
Setengah jam kemudian, Alexa mulai mengantuk. Entah mengapa matanya tiba-tiba terasa berat dan ingin segera tidur.
Paskal mengalihkan pandangannya menatap Alexa saat mendengar suara menguap Alexa.
"Apa kamu sudah ngantuk?" tanya Paskal mengelus rambut panjang istrinya.
"Hem.... kedua kelopak mata ku tiba-tiba terasa berat. Aku ingin segera tidur." gumam Alexa meletakkan kepalanya di bahu suaminya.
"Mari kita pulang. Kamu bisa tidur di mobil." seru Paskal mengelus pipi putih istrinya.
Alexa langsung membuka kedua matanya, dalam keadaan mengantuk Alexa melangkah menuju parkiran sembari mengenggam tangan suaminya.
Setibanya di dalam mobil, Alexa langsung memejamkan kedua matanya.
Setibanya di parkiran apartemen yang mereka tempati, Paskal langsung mengendong Alexa menuju apartemen mereka. Ia membaringkan tubuh Alexa di atas tempat tidur. Paskal memberanikan diri mengelap tubuh istrinya dengan air hangat, agar tidak bau keringat.
Disisi lain
"Aku mendengar Alexa sudah kembali ke California. Dia juga ternyata sudah memiliki seorang suami. Apa kau sudah mendengar berita ini?" tanya Davin kepada Sherina.
"Ya, adik ipar ku sudah menikah dengan pria pilihannya." jawab Sherina tanpa dosa.
"Ad-adik ipar? apa kau sedang bergurau?" tanya Davin memastikan pendengarannya.
"Tidak, Alexa memang adik iparku. Saudara kembarnya merupakan suamiku." jawab Sherina jujur.
"Dasar sialan! kalian menyembunyikannya kebenaran ini dariku?" ketus Davin cukup kesal.
"Saat kalian menikah juga tidak mengundang ataupun mengabari aku." timpal Davin menatap Sherina dengan sinis.
"Apa kau tidak takut pacarmu cemburu kalau kau tetap bertingkat posesif kepada kami." kata Sherina menghentikan kunyahan-nya.
"Apa kau cemburu sayang?" tanya Davin kepada kekasihnya.
Wanita itu hanya tersenyum tipis menyahuti pertanyaan Davin.
"Tidak, aku masih ingin melajang sampai aku bosan." kata Davin menghamburkan napasnya.
"Awas pacarmu yang bosan dengan ketidakpastian yang kau berikan." ujar Sherina menakut-nakuti Davin.
"Jika dia jodohku dan mencintaiku dengan tulus. Dia pasti akan mendukung keputusanku."kata Davin menatap kekasihnya.
"Semoga kalian berjodoh dan segera mengikuti jejak kami. Apa lagi Alexa sebentar lagi akan memiliki seorang bayi mungil. Apa kau ingin memiliki bayi juga?"seru Sherina tiba-tiba membuat Davin terdiam.
"Bagaimana dengan mu? apa kau juga tidak ingin memiliki anak dengan suamimu?" tanya Davin belum tahu kalau Sherina sudah memiliki anak sebesar Gionino.
Sherina tiba-tiba tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Davin. "Hah... ternyata aku belum mengungkapkan sesuatu kepadamu." ujar Sherina menatap sahabatnya itu.
"Aku sudah memiliki seorang putra berusia 5 tahun, dan putraku tinggal bersama mertuaku" timpal Sherina melihat suaminya dari kejauhan sudah melangkah kearah meja mereka.
"Aku akan memperkenalkan suamiku padamu." ujar Sherina lagi berdiri dari duduknya.
"Ney." panggil Sherina melingkarkan tangannya di lengan suaminya.
"Ini sahabat ku dan Alexa, namanya Davin." seru Sherina tersenyum bahagia memperkenalkan suami dan sahabatnya.
"Stevenson." ujar Stevenson mengulurkan tangannya menyalami Davin.
Davin langsung saja menerima uluran tangan Stevenson.
"Davin." singkat Davin tersenyum canggung.
"Dan ini kekasih Davin, namanya Shilla." kata Sherina memperkenalkan kekasih Davin.
"Stevenson." kata Stevenson tanpa menyalami wanita itu. Ia ingin menjaga perasaan istrinya. Dan memang ada sedikit perasaan canggung dihatinya, ketika bersentuhan dengan wanita lain.
Stevenson langsung duduk di sebelah istrinya dan makan siang bersama. Ditengah aktivitas makan siang mereka. Davin tiba-tiba mengatakan sesuatu hal yang membuat Sherina dan Stevenson langsung terdiam.
...***Bersambung***...