IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Di California



"Sayang.... jangan berpikir yang tidak-tidak. Anak ini adalah cucu kita." jelas Greyson.


"Aku tidak mungkin mengkhianati cinta dan pernikahan kita." sambung Greyson menyakinkan istrinya.


"Apa?"


Stevi benar-benar terkejut mendengar penuturan suaminya. Karena Greyson belum memberitahunya kalau keluarga kecil Steven sudah tidak.


"Bi! Bibi!" teriak Stevi memanggil beberapa orang pelayan.


"I-iya, Nyonya muda." sahut empat orang pelayan tergesa-gesa melangkah ke dapur.


"Tolong bantu saya menyelesaikan semua ini." pinta Stevi melangkah mendekati suaminya.


"Buatkan jus dari buah yang ada di kulkas dan bawa ke ruangan tamu." sambung Stevi.


Stevi menghentikan langkahnya ketika melewati stoples kukis yang sudah matang. Dia lalu membawa toples itu kearah suaminya.


"Sayang lebih baik kita ke ruangan tamu, supaya lebih nyaman kalau mau mengobrol." ujar Stevi sudah berdiri di depan suaminya.


"Baiklah...." ujar Greyson melangkah sejajar dengan istrinya menuju ruangan tamu keluarga.


Sementara pandangan Albiano tidak lepas-lepas dari toples kukis yang dibawa Stevi. Ia sedari tadi memandang penuh minat kearah toples itu.


Di ruang tamu


Greyson mendudukkan bokongnya di atas sofa, sementara Albiano berada di atas pangkuannya. Stevi meletakkan stoples kukis itu di atas meja, sembari menunggu jus buatan pelayan.


Greyson mengalihkan pandangannya kearah pandangan cucunya. Ia tersenyum tipis melihat apa yang sedari tadi menjadi objek perhatian cucunya.


"Apa kamu mau mencobanya? kukis buatan Oma sebenarnya sangat enak." tawar Greyson sekaligus memuji sang istri.


Albi menganggukkan kepalanya mendengar tawaran Greyson. Meskipun sebenarnya anak kecil itu gengsi mengakuinya.


Stevi tersenyum hangat melihat anggukan Albiano.


"Sayang.... tolong di lap dulu tangan cucu kita pakai tisu basah yang ada di atas meja." pinta Stevi.


Stevi lalu membuka penutup toples tersebut dan mengulurkan sepotong kukis ke tangan sang cucu. Albi tersenyum kecil menerima kukis dari sang Oma.


"Nama kamu siapa, sayang?" tanya Stevi tersenyum hangat.


Albiano menghentikan kunyahan-nya ketika mendengar pertanyaan Stevi. Ia menatap lama wajah wanita setengah baya itu.


"Panggil Oma saja." pinta Stevi tersenyum hangat.


"Apa Daddy dan Mommy dari cucu kita juga sudah tiba?" tanya Stevi menatap sang suami.


"Sudah sayang.... sedari tadi." jawab Greyson, ikut mengambil kukis yang ada di toples berbahan kaca tersebut.


"Bagaimana dengan Stevenson dan Sherina? apa mereka juga sudah tiba?" tanya Stevi, Ia cukup penasaran.


"Belum." jawab Greyson singkat.


Tak beberapa lama seorang pelayan membawa segelas jus mangga. Ia lalu meletakkan jus tersebut di depan Greyson dan Albiano.


"Itu untuk kamu sayang. Oma tahu kamu pasti haus kan? minumlah." ucap Stevi tersenyum hangat menatap wajah polos Albiano. Stevi cukup peka dengan sifat gengsi sang cucu. Karena sifat tersebut, seperti duplikat dari sifat sang putra.


#


#


Di California


Sherina dan Stevenson melanjutkan perjalanan mereka, menuju apartemen yang ditinggali Stevenson selama tinggal di California. Gion merasa nyaman tidur di dekapan sang Daddy.


Sejak kepulangan Stevenson dan Sherina ke mansion Lendsky. Gion tidak mau berjauhan dengan Stevenson, namun tidak dengan Sherina. Gion terlihat biasa-biasa saja ketika tidak melihat Sherina.


"Sayang...."


"Aku mau mengubur kembaran putra kita di mansion bawah tanah. Disana sudah ada halaman asri yang cukup luas. Walaupun sebenarnya, aku tidak ingin jauh darinya." ucap Stevenson cukup ragu dengan keputusannya.


"Biarkan bayi kita tenang di alamnya. Mungkin bayi kita belum siap menjalani hari-harinya di dunia fana ini."kata Sherina. Ia sudah mulai merelakan apa yang sudah terjadi dimasa lalu.


"Mari kita mulai semuanya dari awal. Aku ingin keluarga kecil kita bahagia kedepannya. Semoga hubungan pernikahan dan cinta ini, selalu menguatkan hati kita. Ketika kerikil-kerikil kecil tajam berusaha menghancurkannya." sambung Sherina mengenggam tangan suaminya.


Setetes air mata terjatuh dari sudut matanya. Ada sedikit terselip perasaan takut di hati Sherina. Ia takut Stevenson akan meninggalkan mereka lagi.


"Layaknya bunga mawar putih.... hanya ada kesetiaan." timpal Stevenson. Ia tersenyum hangat menatap istrinya.


"Mulai dari sekarang, aku tidak akan membiarkan mu menangis lagi. Aku tidak akan membiarkan air mata ini terjatuh lagi. Karena sekarang tugasku adalah tidak membiarkan air matamu jatuh setetes pun dari tempatnya. Aku berharap air mata ini jatuh karena satu alasan, yaitu kebahagiaan." sambung Stevenson mengelus lembut pipi Sherina.


...***Bersambung***...