
15 Tahun kemudian
"Albiano!"
"Albiano!"
Gion berulangkali memanggil Albiano yang sedari tadi sibuk dengan kegiatannya. Pria itu sedang melakukan uji coba hasil penelitiannya di laboratorium klan king.
"Kenapa sih, bang." jawab Albiano tanpa mengalihkan pandangannya dari hasil penelitiannya.
"Apa kau melihat Xaviera? sudah dari dua hari yang lalu aku tidak melihatnya." keluh Gion menghawatirkan sang adik. Meskipun mereka tidak bisa menikmati hari-hari mereka bersama seperti saudara kembar pada umumnya. Namun, Gionino menganggap Xaviera sebagai manusia nyata yang perlu juga di jaga.
"Jangan khawatir... paling Xaviera sedang membuntuti pujaan hatinya."jawab Albiano.
"Siapa? pria playboy itu!" tanya Gion dengan darah mendidih.
"Siapa lagi kalau bukan si kadal." celetuk Albiano tanpa sadar.
Gion langsung keluar dari laboratorium klan king memastikan perkataan saudaranya.
Disisi lain
Xaviera tersenyum tipis melihat seorang pemuda sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pemuda itu terlihat sedang mengenakan jas putih di tubuhnya sembari menatap sebuah berkas berisi data seorang pasien.
Dokter muda.
Dua kalimat yang tertulis di jas pemuda itu.
"Dr. George. Seorang pasien wanita muda mencari Anda." tukas seorang suster muda kepada pemuda itu.
"Cih! Aku wanita itu berniat menggoda mu? Aku yakin kau juga pasti senang digoda oleh wanita cantik sepertinya." sindir Xaviera mencebikkan bibirnya.
George tersenyum kecil mendengar perkataan Xaviera.
"Apa kau cemburu?" tanya George mengalihkan pandangannya menatap wajah pucat Xaviera.
"Cih! cemburu! aku sama sekali tidak cemburu! karena.... karena..." Xaviera tiba-tiba terdiam dan tidak mood melanjutkan ucapannya.
"Karena apa?" tanya George penasaran dengan perkataan selanjutnya yang akan diucapkan Xaviera.
"Intinya aku tidak cemburu." tegas Xaviera dengan wajah merah.
"Benarkah? Kalau begitu aku mau memeriksa keadaan pasien yang berada dibawah tanggung jawab ku." ujar George keluar dari ruangannya.
"Kita tidak mungkin bisa bersama George. Karena kita hidup di dua alam yang berbeda." lirih Xaviera dengan mata berkaca-kaca.
Gadis itu tiba-tiba menghilang entah kemana.
Cklek
George kembali masuk ke dalam ruang kerjanya. Namun, pemuda itu tidak lagi melihat keberadaan Xaviera.
"Xaviera! Apa kamu sedang merajuk?" panggil George mengitari ruangannya. Namun, pemuda itu tak kunjung menemukan keberadaan Xaviera.
"Apa dia sudah pergi, ya?" gumam George dengan wajah kesal.
"Cih! kalau cemburu bilang cemburu kek. Ini malah pura-pura enggak cemburu." dengus George keluar dari ruangannya.
Disisi lain
Gion melangkah masuk ke dalam rumah sakit mencari keberadaan George. Saat ingin melangkah masuk ke dalam lift, tanpa sengaja Gion menabrak seorang wanita muda.
"Cih! kalau jalan hati-hati dong!" gerutu Gion menatap tajam gadis itu. Sementara gadis itu masih menundukkan dan tidak mengindahkan perkataan Gion.
"Hey! Apa kau tuli!" Gion merasa darahnya semakin mendidih melihat gadis itu tidak mengindahkan perkataannya.
Gadis itu tiba-tiba menatap Gion dengan mata berkaca-kaca.
"Bisakah Anda membantu saya, Tuan?" tanya gadis itu penuh harapan.
Saat ingin mengabaikan pertanyaan gadis itu, wajah Xaviera tiba-tiba melintas di ingatan Gion.
"Kita hanyalah orang asing. Kira-kira bantuan seperti apa yang kau inginkan dariku?" tanya Gion penasaran.
"Tolong bantu saya melunasi tagihan rumah sakit adik saya. Saya baru saja lulus kuliah. Saya juga belum mendapatkan pekerjaan sampai sekarang. Adik saya sedang kritis dan harus dioperasi secepatnya untuk menyelamatkan nyawanya."
"Berapa yang kau butuhkan?" tanya Gion.
"1 Miliar. Saya tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membayar tagihan rumah sakit."
Biaya tagihan operasi adik gadis itu tidaklah main-main. Karena rumah sakit yang ditempati adiknya merupakan rumah sakit ternama di kota itu.
"What!"
"1 Miliar?"