
Malam semakin larut, beberapa pegawai sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Sementara Emily dan Jenny memutuskan menunggu Sherin di ruangan istirahat.
Sherina menatap lama botol wine yang ada di atas meja. Stevenson mengikuti arah tatapan gadis itu.
"Apa dia tidak takut perutnya kembung terlalu banyak minum wine." monolog Stevenson pelan.
Saat tangan Sherin ingin menjangkau wine itu, tangan Stevenson menghentikan gerakan tangan Sherin.
"Sudahlah. Kau sudah minum terlalu banyak." ujar Stevenson memindahkan botol wine itu ke bawah meja.
"Hem... Ya aku terlalu banyak meminum wine di malam Natal kali ini." ujar Sherin membenamkan kepalanya di atas meja.
Stevenson tersenyum kecil mendengar ucapan Sherin.
"Apa kau tahu, dari setahun lalu aku sudah mengikuti mu tanpa sepengetahuan mu. Dasar gadis ceroboh. Ini kedua kalinya kau mabuk di malam Natal. Apa kau tidak takut orang lain akan mengambil keuntungan saat kau mabuk seperti ini." monolog Stevenson mengeser kursinya hingga menghadap Sherina. Pria itu mengelus lembut kepala Sherin.
"Tidak untuk lain kali." ujar Stevenson mengecup lama kepala Sherin.
Jenny tersenyum kecil melihat apa yang dilakukan Stevenson. "Nona beruntung memiliki pria perhatian seperti itu." gumamnya dalam hati. Gadis itu kemudian kembali masuk ke ruangan istirahat.
Malam semakin larut namun Sherin tak kunjung bangun. Stevenson lalu membangunkan Sherina agar Ia mengantarnya kembali ke Apertemennya.
"Sherin...." panggilannya mengelus lembut kepala Sherin.
"Apa kau akan tidur disini?" sambungnya terus mengelus kepala Sherin.
Bukanya bangun Sherina semakin terlelap dalam tidurnya. Ia merasa sangat nyaman dengan elusan lembut Stevenson di kepalanya.
Stevenson memutuskan mengangkat Sherina keluar dari cafe. Pria itu menggendong Sherina dan menidurkannya di kursi penumpang.
Stevenson kembali masuk ke dalam cafe berpamitan kepada Jenny.
"Aku akan membawa Sherina pulang. Jangan lupa cafe di kunci. Kalian bisa tidur di ruangan istirahat, jika mau menginap." ujar Stevenson kemudian berlalu dari sana.
Apa yang tidak pria itu ketahui. Pria itu juga tahu, jika cafe SM adalah milik Sherin.
"Baik Tuan." sahut Jenny.
#
#
Di Apertemen Stevenson
Pria itu membaringkan tubuh Sherin di atas kasurnya. Dengan telaten Stevenson melepaskan sepatu dan blazer yang melekat di tubuh Sherin. Ia lalu menyelimuti tubuh Sherin agar tidak kedinginan.
"Good night my sunshine" ujar Stevenson mengecup lama kening gadis itu. Stevenson kemudian keluar dari dalam kamar menuju ruangan kerjanya.
"Apa pria itu bercanda? atau aku yang salah dengar? my sunshine?" bisik Sherin membekap mulutnya sembari tertawa pelan.
"Dasar pria kutub, makan tuh gengsi." gumam Sherin tersenyum kecil. Ia tersenyum lega akhirnya bisa mendapatkan perhatian Stevenson.
"Aku yakin. Kau sudah jatuh cinta padaku. Tapi rasa gengsi yang dominan itu menyelimuti isi hatimu." ujarnya lagi sembari menatap langit-langit kamar.
"Mana mungkin aku bisa mabuk dengan kadar alkohol wine sekecil itu." monolognya tersenyum licik.
Sherina kemudian beranjak dari kasur. Gadis itu melangkah keluar dari kamar mencari keberadaan Stevenson. Setibanya di depan pintu ruangan kerja Stevenson, Sherin mengehentikan langkahnya.
Sherin langsung membuka pintu ruangan kerja Stevenson tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Cklek
Sherin melihat Stevenson berbaring di atas sofa ruang kerjanya. Gadis itu lalu melangkah ke arah sofa. Ia berjongkok di samping sofa menatap wajah Stevenson yang sudah terpejam.
"Apa kau tidak lelah berjongkok di bawah sedari tadi?" tanya Stevenson tanpa membuka matanya.
"Ah.... Aku pikir kau sudah tertidur terlelap." ujar Sherin cengengesan. Gadis itu langsung berdiri saat tahu Stevenson belum tidur.
Stevenson menarik tangan Sherin saat gadis itu berniat melangkah keluar.
"Ah.... Ney lepas! aku mau keluar" kesal Sherin berusaha melepaskan cengkraman kuat Stevenson di pergelangan tangannya.
"Apa kau akan pergi begitu saja?" tanya Stevenson memincing matanya menatap Sherin. Pria itu mengecup sekilas bibir Sherin
Cup
"Good night gadis ceroboh." ujar Stevenson melepaskan cengkraman-nya. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Sherin. Pria itu tersenyum kecil tanpa sepengetahuan Sherin.
Sherin terkejut dan hatinya berdebar mendapatkan kecupan spontan dari Stevenson, Gadis itu lalu melangkah keluar ruangan kerja Stevenson dengan hati berdesir.
"Kurasa pria itu sedang mabuk. Apa Stevenson ikut minum wine di cafe?" ujarnya sembari menyentuh bibirnya yang baru saja dikecup Stevenson. Pria yang sedari kecil sudah Ia dambakan.
"Atau aku saat ini sedang bermimpi?" ujarnya lagi sembari menepuk-nepuk pipinya.
"Ah.... Ternyata sakit." ujarnya meringis merasa lumayan sakit merasakan pukulan dari tangannya sendiri.
"Nyata." ujarnya tersenyum cerah. Gadis itu melompat-lompat kegirangan melangkah kembali ke kamar Stevenson.
.......***Bersambung***......
...Wajar ya masih ABG dibawah umur 20 tahun kalau jatuh cinta kek gitu 😂...