
Di rumah sakit
"Apa nona ini sebelumnya ada memakan sesuatu?" tanya dokter umum menatap Steven.
"Iya, Livia hanya memakan sedikit pasta seafood."sahut Steven menatap ke atas ranjang yang di tempati Livin. Seorang perawat sedang membalut luka dalam di telapak kaki Livia.
"Gejala sesak napas merupakan salah satu ciri-ciri seseorang alergi terhadap makanan jenis tertentu. Alergi terhadap makanan jenis seafood adalah respons abnormal dari sistem kekebalan tubuh terhadap protein, racun, atau parasit yang terdapat dalam hewan laut. Beberapa orang bisa alergi terhadap semua jenis makanan laut, sedangkan sebagian lainnya alergi terhadap makanan jenis tertentu."
"Sepertinya Nona ini alergi terhadap makana jenis seafood."
"Sebaiknya lain kali lebih hati-hati lagi. Saya akan membuatkan resep obat untuk meredakan gejala yang di alami pasien." sambung dokter itu.
"Apa ada pertanyaan yang lain?" tanya dokter itu menatap Steven.
"Dokter mengapa tingkah laku seseorang bisa berubah-ubah dalam satu hari?"
"Dugaan saya, itu biasa dipengaruhi oleh tekanan, emosional, depresi ataupun gangguan psikis akibat trauma di masa lalu."
"Tapi lebih jelasnya pergi konsultasi ke dokter psikolog. Karena mereka yang lebih paham tentang psikologi seseorang." ujarnya meninggalkan Steven.
Steven merasa sedikit bersalah mendengar perkataan dokter itu. Pria itu lalu duduk di samping ranjang rawat inap Livia setelah perawat keluar dari ruangan itu.
"Bangunlah...."
"Aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku di masa lalu."
"Aku akan menemani mu sampai kau sembuh." ujar Steven menatap mata terpejam Livia.
Steven lagi-lagi mengingat kenangan pahit dimasa lalu yang membuat Livia menjadi seperti itu.
#
#
Steven melangkah menuju mini bar yang ada di apartemennya setelah mendapat penolakan dari Livia. Ia meneguk sebotol, dua botol wine yang ada di hadapannya. Tanpa sadar kadar wine yang terlalu tinggi membuat kesadarannya mulai menipis.
Hari semakin gelap
Steven lalu berdiri dari kursinya dan melangkah menuju kamarnya. Keadaan di kamarnya sudah gelap gulita.
Cklekk
Setibanya di kamarnya, Steven menarik tangan Livia dengan kasar saat ia melihat gadis itu sedang berdiri di depan jendela dekat balkon kamarnya.
Steven lalu mendorong kasar tubuh Livia ke atas ranjangnya. Pria itu kemudian naik keatas ranjang dan mengungkung tubuh Livia.
"Apa kau berniat kabur dari ku!!" bentak Steven dalam keadaan setengah sadar.
Livia cukup terkejut mendengar bentakan Steven.
"Apa kau minum wine tinggi alkohol?" tanya Livia mencium bau napas Steven.
"Apa peduli mu!" bentak Steven ******* kasar bibir Livia.
"Emhh...."
"Lepaskan!!" bentak Livia saat pria itu melepaskan ciumannya, namun Steven mengacuhkan bentakan Livia.
Livia mendorong kuat dada bidang Steven lalu Ia menampar pipi pria itu dengan kuat
Plak
"Kau bajingan!! brengsek!" teriaknya nyaring.
Tamparan Livia membuat Steven semakin emosi dan marah. Ia merasa tamparan itu bukti penolakan Livia kepadanya. Ia merasa harga diri, dan juga perasaannya diinjak-injak. Dengan agresif Steven ******* kasar bibir Livia tanpa memperdulikan rintihan kesakitan gadis itu.
"Aku mohon...."
"Lepaskan aku!!" teriak Livia berusaha melepaskan kungkungan tubuh tinggi dan kekar Steven.
Bukanya melepaskan kungkungannya, Steven malah berpindah mencumbui leher jenjang Livia penuh napsu.
Dengan kasar Steven menarik dress yang dikenakan Livia. Pria itu lalu menyampingkan CD yang menutupi sarang adik kecilnya.
"Aku akan merelakan sesuatu yang berharga ini untuk mu." ujar Steven mengarahkan adik kecilnya sejajar dengan sarangnya.
Pria itu langsung melakukan penyatuan setelah puas mencumbu Livia. Ia tersenyum puas sudah melepaskan keperjakaannya kepada Livia, wanita pertama yang berhasil mencuri hatinya.
......***Bersambung***......