IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Kekeliruan Livia



Obrolan mereka membuat Livia semakin berpikir jauh. Karena pada kenyataannya Livia tidak tahu kalau Steven memiliki nama yang hampir mirip dengan saudaranya. Bukan hanya nama, wajah mereka pun hampir mirip. Wajahnya yang sudah dipolesi make up mulai di banjiri air mata.


Tak beberapa lama terdengar suara bantingan pintu dari belakang mereka. Bukan pintu dari luar yang terbuka, tapi pintu penghubung antara dua kamar itu.


Steven berdiri di depan pintu menatap kearah Livia dan Sherina. Ia terpukau ketika melihat penampilan sang istri. Sementara sang istri masih bergelut dengan pikiran-pikiran negatifnya. Ia belum mengalihkan pandangannya kearah pintu itu.


Sherina terdiam lama menatap Steven. Karena Ia merasa tidak asing dengan wajah pria itu. Tak beberapa lama Sherina langsung berdiri dari duduknya, ketika melihat keberadaan suaminya di belakang punggung Steven.


Sementara Steven masih belum peka dengan tatapan Sherina. Karena tatapannya masih terpaku ke arah istrinya.


"Sayang...." panggil Steven agar istrinya mengalihkan pandangannya kearahnya. Karena ia cukup penasaran dengan penampilan istrinya. Posisi membelakangi seperti itu membuatnya tidak leluasa memandang penampilan istrinya.


"Sayang...." panggil Steven ulang membuyarkan lamunan Livia. Ia langsung menghapus air mata yang mengalir dari sudut matanya. Karena Ia tidak mau suaminya jadi berpikir yang tidak-tidak.


"Hem...." gumam Livia mengalihkan pandangannya ke arah pintu penghubung. Steven melangkah mendekati istrinya, senyum manis ikut terselip di wajah datarnya.


Sementara Sherina juga langsung melangkah ke arah pintu menemui suaminya. Senyum hangat tidak pudar sama sekali dari wajah sepasang suami-istri itu.


Livia merasa jantungnya berdetak dua kali lipat dari biasanya. Ia merasa suami yang dimaksud Sherina adalah suaminya.


"Apa yang dimaksud Sherina itu suamiku?" gumam Livia dengan pelan.


"Sayang..." panggil Sherina berlari ke arah Stevenson.


Sementara Steven menghentikan langkahnya mendengarkan suara Sherina. Karena Ia merasa tidak asing dengan suara wanita itu.


Ia menatap lama wajah Sherina memastikan penglihatannya.


"Sayang?" gumam Steven menyeritkan dahinya.


Stevenson tersenyum kagum menatap penampilan istrinya. Ia tidak menyangka Sherina akan terlihat lebih cantik dari sebelumnya.


Meskipun sebenarnya dalam hatinya Stevenson tidak rela melihat laki-laki lain ikut menikmati penampilan istrinya. Ia lebih suka istrinya terlihat cantik di depannya saja.


"Sayang.... mengapa aku di rias seperti seorang pengantin? apa ini rencana Daddy?" tanya Sherina tersenyum manis.


Alih-alih menjawab pertanyaan istrinya, Stevenson malah memuji penampilan istrinya. "Kamu sangat cantik. Jika hari ini kita mengulang kembali pernikahan kita. Berarti malam pertama kita juga akan di ulang kembali." seru Stevenson tersenyum menyeringai.


"Cih!" Sherina berdecih mendengar ucapan suaminya.


"Meskipun sebenarnya aku tidak rela pria lain menikmati kecantikan istriku." timpal Stevenson mengelus pipi istrinya.


Para pelayan dan penata rias ikut tersenyum mendengar pujian Stevenson kepada istrinya.


Sementara Steven masih terpaku dengan drama suami-istri itu. Lain halnya dengan Livia. Pada akhirnya, Livia bisa bernapas lega melihat Sherina tidak menghampiri suaminya. Ia menyimpulkan bahwa suami Sherina merupakan saudara dari suaminya.


"Hey! are you okey?" tanya Livia membuyarkan lamunan suaminya.


"Eh!Hem.... aku baik-baik saja sayang...."


"Kamu terlihat sangat cantik malam ini." puji Steven mengenggam tangan istrinya.


"Kamu juga terlihat semakin tampan bila mengenakan jas rapi seperti ini." seru Livia tersenyum manis.


"Apa ini bagian dari rencana ayah mertua?" tanya Sherina kepada suaminya.


"Entahlah.... aku juga kurang tahu." sahut Steven. Ia juga belum tahu rencana apa yang sebenarnya Daddynya lakukan.


"Tuan muda pertama dan kedua. Tuan memerintahkan kalian berjalan menuju halaman belakang." sela kepala pelayan menghentikan obrolan mereka.


Stevenson langsung mengenggam tangan istrinya dengan lembut. Begitu juga dengan Steven. Mereka masih belum tahu, sebenernya kejutan apa yang sedang menanti mereka.


...***Bersambung***...