IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Sah



Stevenson dan Sherina tertegun mendengar perkataan putra mereka. Sherina langsung beranjak dari atas ranjang. Ia lalu melangkah menuju kamar mandi setelah mengambil pakaian santai di lemarinya.


Sementara Stevenson menatap sendu kepergian istrinya. Pria itu juga tidak mengira kalau perkataan itu akan keluar dari mulut putranya.


Stevenson lalu mendudukkan tubuh putranya di atas ranjang sehingga mereka saling berhadapan.


"Siap Tuan muda Douglas. Sepasang adik kembar akan segera launching." bisik Stevenson menggelitik perut putranya.


"Hahaha...."


"Stop Dad!"


"Hahaha...."


"Geli...."


Tawa mereka memenuhi kamar itu. Stevenson merasa hatinya bergetar melihat senyum lebar putranya. Untuk pertama kalinya pria itu merasa tersentuh dengan suasana seperti itu.


Sementara Sherina terdiam lama di depan cermin dekat wastafel di dalam kamar mandinya. Ia termenung lama memikirkan perkataan putranya.


"Semoga kamu segera hadir di perut Mommy." lirihnya mengelus perutnya. Setetes air mata terjatuh dari kelopak matanya. Sherina masih trauma dengan kejadian masa lalu. Ia takut kejadian lima tahun lalu akan terulang kembali.


Sherina menarik napasnya lalu menghembuskannya untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.


Tak beberapa lama Stevenson masuk ke dalam kamar mandi. Ia melihat istrinya sedang mencuci wajahnya di wastafel.


"Jangan terlalu memikirkan perkataan putra kita. Lagian Gion masih kecil dan belum mengerti dengan situasi sekitarnya.


"Hem...." ucap Stevenson memenangkan perasaan istrinya. Pria itu mengecup sekilas bibir istrinya lalu melangkah keluar dari kamar mandi.


Stevenson hari ini berniat berenang bersama putranya di kolam renang. Kapan lagi Ia akan menikmati waktu santai seperti ini. Beberapa hari lagi Ia juga harus kembali ke California mengurus bisnisnya.


Nanti malam pria akan memberitahukan kabar itu kepada istrinya. Sebenarnya Stevenson masih betah menikmati waktu luang bersama putra dan istrinya. Namun pria itu tidak mungkin meninggalkan pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai pewaris perusahaan Douglas.


Sementara pria itu tahu, kalau abangnya Steven sudah ditetapkan sebagai pemimpin klan king. Hal itu sudah direncanakan Daddy mereka dari jauh-jauh hari. Steven dididik dan dilatih dari usia belia agar mampu memimpin klan king di masa depan.


#


#


Steven tersenyum kecil melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Akhirnya keinginan ini kesampaian juga." ujarnya tersenyum puas. Ia menatap wajah wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


"Apa kau merasa lelah?" tanya Steven menatap dahi berkeringat istrinya. Mereka baru saja keluar dari salah satu katedral di Madrid. Mereka menikah hanya disaksikan oleh asistennya, pastor, dan juga beberapa jemaat.


"Mengapa kita baru menikah sekarang dan cincin ini...."


"Apa kita tidak memiliki cincin pernikahan yang lama?" tanya Livia menyeritkan keningnya menatap wajah Steven.


"Kita hanya mengulanginya saja. Cincin lama sudah kebesaran ditangan mu." sahut Steven berbohong. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya agar Livia yakin dengan ucapannya.


"Apa kita akan tinggal di penthouse milikmu?" tanya Livia antusias.


"Tentu..."


"Agar aku bisa memantau mu saat melakukan terapi." ujar Steven mengelap keringat yang membasahi dahi livia.


Meskipun Livia hanya mengunakan sedikit makeup di hari pernikahan mereka tapi parasnya masih terlihat cantik seperti pertama kali mereka bertemu.


"Aku merasa bahagia keluar dari rumah sakit itu. Aku tidak nyaman berada di rumah sakit dalam keadaan terkurung. Aku ingin melihat keindahan dunia luar." gumam Livia pelan menundukkan kepalanya.


Steven memposisikan tubuhnya supaya saling berhadapan dengan Livia. Saat tatapan mereka saling bertemu, Steven menatap dalam bola mata teduh istrinya. Pria itu melihat bola mata Livia menyimpan banyak luka dan kesedihan.


"Kau masih Livia yang lama. Hanya seorang Livia yang mampu membuat jantungku berdetak kencang saat berdiri di dekatnya dan hatiku bergetar saat bersentuhan dengannya." gumam Steven di dalam hati. Pria itu masih melihat luka dan kesedihan di dalam sorotan mata itu.


...***Bersambung***...