IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Niat Steven



"Tunggulah sebentar. Grandma akan menyajikan masakan Grandma di atas meja. Mari kita makan bersama-sama." ujar wanita itu mengelus kepala cucunya.


"Baiklah Grandma." ujar Albi menuruti perkataan wanita itu. Anak kecil itu melangkah menuju tempat duduk Haykal.


"Papi...."


"Albi sangat merindukan Mommy." ujarnya tiba-tiba memeluk kaki panjang Haykal.


Semua yang ada di ruangan itu cukup terkejut mendengar perkataan Albiano. Mereka saling menatap satu sama lain.


"Besok kita akan menemui Mommy di rumah sakit." ujar Haykal membujuk putranya.


"Benarkah?" tanya Albi menyakinkan pendengarannya.


"Tentu. Bukankah sebentar lagi kita akan keluar jalan-jalan. Kita akan membeli oleh-oleh untuk Mommy." ujar Haykal mengangkat tubuh putranya. Ia mendudukkan Albi di pangkuannya.


Kedua orangtuanya tersenyum hangat menatap obrolan ayah dan anak itu.


"Apa kau tidak berniat memiliki pasangan dan segera menikah?" cetus Ayahnya tiba-tiba.


Mata Haykal melotot mendengar perkataan ayahnya.


"Albi masih disini Yah. Haykal masih ingin hidup bebas dan menikmati masa muda Haykal." ujarnya menatap malas kearah pria paruh baya itu.


Kedua orangtuanya mengangguk-anggukkan kepala mereka mendengar perkataan Haykal.


"Mari kita makan. Bicara banyak juga membutuhkan asupan makanan bergizi untuk menambah stamina dan tenaga."cetus ibu Haykal memotong obrolan mereka.


Mereka makan tanpa mengobrol sama sekali. Dengan telaten Haykal menyuapkan makanan itu ke mulutnya dan putranya secara bergantian.


#


#


Sementara di Spanyol


Steven melangkahkan kakinya menuju rumah sakit untuk menemui seseorang. Pria itu bangun pagi-pagi sekali agar Ia memiliki banyak waktu untuk melakukan rencananya.


"Tuan muda berhati-hatilah." bisik white lion


Steven melewati lorong-lorong rumah sakit yang cukup sepi, mungkin karena hari masih pagi.


Sementara seorang wanita sedang tidur meringkuk di atas ranjang rumah sakit. Setiap malam mimpi buruk itu akan hadir menghantui pikiran dan ingatanya. Ia tidak tahu apakah bayangan itu halusinasi atau memang bagian dari ingatan kecilnya.


Cklek


Tak beberapa lama pintu ruang itu dibuka oleh seseorang.


"Tuan muda masuklah...."


"Saya sudah menyebarkan sihir halusinasi untuk para petugas."


Singa putih itu mendudukkan tubuhnya di depan pintu sembari memperhatikan keadaan sekitar.


Sementara Steven dengan cepat melangkah masuk ke kamar rawat. Ia melangkah mendekati ranjang seorang wanita. Steven terdiam lama menatap tubuh meringkuk wanita itu.


"Livia...." monolognya pelan


Wanita itu terdiam beberapa detik saat mendengar suara yang tidak asing di pendengarannya. Ia lalu membalikkan tubuhnya mengikuti asal suara itu.


Ia menatap lama pria yang berdiri di depannya, hingga....


"Apa kau mengenalku?" tanya wanita itu menahan rasa takutnya.


Steven bingung dengan pertanyaan polos wanita itu. Ia maklum melihat wajah ketakutan wanita itu, namun mengapa wanita itu tidak mengenalnya? Steven bertanya-tanya dalam hati dan pikirannya, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan wanita itu.


"Iya...."


"Aku adalah suamimu. Aku datang kemari berniat membawamu pergi dari sini." ujar Steven tanpa sadar. Sebenarnya pria itu hanya berniat mencari tahu kondisi wanita itu. Namun apa yang dia lihat membuat perasaan aneh tiba-tiba muncul di hatinya.


"Benarkah? aku tidak akan di kurung di ruangan ini lagi?" tanyanya mendudukkan tubuhnya. Ia menatap Steven penuh harapan.


Deg


Steven terkejut melihat tatapan itu. Ia pernah melihat tatapan itu sebelum pindah kuliah ke Inggris. Steven berusaha menormalkan rasa aneh yang muncul di hati dan pikirannya.


"Kemari-lah...."


"Ikut bersamaku." ujar Steven mengulurkan tangannya kearah wanita itu.


Wanita itu dengan cepat turun dari ranjang dan melangkah kearah Steven. Bukannya membalas uluran tangan Steven. Wanita itu malah memeluk tubuh Steven dengan erat.


......***Bersambung***......