincah dan cerdas. Dan kuharap...."


"Putraku tidak licik seperti mu." bisiknya di telinga suaminya.


"Tuan kita sudah berada di parkiran pesawat terbang mansion Lendsky." ujar Albert


"Jangan lupakan hadiah tadi." ujar Stevenson berdiri dari duduknya sembari menggendong tubuh istrinya.


"Emangnya kamu bawa apa sayang?" tanyanya penasaran


"Hadiah kecil untuk putra kita." ujar Stevenson menurunkan tubuh Sherina dari gendongannya.


Mereka berdiri lama di depan mansion megah milik keluarga Lendsky. Namun tiba-tiba sebuah anak panah meleset cepat dari belakang kearah mereka lebih tepatnya kearah Stevenson.


Pria itu dengan cepat menarik tangan istrinya agar tidak terkena tancapan anak panah itu. Wajah Stevenson berubah menjadi merah padam melihat anak panah itu. Ia merasa kesal mendapatkan sambutan seperti itu.


Sementara seorang anak kecil laki-laki berusia 5 tahun tertawa cekikikan menatap wajah kesal bercampur marah Stevenson. Anak kecil itu bersembunyi di atas pohon rimbun yang di tanam kakeknya di depan halaman mansion itu. Ia mengira yang datang tadi adalah seorang pelayan yang sering membuatnya kesal. Karena tidak mau menuruti permintaannya dibuatkan menu pie setiap hari.


Anak kecil itu tidak tahu jika kedua orang itu adalah orang tuanya. Karena posisi Stevenson dan Sherina sedang membelakanginya. Kakek dan neneknya selalu berkata jika Daddy dan Mommy-nya sedang bekerja di luar negeri. Mereka akan pulang jika pekerjaan mereka sudah selesai.


Anak laki-laki itu menikmati masa kecilnya dengan latihan menembak, memanah dan berburu. Ia ingin mewarisi kerajaan mafia kakeknya.


"Sayang masuklah terlebih dulu. Aku ingin mencari sesuatu sebentar." ujar Stevenson mengecup kening istrinya.


Stevenson yang memang memiliki pendengaran tajam langsung saja meleset mengikuti suara itu sembari membawa anak panah itu.


Pria itu terkejut melihat seorang anak kecil tertawa cekikikan diatas pohon sembari mengenggam busur panah. Anak kecil itu tidak sadar jika Stevenson sudah menemukan keberadaannya.


Stevenson mengamati raut wajah bahagia anak kecil itu. Setetes air mata keluar dari pelupuk matanya. Pria itu langsung menghapus air matanya agar tidak dilihat orang.


"Hey...."


"Apa ini milikmu?" tanya Stevenson menunjukkan anak panah yang dibawanya. Pria itu berusaha menahan teriakan kerinduan yang sedari tadi bergerumuh dihatinya.


Anak kecil itu menghentikan tawanya dan menurun pandangannya kebawah pohon. Mata Anak kecil itu membesar melihat wajah yang selama ini hanya bisa Ia lihat dari sebuah foto.


Anak kecil itu mengucek-ngucek matanya untuk memastikan penglihatannya.


.......***Bersambung***.......