
"Aku akan memberikan waktu selama 2 jam kepadamu untuk berpikir, hukuman apa yang akan kau berikan kepada putraku. Jika hukuman yang kau berikan cukup memuaskan hatiku. Aku akan membebaskan putraku dari hukumannya." ucap Greyson tersenyum kecil.
Rain akhirnya bisa bernapas lega melihat senyum kecil di bibir tipis sang Tuan. Dan hanya Rain seorang, yang bisa melihat senyuman itu.
"Berdirilah. Aku tidak menyukai menantu yang bersikap lemah seperti ini." tambah Greyson sebelum keluar dari ruangan itu.
"Rain!"
"Iya, Tuan." sahut Rain mendekati Greyson.
"Apa kau tahu, apa yang harus kau lakukan?" tanya Greyson menatap hacker kepercayaannya.
"Tahu, Tuan." sahut Rain.
"Baiklah. Aku mau menunggu tamu ku istimewa di ruangan tamu. Kedatangan mereka mungkin akan membuat perasaan hatiku menjadi sedikit lebih baik." ucap Greyson meninggalkan ruangan itu.
Sementara di sisi lain
Steven terbangun dari pingsannya, setelah berjam-jam dibius.
"Argh!"
Steven meringis kecil membuka kedua matanya. Dahi pria itu berkerut saat merasa ada yang menghalangi penglihatannya. Bukan hanya itu, Ia juga merasa kepalanya sedikit pening dan berkunang-kunang.
Steven semakin curiga, saat merasa tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan. Ia merasa tubuhnya diikat dan digantung.
"Cih ini pasti kerja Daddy." kesal Steven berusaha melepaskan ikatan kuat ditangannya. Namun rekaman suara familiar seseorang menghentikan gerakannya.
"Livia...." lirih Steven mendengarkan obrolan ayahnya dan istrinya dari rekaman suara yang sudah Jack speaker-kan.
"Ma-maafkan aku Livia...."
Steven merasa bersalah mendengar ungkapan isi hati istrinya.
"Dulu--"
"Sikapku belum terlalu dewasa. Maafkan aku Livia...." lirih Steven. Air mata meluruh membasahi kedua kelopak matanya.
Sementara Jack malah terkejut sekaligus tertegun mendengar ucapan Steven. Pria itu juga terdengar terisak pelan.
"Kemana Steven arogan dulu? kemana pria pendendam dulu? dan kemana pria angkuh dulu?" batin Jack bertanya-tanya.
"Sekuat inikah kekuatan cinta dari wanita itu, sehingga membuat Tuan Muda berubah 180°."
Namun jeritan Steven mengalihkan dunia Jack dari pikirannya.
"Argh!!"
"Dad! cukup main-mainnya!"
"Stev, mau bertemu dengan istri, Stev!" teriak Steven sekuat tenaga.
"Uncle J! Stev tahu, kalau uncle berada disekitar Stev. Tolong lepaskan ikatan ini." pinta Steven mengayun-ayunkan tubuhnya.
Jack tidak mengindahkan permintaan Steven, karena Ia sudah berjanji kepada Greyson. Ia tidak akan melepaskan ikatan tersebut, sebelum putra Tuannya sadar akan perbuatannya. Apa lagi ruangan itu sudah disadap oleh Greyson.
"Dad, Maafkan Stev. Bukankah Daddy juga pernah berbuat kesalahan?" tanya Steven dengan suara serak.
Steven sudah tidak sabar bertemu dengan istrinya, lalu memeluknya. Ia ingin meminta maaf dan mengajak Livia mengulang segalanya dari awal. Melupakan masa lalu, dan membangun keluarga kecil bersama.
"Apa karena Daddy berbuat kesalahan, jadi kau juga mengikuti jejak Daddy berbuat kesalahan?" tanya Greyson dari sambungan Intercom-nya. Ia tersenyum hangat menatap kegiatan istrinya.
"Bolehkah sekali ini Daddy memaafkan kelakuan Stev? dulu Stev lagi khilaf, Dad." sesal Steven.
"Daddy juga pernah khilaf. Tidur dengan wanita lain mungkin." sambung Steven tiba-tiba membuat tubuh pria itu menegang.
Ia tersenyum manis melihat pandangan istrinya mengarah kearahnya. Pria setengah baya itu cukup lega, Stevi tidak mendengar perkataan putranya.
"Itu hanya kekhilafan di masa lalu. Lagian aku tidak pernah tidur dengan wanita lain, kecuali dengan istriku." gumamnya dalam hati.
...***Bersambung***...