
Keesokan harinya
Arabella cepat-cepat beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap-siap berangkat bekerja. Entah mengapa hari ini Arabella harus bangun kesiangan hingga ia melupakan tugasnya membangunkan Gion untuk bersiap-siap mengikuti meeting pagi ini. Belum lagi Arabella harus menyiapkan sarapan pagi untuk atasannya. Tentu saja akan memakan waktu yang lama.
30 Menit kemudian, Arabella tiba di hotel royal. Ia juga menenteng tas kresek di tangan kanannya.
Saat masuk ke dalam kamar Gion. Arabella tanpa sengaja melihat pemandangan yang menodai mata sucinya. Ternyata Gion sudah bangun dan baru selesai mandi. Hanya selembar handuk yang membungkus setengah tubuhnya.
"Astaga! Mata suci ku..." lirih Arabella dengan cepat membalikkan tubuhnya.
"Cih! Tidak usah bertingkah sok polos! Aku tahu kau sudah biasa melihat pemain seperti ini." ketus Gion mengacuhkan keberadaan Arabella.
Gion lalu menanggalkan handuk yang membungkus tubuhnya dan mengenakan pakaian dalamnya.
"Ambilkan jas yang akan ku kenakan hari ini." kata Gion sembari mengancingkan kancing kemejanya.
Untuk menghalangi mata sucinya dari pemandangan yang tidak diinginkan. Arabella berjalan sembari menutup kedua matanya. Ia berjalan seperti seorang gadis buta yang membuat Gion yang melihatnya sedikit kesal.
"Cepatlah! Apa kau tahu aku sangat menghargai waktu! Karena waktu adalah uang untukku! setiap detiknya aku bisa menghasilkan uang ratusan ribu dolar! Jadi, jangan coba-coba membuang-buang waktuku!" ujar Gion berdecak kesal melihat tingkat Arabella.
"Ayo Ara! Anggap saja pria itu sudah memakai celana." cicit Amore menghela nafas berat.
Amore lalu mengambil jas, dasi dan celana yang cocok dengan warna kemeja biru yang dikenakan Gion.
"Ini, Tuan." kata Arabella mengulurkan tangannya kearah Gion. Sementara Arabella memalingkan wajahnya kesamping tanpa menatap lawan bicaranya. Ia benar-benar grogi berada dalam posisi sedekat itu dengan atasannya. Apa lagi atasannya belum mengenakan celananya. Ia sangat yakin dibawah sana pasti terdapat pemandangan yang akan merusak otak sucinya.
"Sangat tidak sopan! Biasakan jika sedang berbicara dengan orang lain. Kau harus menatap wajah lawan bicaramu!" ujar Gion mengenakan celananya.
Lagi-lagi Arabella harus menggerutu dalam hati.
"Terkadang aku harus bertindak seperti seorang istri yang membantu suaminya bersiap berangkat kerja di pagi hari."
Bibir merah mudanya terlihat cemberut dan monyong ke depan hingga membuat wajahnya terlihat lucu dan menggemaskan.
Gion tentu saja tertegun melihat ekspresi tak biasa gadis itu. Apa lagi jarak antara mereka sangat dekat.
Lagi-lagi Gion merasa ada yang aneh dengan jantungnya.
"Mengapa kesehatan jantungku semakin memburuk saat berdekatan dengan gadis ini." gerutu Gion dalam hati mendengus kasar.
Sama halnya dengan Arabella. Ia juga merasa pipinya terasa panas saat berdiri dengan jarak dekat seperti itu.
"Sudah Tuan. Saya akan menyiapkan sarapan untuk Anda." ujar Arabella dengan cepat melangkah ke meja makan. Ia membuka tas kresek yang tadi dibawanya dan mengeluarkan beberapa jenis makanan.
"Apa kau membelinya?" tanya Gion melihat sarapan pagi yang disajikan oleh sekertaris nya.
"Ya." jawab singkat Arabella.
"Sarapan lah bersama ku! Aku tidak mungkin bisa menghabiskan makanan sebanyak ini." ujar Gion duduk di kursi dan menyantap sarapannya.
Arabella sangat ingin menolak permintaan atasannya itu. Namun, melihat wajah datar Gion, Arabella tidak berani membantah permintaan pria itu.
Mereka lalu sarapan dalam keheningan.