IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Second



Setelah selesai makan, Theresia langsung menghubungi Stevi. Karena beberapa menit yang lalu, Theresia melihat panggilan tak terjawab dari Stevi.


[Hallo] sahut Stevi dari seberang sana.


"Apa kamu baru saja menghubungi ku?" tanya Theresia bertanya.


[Ya, kami sedang berada di Indonesia bersama keluarga yang lain. Jangan beritahu Alexa.] pesan Stevi.


"Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Theresia, karena tidak biasanya Stevi bersiap aneh seperti itu.


[Ya, Papa tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit setelah mendengar berita kehamilan Vania. Kedua orang tua Vania benar-benar kecewa mengetahui kenyataan itu. Vania berniat bunuh diri setelah mengetahui kehamilannya. Karena Ia tahu, kedua orangtuanya akan mengusirnya dari rumah, jika sampai hal itu terjadi.] kata Stevi dengan suara bergetar.


"Semuanya akan baik-baik saja. Jangan terlalu di pikirkan. Setiap orang pernah berbuah salah dan melakukan kesalahan. Kehamilan Vania merupakan sebuah anugrah yang dititipkan Tuhan kepadanya. Kita harus mendukungnya." ujar Theresia. Ia tahu bagaimana rasanya menanti seorang bayi setelah bertahun-tahun menikah.


[Ya, kamu benar. Aku tutup dulu teleponnya. Aku mau menemui kakak dan suaminya.] ujar Stevi langsung mematikan sambungan telepon dari Theresia.


Tak beberapa lama terdengar suara tawa dari ruang tamu. Theresia melihat putra dan menantunya terlihat bahagia sedang mengobrol dengan seseorang di ponsel genggamannya.


"Benarkah? aku tidak menyangka jika saudara kembarku memiliki benih premium." celetuk Alexa tiba-tiba membuat pipi Sherina berubah merah merona.


"Selamat kakak ipar. Akhirnya keponakan ku akan bertambah satu lagi. Aku cukup senang mendengar kehamilan mu. Aku sudah tidak sabar melihat mereka lahir dengan sehat dan sempurna. Aku juga berharap bayiku lahir dalam keadaan yang sama." ujar Alexa sedikit murung.


[Keturunan Douglas memiliki gen yang cukup kuat. Aku yakin bayimu akan terlihat lebih mirip dengan mu.] sela Stevenson tiba-tiba memperlihatkan wajah tampannya.


Senyum Alexa langsung terbit lagi mendengar perkataan saudara kembarnya.


Mereka mengobrol hingga jam 10 malam. Alexa dan Paskal saling menatap setelah sambung telepon itu berakhir.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu?" tanya Alexa tersenyum tipis.


"Enggak apa-apa. Apa kamu belum mengantuk?" tanya Paskal mengelus kepala istrinya.


"Belum. Aku belum mengantuk sama sekali."jawab Alexa.


"Ya udah, sini berbaring dan letakkan kepalamu di atas paha ku. Kita menonton film action bersama." ujar Paskal melipat kedua menurunkan kedua kakinya.


"Aku mau ke kamar." kata Alexa tiba-tiba berdiri dari duduknya.


"Katanya belum ngantuk."


Paskal mengikuti langkah istrinya ke kamar. Sementara Theresia tersenyum hangat melihat hubungan putra dan menantunya baik-baik saja. Ia berharap hubungan mereka akan terus seperti itu. Theresia melangkah menuju kamarnya, ia juga sangat rindu ingin melihat wajah suaminya. Meskipun hanya sebatas video call.


#


#


Di Kamar Alexa dan Paskal


Alexa langsung melangkah menuju lemari pakaian dan mencari lingerie seksi berwarna merah. Entah apa maksud dan tujuannya mengenakan pakaian itu di depan Paskal.


Sementara Paskal masih asik membaca chat dari grup kelompoknya. Karena sebelum kembali tadi dari perpustakaan, masih ada tugas yang harus diselesaikan oleh Paskal.


"Sayang.... coba kamu lihat ke arahku."ujar Alexa tersenyum senang melihat pakaian yang dikenakannya.


Paskal langsung mengalihkan pandangannya menatap kearah istrinya. Kedua mata Paskal tiba-tiba membesar melihat pakaian yang dikenakan istrinya.


"Say-sayang.... apa kamu berniat menggoda ku? aku juga pria normal sayang...." ujar Paskal dengan suara lirih. Jangkung pria itu terlihat naik turun.


"Karena aku mau. Dedek bayinya minta." ujar Alexa melangkah mendekat ke arah tempat tidur.


Paskal langsung tersenyum lebar mendengar perkataan istrinya. "Akhirnya setelah dua bulan berlalu...." gumam Paskal dengan senang hati menuruti keinginan istrinya.


Paskal langsung beranjak dari tempat tidur dan membopong tubuh istrinya ke atas ranjang. Suara pekikan Alexa terdengar cukup menggema mengisi suara sunyi di kamar itu.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Paskal


Alexa menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan suaminya.


"Sering-seringlah minta keinginan ini kepada Mama, Princess. Papa dengan senang hati menurutinya."


"Princess? apa kamu mengharapkan anak perempuan?" tanya Alexa.


Paskal tersenyum lebar mendengar pertanyaan istrinya. "Tentu saja. Kami memiliki ikatan batin yang saling terikat."


...***Bersambung***...