
"Alexa ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku melakukan semua ini. Kare-karena aku juga sudah berpisah lama dengan Stevenson sekitar lima tahun lamanya." lirih Sherin meneteskan air mata.
"Apa kau menyakitinya?" tanya Alexa menatap tajam ke arah Stevenson.
"Keluarlah! ini urusan kami berdua. Berikan kami waktu untuk berbicara!" tegas Stevenson menatap mata sembab istrinya.
"Baiklah...."
"Aku juga belum terlalu dewasa untuk paham dengan hubungan rumit kalian." pasrah Alexa keluar dari kamar saudara kembarnya.
#
#
"Apa kau lupa dengan apa yang aku katakan lima tahun lalu?"
"Perkataan yang aku katakan di malam pernikahan kita?" sambung Stevenson menatap tajam kearah istrinya.
"Cih...."
"Apa semudah itu mengucapkan kata perceraian?" ujarnya lagi sembari berdiri dari duduknya.
Sementara Sherina terdiam dan tak bergeming sama sekali mendengar perkataan suaminya. Ia sedari tadi masih sibuk dengan tangisnya. Dadanya ikut sesak mendengar kata spontan yang keluar dari mulutnya. Sherina tidak mungkin sanggup melepaskan pria yang selama ini dirindukannya.
Sherina menghapus air matanya. Ia lalu membalikkan tubuhnya menatap suaminya.
"Mengapa kau tidak pernah menemui ku Ney?"
"Apa kau tahu.... Aku sangat merindukanmu. Aku selalu menunggumu datang menjemput ku dan putra kita." lirih Sherin.
"Apa karena...." Sherina tidak mampu melanjutkan ucapannya saat mengingat mereka pernah kehilangan salah satu bayi mereka. Ia merasa sesak mengingat kejadian lima tahun lalu.
"Apa karena aku tidak bisa menjaga salah satu dari mereka, kau meninggalkanku?" ujar Sherina sesenggukan.
"Aku juga tidak mengharap hal itu terjadi. Aku mencintai bayi kita. Okey aku salah. Aku terlalu emosi dan cemburu melihat pesan masuk ke ponselku. Aku tiba-tiba tidak bisa mengontrol emosiku yang mengakibatkan aku pendarahan dan kehilangan salah satu bayi kita. Apa hanya karena itu?"
"Apa hanya karena itu?" ulang Sherina lagi.
"Apa hanya sekecil ini perasaan cintamu padaku? dan pada putra kita?" lirih Sherin.
"Hahaha...." Sherina tertawa hampar melihat diamnya Stevenson dengan ekspresi dinginnya.
"Ternyata aku yang terlalu bermimpi tinggi bisa dicintai pria terhormat seperti Anda Tuan Lorens." ujar Sherina penuh penekanan menatap tajam ke arah Stevenson.
"Dan...."
"Terima kasih...." lirih Sherin menghapus jejak air matanya.
"Terima kasih sudah menitipkan satu bagian dari dirimu di hidupku." sambung Sherina.
Langkah Sherin terhenti saat berniat melangkah keluar dari kamar suaminya. Stevenson tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya dan mencengkram kuat pergelangan tangannya.
"Apa kau sudah selesai mengeluarkan unek-unek mu?" tanya Neymar.
"Ney.... Ini sakit!" teriak Sherin berusaha melepaskan cengkraman tangan suaminya.
Stevenson menghiraukan teriakan istrinya. Pria itu mengangkat tubuh istrinya lalu membaringkannya di atas ranjang.
"Kau mau apa Ney!" teriak Sherin menahan langkah suaminya.
"Menurutmu apa yang akan terjadi jika pasangan suami istri dipertemukan kembali setelah bertahun-tahun tidak bertemu?" tanya Stevenson menyeringai menata wajah merah merona Istrinya.
"Ka--kau tidak bisa melakukannya Ney!!" bentak Sherin mendengus kesal.
"Emangnya apa yang akan aku lakukan?" tanya Stevenson memincingkan matanya menatap aneh ekpresi ketakutan sekaligus kekhawatiran di wajah istrinya.
Sherina terdiam mendengar pertanyaan suaminya. Ia malu sendiri dengan pikiran mesumnya.
Stevenson lalu membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Pria itu menarik tubuh ramping istrinya lalu mendekapnya erat.
"Aku selalu memantau kalian dari kejauhan. Papa juga setiap bulan mengirim foto-foto kamu dan putra kita. Selama kamu di California...."
"Aku juga mengikuti mu." bisik Stevenson di telinga istrinya.
"Apa!!" teriak Sherin mengangkat kepalanya menatap kedua mata suaminya. Hanya ada sorotan kejujuran di kedua bola mata itu. Sherina tidak percaya semua ini karena ulah papanya.
"Berarti Papa melarang ku menemui Neymar karena Ia yang meminta Neymar untuk pergi." monolognya dalam hati.
"Apa pria itu juga tahu apa yang aku lakukan sewaktu di Club?" lanjut Sherin dalam hati.
"Cih.... Kalau Ia melihat tingkahku, pasti Neymar akan berpikir yang tidak-tidak tentang ku. Ia pasti berpikir aku istri penggoda yang berani menggoda pria lain di belakangnya." sambungnya tiba-tiba menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
......***Bersambung***......