
Mereka sarapan berdua hanya ditemani suasana hening tanpa obrolan. Hanya terdengar suara sendok makan yang saling bersahutan.
"Makanan yang kamu masak cukup enak Stevi." ujar Rinc dengan terus melahap nasi goreng yang sudah di masak Stevi.
Stevi yang mendengar ucapan Rinc hanya membalasnya dengan senyuman. Rinc yang melihat Stevi hanya tersenyum saja lalu melanjutkan perkataannya "Suatu hari jika kamu sudah menjadi seorang istri. Kurasa suamimu akan sangat merasa beruntung, memiliki istri yang pintar masak sepertimu!"
Mendengar ucapan Rinc, napsu makan Stevi seketika menghilang. Mungkin hanya dialah satu-satunya orang yang akan menjaga anaknya. Siapa yang mau dengan wanita sepertinya.? Memikirkan tentang pernikahan, Stevi bukannya tidak memikirkan apa yang akan orang katakan. Ketika dia kembali ke Indonesia, orang-orang akan bertanya kenapa dia sudah punya anak. Memikirkan itu Stevi mengelus pelan perutnya, lalu berkata dengan lirih.
"Aku tidak akan menikah. Aku hanya ingin hidup dengan anakku. Hatiku sudah ikut pergi, ketika aku mendengar kepergiannya." dengan menahan air matanya Stevi mengangkat kepalanya ke atas lalu menghembuskan napas pelan.
Mendengar ucapan lirih Stevi, seketika perasaan Rinc menjadi tidak enak. Rinc merasa bersalah menanyakan hal yang terlalu pribadi.
"Maafkan aku Stevi, jika aku sudah menyinggung perasaanmu." kata Rinc yang masih merasa bersalah.
"I'm Okey Rinc. Jika sudah selesai kamu boleh meletakkan piringnya di wastafel. nanti aku yang mencucinya. Sebentar lagi aku akan bekerja, Jadi aku harus bersiap-siap." ujar Stevi lalu melangkahkan kakinya berlalu menuju kamarnya.
Melihat kepergian Stevi, Rasa bersalah itu kembali menghantuinya. Dengan lirih Rinc berucap "Maafkan aku Stevi" gumamnya dengan mata berkaca-kaca. Beberapa saat kemudian Rinc sudah selesai makan lalu Rinc mengangkat piring kotor di atas meja. Rinc membersihkan piring kotor dan dapur dengan cekatan. Melihat ruang makan dan dapur sudah rapi, Rinc lalu melangkah ke arah pintu keluar. Dia ingin menikmati udara pagi di desa ini sekaligus menjernihkan pikirannya.
Stevi lalu menggunakan pakaian kerjanya. Pabrik tempatnya bekerja memang selalu menyediakan pakaian khusus untuk setiap karyawan. Dari pakaian yang di gunakan karyawan. Atasan bisa langsung mengenali posisi karyawan tersebut. Memang terlihat diskriminasi, namun itulah kenyataannya. Setelah selesai memakai pakaiannya, Stevi lalu melangkahkan kakinya keluar pintu. Dia selalu berjalan menuju pabrik tempatnya bekerja. Dia harus menempuh perjalanan sekitar 100 meter dari tempat tinggalnya.
Ditengah perjalanan dari jarak 5 meter, Stevi bisa melihat tetangga barunya sedang joging dikerumuni beberapa gadis desa dan ibu-ibu.
"Hallo Mister. Kamu terlihat sangat tampan" ujar seorang gadis
"Apa anda sudah memiliki istri atau pacar?" tanya yang lainnya
"Saya punya anak gadis yang cantik dan masih muda. Apa anda mau mengenalnya" ujar salah satu ibu paruh baya.
Rinc hanya membalas ucapan mereka dengan senyuman. Setiap kali dia melewati ibu-ibu dan gadis-gadis muda di desa itu. Dia akan disapa dengan senyuman menggoda. Rinc hanya merespon dengan senyuman lalu melanjutkan joging nya menuju salah satu pabrik yang sudah didirikan keluarga Douglas puluhan tahun lalu.
...***Bersambung***...