
Amore terkejut mendapati seseorang tiba-tiba memeluknya.
"Lepas!"
Amore mendorong tubuh pemuda itu dengan kuat, namun tenaganya tidak cukup kuat melakukannya.
"Xaviera.... Apa aku sedang bermimpi? Apa ini tidak nyata. Tolong pukul atau cubit tanganku agar aku terbangun dari mimpi ini." ujar pemuda itu membuat Amore terdiam.
"Kenapa kau tiba-tiba menghilang beberapa bulan ini. Aku sangat merindukanmu."
Sementara Arabella mengerutkan dahinya melihat adegan itu. Setahu Arabella, adiknya tidak memiliki teman selama ini. Karena adiknya sudah dirawat di di rumah sakit selama bertahun-tahun.
"Amore.... apa kamu mengenal pria ini?" tanya Arabella.
Amore langsung mendorong tubuh pemuda itu agar menjauh darinya.
"Amore benar-benar tidak mengenal pemuda ini kak." balas Amore merapikan pakaiannya.
"Amore..." lirih pemuda itu saat mendengar nama panggilan Amore.
"Apa kau menggunakan nama tengahmu?" tanya pemuda itu menatap gadis yang dikiranya Xaviera.
Amore menghiraukan pertanyaan pemuda itu.
"Kak, sebaiknya Kakak kembali ke dalam. Amore tahu waktu istirahat Kakak hanya satu jam. Jangan kecewakan atasan Kakak dengan kinerja yang kurang memuaskan di hari pertama Kakak menjadi karyawan baru. Amore juga sudah membawa bekal makan siang untuk kakak."
Amore menyerahkan bekal makan siang untuk Arabella.
"Masuklah... aku masih ingin menunggu Kakak sampai masuk ke dalam."
Amore tersenyum hangat menatap saudarinya. Ia tahu hanya Arabella yang dimilikinya sebagai tulang punggung keluarga. Karena Arabella tidak mengijinkan Amore bekerja.
"Baiklah... lain kali tidak usah datang ke sini. Kakak takut kamu kenapa-napa. Apa lagi kondisi fisik kamu belum terlalu stabil."ujar Arabella menerima bekal makan siang buatan adiknya.
"Udah sana." Amore mendorong tubuh Arabella agar segera masuk ke dalam hotel Royal.
Amore yang melihat Arabella sudah menghilang dari penglihatannya langsung membalikkan tubuhnya kembali ke tempat tinggalnya. Namun, perkataan pemuda itu menghentikan langkahnya.
"Hey! Xaviera. Apa kau lupa ingatan sehingga tidak mengenaliku?" tanya pemuda itu mendekati Amore.
"Cih! Aku benar-benar tidak mengenalmu." ketus Amore melanjutkan langkahnya.
Pemuda itu merasa sakit ketika mendengar Amore berkata tidak mengenalnya.
"Amore! berhenti!"
Pemuda itu menganti panggilannya
"Apa kau yakin?"
"Aku selama ini hidup dengan bantuan alat medis rumah sakit. Aku tidak memiliki teman kecuali saudariku. Dan kau tiba-tiba datang ke kehidupan ku dan bertingkah seperti orang yang benar-benar mengenalku."
"Cih... apa kau sedang bercanda?"
Pemuda itu terpaku menatap kepergian Amore. "Apa hanya kebetulan? Tapi kenapa mereka terlihat mirip?" gumam pria itu dengan pikiran berkecamuk.
"Ngapain kau disini?" tanya seorang pria tiba-tiba sudah berdiri di samping pemuda itu.
"Gion..." lirih pemuda itu menatap pria yang berdiri di sampingnya.
Tak beberapa lama seorang pemuda juga datang menghampiri mereka.
"Bang...."
"Albiano...." lirih pemuda tadi melihat Albiano juga berada disitu.
"Coba kau ceritakan apa yang baru saja kau lihat ke Abang." ujar Albiano. Ya pria yang bersembunyi dan menelpon Gion tadi merupakan Albiano yang tanpa sengaja melihat Arabella dan Amore. Namun, langkah Albiano terhenti ketika melihat George berlari menghampiri Amore dan Arabella.
"Aku melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Xaviera." ujar George menatap Gion dengan raut wajah serius.
"Tapi..."
"Namanya bukan Xaviera."
"Namanya Amore. Dan dia memiliki saudara yang berkerja di hotel ini."
"Kenapa dia menggunakan nama tengahnya?" tanya Albiano menautkan alisnya.
"Hans.... selidiki siapa sadari wanita yang mirip dengan Xaviera." ujar Gion.
"Bang.... dimana Michael dan Michelle? Apa mereka sudah kembali ke Indonesia?" tanya Albiano mencari-cari keberadaan Michelle dan Michael.
"Mereka masih memiliki urusan disini. Kau tahu sendiri kalau Michael dan Michelle sedang belajar mengurus bisnis Uncle dan Aunty." jawab Gion menatap adiknya.
"Btw, ada urusan apa kau datang kemari?" tanya Gion menganti topik pembicaraan mereka.
"Ah... aku ingin mengajakmu pergi ke Club nanti malam."jawab Albiano.
"Aku tidak mengijinkan mu pergi ke Club."
"Ayolah, Bang. Sekali ini saja. Aku ingin datang ke acara ulang tahun seseorang." pinta Albiano.
"Baiklah... hanya sekali ini saja." putus Gion melangkah masuk ke dalam hotel.
"Thank you, Brother."
"Apa kalian akan terus-menerus mengabaikan ku?" tanya George dengan muka masam.
"Apa kita sedekat itu untuk saling berinteraksi?" ketus Albiano mengejar langkah Gion.
"Hah... Amore... melihat sekilas wajah saudara kembarmu membuatku semakin merindukan mu."
"Amore... jika Tuhan mengijinkan manusia menikah dengan makhluk lain yang hidup di beda alam ataupun belahan dunia lain. Aku akan menunggu mu dan kelak akan menikahi mu."
"Aku tiba-tiba merasa kesepian sejak kepergian mu." lirihnya dengan muka sedih melangkah masuk ke dalam hotel.