IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 ~¶~



"Kau tidak akan bisa mengelak, Paskal." bisik Alexa di dekat telinga Paskal. Alexa melanjutkan kegiatannya menanggalkan pakaian Paskal.


"Hem...." gumam Paskal tanpa sadar.


Seluruh pakaian yang dikenakan Paskal sudah terlepas dari tubuhnya. Tubuh pemuda itu sudah tidak mengenakan sehelai benangpun. Hanya selimut kecil menutupi tubuh polosnya.


Alexa kemudian membaringkan tubuhnya disamping Paskal. "Rencana gue pasti berhasil." gumam Alexa menarik sebelah tangan Paskal.


Alexa mengatur posisi mereka seakan-akan Paskal yang mendekapnya.


"Ah... nyamannya...." gumam Alexa dengan pelan. Tak beberapa lama setelah berbaring di samping Paskal, Alexa memejamkan kedua matanya. Ia merasa kedua kelopak matanya tiba-tiba memberat.


Suasana di kamar itu tiba-tiba berubah menjadi hening. Hanya suara napas teratur dari sepasang manusia beda gender itu yang terdengar. Mereka tidur nyenyak mengarungi mimpi. Sementara orang-orang diluar sana masih sibuk dengan acara besar yang diadakan Greyson. Acara itu terus berlanjut hingga subuh.


Sementara di belahan bumi lain, seorang pria paruh baya sedang mengamuk di dalam kamarnya melihat pemberitaan media. "Sialan! ternyata selama ini aku merawat cucu mereka?"


"Ternyata Greyson diam-diam menculik Albiano dari Haykal. Dan juga Meyer dan Greyson ternyata sudah menjadi besan selama ini." seru pria itu mondar mandir kesana kemari.


Tak beberapa lama terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang. "Sayang.... mengapa kamu belum tidur jam segini?" tanya wanita setengah baya menghampiri pria itu.


"Tidak apa-apa, Sayang.... aku hanya belum ngantuk saja." ujar pria itu tersenyum hangat.


Wanita itu menarik tangan suaminya menuju tempat tidur. "Beristirahat lah! besok pagi, kan ada rapat." seru wanita itu penuh perhatian mengenggam lembut tangan suaminya.


Pria setengah baya itu menuruti perkataan istrinya. Ia langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Ayo berbaring juga di sampingku. Aku ingin tidur sembari memelukmu." ujar pria itu menatap istrinya.


Wanita itu tersenyum hangat menatap suaminya. Ia lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pria itu meletakkan kepala istrinya di atas lengannya.


#


#


Di Korea


Seorang pria terdiam lama menatap pemberitaan yang disiarkan di beberapa televisi internasional. Bukan pemberitaan itu yang membuat pria itu terdiam lama. Tapi, wajah seseorang yang selama ini Ia cari.


"Ternyata dunia hanya selebar daun kelor. Keberadaan Kakak tidak jauh-jauh dari aku." gumam pria itu tersenyum lebar. Ia senang melihat saudarinya baik-baik saja.


"Sial! jangan sampai musuh-musuh kami mengetahuinya." kata pria itu langsung menghubungi seseorang.


"Hallo! matikan semua pemberitaan mengenai pernikahan saudariku di negara asal kami. Jangan sampai ada yang mengetahui keberadaannya." kata pria itu dengan tegas.


[Baik, Tuan. Saya akan mematikan akses pemberitaan itu.] jawab seorang pria dari seberang sana.


Pria itu langsung mematikan panggilannya. Ia tersenyum hangat melihat kebahagiaan saudarinya.


"Ternyata Kakak sudah punya anak. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Kakak dan keponakanku." gumam pria itu dengan antusias.


"Aish. Aku lupa menghubungi Papa dan Mama." sambung pria itu lagi mengeluarkan ponselnya.


Tut


Tut


Tut


[Hallo] sahut seorang wanita dari seberang sana.


"Hallo.... nanny?" seru pria itu menyeritkan keningnya. Mengapa malah nanny yang mengangkat panggilan telepon darinya pikirnya.


[Ya, Tuan. Nyonya besar sedang tidak enak badan. Nyonya sedang beristirahat di atas tempat tidur.] terang seorang wanita dari seberang sana.


"Papa ada dimana? apa Papa sedang bekerja?" tanya pria itu lagi.


[Tuan besar sedang pergi ke markas memeriksa keadaan disana. Katanya ada mata-mata yang sudah masuk ke markas.] kata wanita itu menatap Mama pria itu. Wanita itu tersenyum kecil membalas tatapan wanita paruh baya itu. Nanny yang dimaksud pria itu merupakan pengasuhnya saat masih kecil dulu.


"Baiklah, Nanny. Saya akan segera pulang ke rumah. Saya mau memesan tiket keberangkatan. Jaga Mama baik-baik."ujar pria itu melangkah menuju lemari.


[Baik, Tuan. Hati-hati di jalan.] seru wanita itu merasa tidak enak. Ia merasa tidak enak karena sudah membohongi pria itu.


"Bagaimana? apa putraku benar-benar akan pulang?" tanya wanita setengah baya yang tadi tersenyum kecil kepadanya. Sang majikan hanya pura-pura sakit, agar putranya mau pulang. Kemaren putranya hanya berlibur beberapa hari di rumah, lalu pergi lagi. Dia dan suaminya memiliki sifat yang hampir sama. Hanya sibuk dengan bisnis dan bisnis yang sedang mereka bangun. Wanita itu merasa kesepian, apalagi mereka belum menemukan keberadaan putrinya.


...***Bersambung***...