IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Bab 52



Di kamar Greyson


"Lusa nanti, kemungkinan kalian akan aku bawa kembali ke Indonesia! Kita akan tinggal disana beberapa hari" ujar Greyson sembari mencari pakaian ganti di lemari


"Grey bagaimana bisa kau membawa kami ke Indonesia? Putraku masih berusia 10 hari?" ujar Stevi kesal mendengar ucapan Greyson yang seenaknya membawa mereka berpergian.


"Putra kita! Bukan putramu saja! Kita akan menaiki private jet yang dimiliki Klan King, kau tidak perlu khawatir mengenai itu" ujar Greyson memandang datar Stevi


"Aku belum siap kembali ke Indonesia" ujar Stevi memandang lurus ke arah putranya yang sedang berbaring di pangkuannya.


"Kenapa? Aku punya pertemuan di sana! Tidakkah kau merindukan kedua orang tuamu?" tanya Greyson memandang aneh Stevi yang menolak ajakannya.


"Ak..ku belum siap saja" ujar Stevi lirih memendam kesedihan di dalam hatinya. Jika boleh jujur dia sangat merindukan orang tuanya. Apa lagi dia belum memberi kabar sama sekali mengenai kelahiran putranya.


"Aku bukan cenayang yang bisa membaca atau meramal apa isi pikiranmu Stevi. Bicaralah apa yang membuatmu belum siap kembali ke Indonesia?" ujar Greyson dingin melihat Stevi yang sedari tadi hanya termenung dengan pikirannya sendiri


"Aku belum siap grey!! Aku benar-benar belum siap!!" teriak Stevi menatap tajam Greyson. Stevi paling tidak suka di paksa ataupun di tekan begitu.


Mendengar teriakan Stevi membuat Steven tersentak dari tidurnya. Air mata Steven sudah menggenangi kedua pelupuk matanya.


Oek..oek...oek


Mendengar teriakkan Stevi di depan anaknya seketika membuat Greyson menghentikan aktivitasnya, dia melangkah ke arah Stevi kemudian membawa Steven yang menangi kencang ke dalam dekapannya.


Sssss


"Anak Daddy" gumamnya mengelus lembut punggung putranya. Greyson memandang wajah Steven dengan tatapan penuh cinta. Mereka lalu melangkah ke arah balkon kamar Greyson.


Stevi hanya bisa menagis meratapi nasibnya melihat Greyson terus memaksanya dan hanya mementingkan egonya.


#


#


Greyson duduk di samping Stevi "Apa yang membuatmu belum siap pulang ke Indonesia? hmm?" tanya Greyson dengan lembut sembari mengenggam tangan Stevi


"Cih" decih Stevi menepis tangan Greyson "Apa kau sama sekali tidak pernah merasa bersalah Grey? Apa dengan meminta maaf saja semua akan kembali seperti semula?" tanya Stevi dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak tahu kenapa hatinya terasa kosong, dia tidak tahu apa tujuannya berada disini. Yang dia tahu, dia senang sekarang sudah ada malaikat kecilnya di dalam hidupnya.


"Aku sudah minta maaf. Aku tidak tahu bagaimana cara minta maaf yang baik kepada seorang wanita. Karena aku sedari kecil sudah di didik dengan keras di mansion Klan King selama bertahun-tahun. Aku hanya tahu membunuh, menembak,berbisnis, dan menghancurkan orang-orang yang mengusikku! lalu hal apa yang kau inginkan dariku?" ujar Greyson menatap datar Stevi. Dia tidak mau sifat dominannya akan keluar hingga memperumit semuanya.


Deg..


Stevi tertegun mendengar ucapan Greyson "Membunuh? menembak? Apa kau seorang Mafia berdarah dingin?" lirihnya sembari menatap tajam Greyson


"Pulangkan aku dan putraku ke Desa N" ujar Stevi lagi menatap tajam Greyson. Jika Greyson seorang mafia, maka hidupnya dan putranya akan selalu berada dalam bahaya. Bukan hanya itu mereka juga bisa saja akan menjadi incaran musuh-musuh Greyson di luar sana. Dia ingin hidup tenang, jauh dari dunia mafia, dia juga tidak suka di kekang dan dikurung seperti burung di dalam sangkar emas.


"Putra kita Stevi!! Bukan hanya putramu!!" sentak Greyson menatap tajam ke arah Stevi. Dia tidak suka mendengar ucapan Stevi seperti itu. Tiba-tiba angin berhembus kencang masuk dari jendela ke dalam kamar Greyson. Melihat itu Stevi semakin merasa takut, Apa lagi mansion yang mereka tinggali berada di tengah hutan rimbun.


Stevi melihat bola mata Greyson berubah menjadi warna merah darah "Grey matamu" ujarnya takut sembari menunjuk ke arah kedua mata Greyson. Perlahan Stevi mundur menjauh dari jangkauan Greyson.


Greyson mencengkeram tangan Stevi dengan kuat lalu dia berkata dingin "Jangan buat dia marah!" ujarnya menatap tajam kedua bola mata Stevi


"Grey sakit lepaskan!!" sentak Stevi berusaha melepaskan cengkeraman Greyson di tangannya


"Kita harus ke Indonesia" tegas Greyson mengendalikan rasa amarahnya, Seketika itu juga angin yang tadinya berhembus kencang dengan cepat mulai menghilang.


"Sial kenapa gue nggak bisa mengendalikannya!" gumamnya memejamkan kedua matanya


...***Bersambung***...