IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Kumpul keluarga End



"Stevenson!" pekik mereka bersamaan melihat sang cucu datang-datang sudah mengendong seorang anak kecil.


"Apa kau juga melakukan kesalahan seperti abangmu?" tanya Nyonya Douglas berdiri dari duduknya.


"Sini kau anak nakal, Oma mau menjewer telinga mu." dengus Nyonya Douglas.


"Come on, Oma. Stevenson sudah menjadi seorang Daddy. Menjewer telinga pria dewasa yang sudah memiliki anak tidaklah baik." kelakar Stevenson tersenyum puas.


Semua orang tersenyum tipis mendengar ucapan Stevenson. Namun seseorang dari mereka tersenyum menyeringai menatap Stevenson.


"Kau juga harus dihukum, Son. Kau tidak bisa bebas kali ini. Hukuman satu minggu juga tidak masalah." ucap orang itu dalam hati.


"Cih!" Nyonya Douglas berdecih mendengar ucapan sang cucu. Atensinya beralih menatap seseorang dibalik punggung Stevenson.


"Kemarilah, Nak." panggil Nyonya Douglas kepada cucu menantunya. Sherina sedari tadi berdiri di belakang punggung Stevenson. Jadi keberadaan wanita itu tidak terlihat jelas.


"Sayang, Oma memanggil kamu tuh." ujar Stevenson mengeser sedikit tubuhnya kesamping.


Stevi tersenyum hangat menatap sang menantu. "Apa kamu tidak rindu dengan, Mommy?" tanya Stevi. Stevi sangat bahagia melihat gadis kecil 15 tahun lalu sudah dewasa.


Bukannya melangkah kearah Nyonya Douglas, Sherina malah melangkah kearah sang mertua.


"Aunty...."


"Aunty, apa kabar?" tanya Sherina mendekap tubuh Stevi.


"Panggil, Mommy! bukan Aunty!" ucap Stevi mengelus punggung menantunya.


"Iya, Mommy." ucap Sherina


"Mommy baik-baik saja. Bagaimana dengan kedua orang tuamu?" tanya Stevi melepaskan pelukan mereka.


"Mereka baik-baik saja, Mom."jawab Sherina.


Semua orang merasa jadi obat nyamuk mendengar obrolan meraka. Hingga perkataan Nyonya Douglas menghentikan obrolan mereka.


"Enggak istri, enggak suami, sama aja!" ketus Nyonya Douglas menyindir sepasang suami istri itu.


Mereka yang ada diruang itu berusaha menahan tawanya mendengar ucapan Nyonya Douglas. Sementara Sherina merasa tidak enak mendengar perkataan Nyonya Douglas.


"Udah sayang, enggak usah dengarkan ocehan Oma. Oma sedang bete tuh. Karena kamu lebih memilih mama mertua ketimbang nenek mertua." celetuk Stevenson mendudukkan bokongnya di atas sofa.


"Dasar bocah tengil! tahu aja isi hati Oma." celetuk Nyonya Douglas tiba-tiba.


Membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak. Sementara dua orang anak kecil laki-laki itu saling menatap.


"Bukankah wajah kalian sangat mirip Gion?" bisik seseorang di telinga Gionino.


"Hem...." gumam Gionino menatap wajah sembab Albiano.


"Son, apa kamu tidak mau memperkenalkan diri kepada Aunty, Oma, Opa dan juga keempat buyut?" tanya Stevenson menatap sang putra.


Gion mengalihkan pandangannya menatap Daddynya. Gion menganggukkan kepalanya mau memperkenalkan diri.


"Perkenalkan nama saya Sharven Gionino Douglas." ucap Gion percaya diri.


Tuan dan Nyonya Douglas tersenyum hangat mendengar ucapan sang cicit. Mereka tidak menyangka, kalau Dena dan Meyer menyematkan nama Douglas di belakang nama cicit mereka.


Sementara Tuan dan Nyonya Lorens tersenyum bahagia melihat cicit mereka. Mereka bersyukur diusia mereka yang tidak lagi muda. Mereka sudah di karunia dua orang cicit sekaligus.


Grace tersenyum menatap bergantian kedua keponakannya.


"Ternyata, cicit-cicit Buyut udah pada besar ya. Sebentar lagi akan tumbuh kecebong-kecebong baru." celetuk Nyonya Douglas menatap Sherina.


"Bukankah mansion klan king akan semakin rama, Oma?" sahut Stevenson menaik-turunkan alisnya.


"Ya, kamu benar. Semoga cicit-cicit Oma ketika besar nanti tumbuh menjadi anak yang baik-baik."harapan Nyonya Douglas.


"Mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang baik, Oma. Doa Oma tentu saja akan memberkati keluarga Stevenson." ujar Stevenson tersenyum hangat menatap sang Oma.


"Gion, Sayang.... apa kamu tidak mau menyapa sepupumu?" tanya Stevi menatap sang cucu.


"Hallo.... siapa namamu?" tanya Gion ramah.


"Albi...." sahut Albiano takut-takut.


"Mengapa kamu takut melihat sepupumu? dia tidak akan menyakitimu." ujar Stevi mengelus kepala sang cucu.


"Ayo salaman...." pinta Stevi menurunkan Albiano dari atas sofa.


"Jangan takut, Gion adalah putra dari saudara Daddy mu." timpal Stevi.


Gion langsung turun dari pangkuan sang Daddy. Ia Melangkah duluan mendekati Albiano, namun Albiano malah mundur.


"Jangan mendekat!" tunjuk Albiano kepada Gion membuat semua orang menyeritkan dahi mereka.


"Mengapa kau berkata seperti itu? aku tidak akan menyakitimu...." ujar Gion merasa aneh dengan wajah ketakutan Albiano.


"Sayang mengapa kamu ketakutan? Gion hanya ingin mengenalmu lebih dekat." ujar Stevi memenangkan sang cucu.


"Hua!!"


Lagi-lagi anak itu menangis kencang tanpa alasan yang jelas.


"Dia mengejek Albi! gadis itu jahat!"


"Albi mau pulang, Albi mau ketemu Papi." ucap anak itu dengan suara serak.


Gion yang tahu arti perkataan Albiano langsung mengalihkan pandangannya kebelakang. Ia melihat seorang gadis tertawa cekikikan dibelakang.


"Jangan mengganggunya! kau sangat-sangat menyebalkan!" ucap Gion tidak lagi takut melihat sosok itu.


"Sudahlah, Sayang.... nanti mereka juga akan akrab sendiri." ujar Nyonya Lorens.


"Iya, Ma." ujar Stevi mendudukkan Albiano di pangkuannya.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Greyson memotong pembicara mereka.


"Sudah di pesawat tadi. Apa kalian memasak hidangan istimewa hari ini?" tanya Nyonya Douglas.


"Iya, Mom. Stevi memasak beberapa hidangan khas Indonesia dan beberapa hidangan Korea." ujar Stevi membuat mata semua orang langsung berbinar.


"Aku sudah tidak sabar mencicipinya, Sayang." ujar Nyonya Douglas sedikit ngiler.


"Lebih baik kita makan dulu, sebelum lanjut mengobrol. Lagian masih banyak hal yang Daddy tanyakan kepada mu, Son." timpal Tuan Douglas.


Greyson menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Daddynya.


Mereka melangkah menuju ruang makan bersama-sama.


#


#


Di Kandang Cheetah


"Bagaimana? apa mereka sudah terbius?" tanya Jack kepada anggota klan king.


"Sudah, Bos. mereka sudah bisa kita masukkan ke kamar tamu."ujar anggota klan king membaringkan tubuh Steven dan Livia di atas rumput.


"Bawa mereka kesana tanpa sepengetahuan siapa pun." ucap Jack berlalu dari sana. Pria itu masih memiliki urusan lain. Ia juga harus mencari beberapa orang pelayan yang dapat membantunya.


Setibanya di mansion belakang, Jack langsung melangkah menuju kediaman para pelayan.


"Tuan...." sapa kepala pelayan melihat Jack datang ke kediaman para pelayan.


"Aku memberikanmu waktu selama 5 menit mencari 5 orang pelayan wanita dan 5 orang pelayan pria yang dapat dipercaya." ujar Jack mendudukkan bokongnya di kursi.


Pelayan itu dengan cepat melaksanakan perintah Jack. Ia mengetuk satu-persatu kamar pelayan yang sedang istirahat.


"Cepat keluar dari kamar dan temui Tuan Jack." ucap kepala pelayan dengan suara tegas.


"Ba-baik...." ucap mereka terbata-bata.


Mereka langsung keluar dari kamar masing-masing setelah mengenakan kostum pelayan.


Jack menatap pelayan itu satu-persatu dengan wajah datar.


"Aku mau kalian melakukan sesuatu." ujar Jack.


"Kalian harus membantu....."


...***Bersambung***...