IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Part 3



Pagi harinya


Stevenson berjibaku dengan bahan-bahan masakan di dapur. Pria itu berniat membuatkan sarapan untuknya dan Sherin. Sementara Sherin masih terlelap di kamar Stevenson. Karena dari semalam gadis itu tidak bisa tidur memikirkan kecupan selamat malam yang di berikan Stevenson.


Tak beberapa lama Stevenson menyelesaikan masakannya. Pria itu membuatkan Pie dari daging sapi untuk breakfast pagi mereka. Ia lalu menyajikan makanan itu di atas meja. Tak lupa pria itu juga membuatkan yogurt untuk Sherin. Stevenson tersenyum kecil melihat sarapan yang sudah tersaji rapi di atas meja. Pria itu kemudian melangkah menuju kamarnya membangunkan Sherin.


Cklek


Stevenson tersenyum manis menatap wajah terlelap Sherin saat pintu kamar sudah terbuka.


"Dasar kebo." gumamnya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian melangkah mendekati tempat tidur.


"Hei.... Ayo bangun." ujar Stevenson membangunkan Sherin


Bukanya bangun, gadis itu semakin menenggelamkan kepalanya masuk ke dalam selimut.


"Baiklah.... Aku akan menggunakan cara lama jika kau masih tidak mau bangun." ancam Stevenson.


Sherin langsung terbangun mendengar ancaman Stevenson. Gadis itu mengucek-ngucek pelan kedua matanya memperjelas pandangannya.


"Apa kau berniat menyiram wajahku dengan air dingin seperti waktu kita masih kecil?"


"Tentu saja tidak. Sekarang aku sudah memiliki tubuh yang tinggi dan besar. Kau pasti sudah tahu apa yang akan aku lakukan?" ujar Stevenson menaikan sebelah alisnya.


"Aish.... Tentu saja kau akan menenggelamkan ku di dalam bathtub berisi air dingin." cetus Sherin cemberut.


Wajah cemberut Sherin terlihat semakin mengemaskan di pandanga Stevenson.


"Mandilah. Kau terlihat semakin jelek saat bangun di pagi hari. Itu merusak pemandangan mataku." cetus Stevenson mengejek Sherin.


"Benarkah?" tanya Sherin sembari beranjak dari atas kasur. Gadis itu berlari menuju kaca yang menempel di dinding kamar Stevenson. Dia bercermin lama memperhatikan wajah bantalnya.


"Apa kemaren aku menangis? sepertinya tidak. Mungkin karena baru bangun tidur." gumamnya pelan memperhatikan kedua matanya terlihat sedikit bengkak.


"Mandilah sebelum aku memandikan mu." ancam Stevenson melangkah keluar dari kamar.


Sherin langsung berlalu ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Apa lagi bau wine masih tercium jelas di pakaiannya.


#


#


Di ruangan makan


"Makanlah." ujar Stevenson menatap wajah segar Sherin.


"Hem...." gumam Sherin mendudukan bokongnya di atas kursi.


Mereka menikmati sarapan masing-masing tanpa tanpa saling mengobrol. Setelah selesai makan Stevenson mengangkat piring kotor bekas sarapan mereka.


Stevenson kembali duduk di meja makan, pria itu memperhatikan ketelatenan Sherin membersihkan dapur.


"Ney...."


"Bukankah kita terlihat seperti pasangan yang baru saja menikah jika seperti ini?"


Stevenson tertegun mendengar perkataan Sherin, pria itu terdiam beberapa saat.


"Aku senang sekali, jika bisa menikmati hari-hari seperti ini bersamamu."


"Apa kau tahu beberapa tahun lalu setelah kepergian kalian, papaku akhirnya kembali menjemput kami. Papa menemani hari-hariku setelah kepergian kalian. Setelah dua bulan di Brazil, papa mengajak kami pindah ke Kolombia negara asalnya." ujar Sherin sembari melanjutkan kegiatannya mencuci piring.


"Apa kau tahu aku selalu merindukan kalian. Rasa rinduku dapat terobati saat melihat gelang pemberianmu. Aku masih menyimpannya sampai sekarang."


"Setiap malam sebelum tidur, aku mengenggam gelang itu agar bisa tertidur nyenyak." sambung Sherin.


"Hah...." Sherin menghela napas


"Suatu hari, aku menghilangkan gelang itu saat bermain di halaman mansion papa."


"Apa kau tahu, aku menangisinya setiap malam. Sampai aku tidak mau makan. Sampai-sampai mama menceramahi tingkah kekanak-kanakan ku." jelas Sherin menahan rasa geli nya mengingat tingkahnya beberapa tahun lalu.


"Apa kau tahu...." perkataan Sherin terhenti saat Stevenson melingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang ramping gadis itu. Pria lalu meletakkan dagunya di puncuk kepala Sherin.


"Apa kau mau menikah muda denganku?" tanya Stevenson pelan


Hati Sherin berdesir mendengar pertanyaan Stevenson. Gadis itu terdiam lama lalu mengerjapkan beberapa kali matanya.


"Kita menikah diam-diam dan tinggal bersama di Apertemen ku." ujar Stevenson mempererat pelukannya.


Sherin membalikan tubuhnya mendengar perkataan Stevenson. Gadis itu menatap lama bola mata pria yang ada di hadapannya.


"Apa kau serius?" tanya Sherin menatap intens wajah Stevenson.


"Tentu saja." sahut Stevenson


"Aku juga ingin memastikan perasaan ku." lanjutnya dalam hati


.......*** Bersambung***.......


Promosi Karya Author Teti Kurniawati



...****Sembari menunggu Update dari Author jangan lupa mampir juga ke karya kak Teti Kurniawati Readers. Ceritanya juga enggak kala seru. Author nya juga suka crazy Up untuk para readers yang tidak suka nunggu update lama****...


...***Semoga Suka***...